Warga Lembak Kembali Blokir Jalan

CURUP, BE – Warga Lembak kembali memblokir jalan.  Sejak pukul 09.00 WIB Kamis (1/11), ratusan warga yang berasal dari 5 desa yakni Desa Belumai I, Desa Blumai II, Desa Bukit Batu, Desa Ulak Tanding dan Kasie Kasibun Kecamatan Padang Ulak Tanding melakukan pembelokiran jalan di sepanjang Jalan Desa Blumai I dan Blumai II.

Aksi penutupan akses jalan umum tersebut dilakukan warga, sebagai
bentuk protes terhadap aktivitas penambangan yang dilakukan PT Bania Rahmad Utama (BUR) dan PT Armuhammad, yang membuat jalan umum serta infrastruktur air bersih menjadi rusak.  Beruntung jalan tersebut bukan
jalan lintas utara Curup-Lubuklinggau, sehingga tidak begitu berdampak
pada kegiatan sosial ekonomi masyarakat.

Data terhimpun wartawan, warga melakukan pembakaran ban bekas, dan
menutup jalan dengan material batu dan kayu sehingga tidak bisa dilalui. Bahkan sebuah mobil truk yang diduga milik perusahaan penambang nyaris dibakar oleh massa. Beruntung aksi tersebut dapat dicegah oleh anggota Koramil Padang Ulak Tanding yang berada di lokasi unjuk rasa.

Ditengah aksi unjuk rasa tersebut, Camat Padang Ulak Tanding Mulyanda
bersama lima kepala desa, para pemilih tambang PT BUR dan PT Armuhammad, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Drs Darmansyah, serta

Staf Ahli Bupati melakukan pembahasan terkait persoalan yang dikeluhkan masyarakat tersebut, di ruang rapat Bupati RL.
Kepada wartawan Darmansyah mengakui, terkait adanya aksi ujuk rasa sebagai bentuk protes terhadap kegiatan penambangan yang dilakukan kedua perusahaan di wilayah Blumai serta Kasie Kasubun yang berdampak kepada desa-desa lain di Padang Ulak Tanding.

“Para kepala desa bersama camat menyampaikan tuntutan warga terhadap kegiatan penambangan, diantaranya soal jalan yang rusak, sarana air bersih yang rusak dan tercemar, serta polusi yang ditumbulkan akibat hilir mudik kendaraan pengangkut hasil tambang,” kata Darmansyah.
Dalam pertemuan itu, sambung Darmansyah, sesuai dengan tuntutan masyarakat pemilik PT BUR dan PT Armuhammad sepakat dalam sepuluh hari kedepan melakukan perbaikan jalan dari Pasar Padang Ulak Tanding,

hingga Desa Bukit Batu yang rusak akibat kerap jadi pelintasan kendaraan pengangkut material tambang.   “Jalan dengan panjang sekitar 4 km itu, disepakati akan diperbaiki kedua perusahaan tambangan, dimana warga minta di aspal lapen yang selama ini rabat beton. PT BUR bertanggung jawab untuk jalan dari pasar PUT hingga jembaran Blumai II, sedangkan PT Armuhammad melakukan perbaikan dari jembatan Blumai II hingga Desa Bukit Daun,” terang Darmansyah.

Selanjutnya kedua perusahaan sanggup memperbaiki sarana air bersih yang rusak, mengurangi jumlah kendaraan penambang dari sebelumnya sampai 40 mobil, dikurangi jadi 20 mobil/hari, dan perusahaan sepakat untuk menyediakan mobil penyiram debu apabila musim kemarau, karena hilir mudik kendaraan penambang membuat debu berterbangan sehingga menganggu warga.

“Semua tuntutan warga disepakati oleh kedua perusahaan untuk diperbaiki. Tetapi jika tidak, Distamben siap mencabut izin dan menghentikan aktivitas penambangan yang dilakukan oleh kedua perusahaan di wilayah PUT tersebut, dan kami sangat siap,” tegas Darmansyah.

Aksi demo raturan warga tersebut, segera berakhir pukul 15.00 WIB setelah kepala desa bersama Koramil dan Polsek Padang Ulak Tanding mencapai kesepakatan atas tututan warga. Dimana kedua perusahaan penambang siap bertaggung jawab atas perbaikan jalan, perbaikan sarana air bersih, agar perusahaan mengurangi jadwal operai dan mengurangi armada mobil pengangkut hasil tambang lainnya. Warga juga mendesak para pemilih tambang membatasi kegiatan penambang dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. (999)