Warga, Tolak Pabrik Sawit Ditutup

Foto : Kades Talang Empat, Taheran

KARANG TINGGI, Bengkulu Ekspress – Polemik tentang keberadaan pabrik pengolah CPO PT Palma Mas Sejati (PMS) di Desa Talang Empat, Kecamatan Karang Tinggi, Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) terus bergulir. Ternyata, tak semua warga Desa Talang Empat mendukung aksi protes yang disampaikan oleh warga yang mengatasnamakan Forum Peduli Lingkungan Masyarakat Desa Talang Empat beberapa waktu lalu. Bahkan, jumlah warga yang pro atau mendukung PT PMS cukup besar. Hal ini dikarenakan ada ratusan warga yang menggantungkan hidupnya dari perusahaan tersebut.

“Yang protes itu hanya segelintir orang di Desa Talang Empat. Untuk diketahui, ada ratusan warga bergantung pada PT PMS,” kata Kepala Desa (Kades) Talang Empat, Taheran, kemarin (15/4).

Lebih lanjut, Taheran menjelaskan, ratusan warga mencari nafkah dengan menjadi pekerja di PT PMS. Meliputi, 180 orang bekerja sebagai buruh bongkar muat tandan buah segar (TBS) sawit dari truk dan 60 orang bekerja sebagai karyawan tetap. “Untuk buruh bongkar muat, setiap orang bisa mendapatkan upah sebesar Rp 80-90 ribu dalam sehari. Sedangkan karyawan tetap digaji sesuai dengan UMK setiap bulannya. Alhamdulillah, PT PMS mampu menekan angka pengangguran di Desa Talang Empat,” tambah Kades.



Taheran menyampaikan, keberadan pabrik pengolahan sawit di Desa Talang Empat memang memberikan dampak. Baik polusi air maupun udara yang membuat warga mengeluh. Akan tetapi, sangat bijak jika aksi protes disampaikan secara elegan dengan tuntutan utama berupa pengurangan limbah. “Kami harap, pabrik tetap beroperasi. Akan tetapi, pihak perusahaan juga harus berbenah dengan memperbaiki mesin dan teknis produksi agar tak menimbulkan dampak lingkungan yang besar. Saya rasa itu adalah solusi terbaik. Jika perusahaan ditutup, akan ada ratusan warga Desa Talang Empat yang terancam menjadi pengangguran,” demikian Kades.(135)