Warga Enggano Terancam Kelaparan, Para Kepala Suku Datangi DPRD

Bengkulu
RIO/Bengkulu Ekspress. Sejumlah kepala suku Pulau Enggano mendatangi Sekretariat DPRD Provinsi Bengkulu, kemarin (13/2). Mereka meminta DPRD mencarikan solusi supaya kapal feri menuju Pulau Enggano segera beroperasi.

ENGGANO, Bengkulu Ekspres – Akibat lumpuhnya akses transportasi laut dari Bengkulu ke Pulau Enggano dan sebaliknya yang terputus sejak 10 hari lalu membuat masyarakat Enggano mengalami kerugian yang tidak sedikit.

Kepala Desa (Kades) Malakoni Kecamatan Enggano,  Tedy Sunardi Kaharubi saat dihubungi Bengkulu Ekspress, kemarin (13/2) membenarkan hal itu. Menurutnya, setiap kapal yang masuk ke Enggano, minimal transaksi yang terjadi Rp 60 juta. Sedangkan saat ini, sudah lebih dari 10 hari tak ada kapal yang berlabuh. Sehingga dapat ditafsir kerugian lebih dari Rp 200 juta.

”Kalau sampai saat ini kerugian sudah lebih Rp 200 juta. Jika belum juga ada kapal yang tiba di Enggano, maka kerugian akan bertambah lagi,” ujarnya.

Ia menambahkan, masyarakat sudah mulai resah atas kejadian ini. Karena mayoritas masyarakat hanya menggantungkan hidupnya pada penghasilan perkebunan. Mulai dari pisang, kopra, jengkol dan beberapa hasil bumi lainnya dengan mengandalkan transportasi kapal.

”Bagaimana ekonomi masyarakat mau meningkat, kalau keadaannya seperti ini,” ungkapnya.

Disamping itu, ia menyebutkan persoalan yang sangat dikhawatirkan masyarakat yakni kehabisan sembako di Enggano. Karena persediaan sembako masyarakat sudah mulai menipis lantaran persediaan pangan ini hanya untuk kebutuhan selama satu minggu.

‘Biasanya masyarakat sekali belanja untuk kebutuhan seminggu. Jadi sudah pasti keberadaan sembako ini sudah menipis,” terangnya.

Ia juga sangat kecewa atas kurang tanggapnya Pemerintah Daerah (Pemda) Bengkulu Utara dan Provinsi Bengkulu atas apa yang dialami masyarat Enggano. Apalagi Kapal Feri Pulo Telo milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Bengkulu ditahan di Jakarta lantaran dokumen perizinan sudah kedaluwarsa.

”Kapal feri dokumen kapalnya mati. Dan kapal pengganti dari pemerintah hingga saat ini belum juga ada kejelasan,” pungkasnya

Perwakilan Warga Datangi Dewan
Akibat lumpuhnya akses penyebrangan jalur laut Bengkulu-Pulau Enggano, bukan hanya warga Enggano tidak bisa keluar pulau, tetapi ratusan warga Pulau Enggano yang berada di Kota Bengkulu menjadi terdampar.

Tak tinggal diam, kemarin (13/2) sejumlah kepala suku dan warga asli Pulau Enggano pun mendatangi anggota DPRD Provinsi Bengkulu. Kedatangan ini untuk meminta kejelasan kapan lumpuhnya akses penyeberangan itu berakhir.

“Kami sengaja datang ke dewan provinsi untuk mengadukan nasib kami beberapa minggu ini. Karena kami sudah tidak bisa pulang ke Pulau Enggano akibat tidak adanya kapal penyebrangan,” terang Kepala Suku Kaitora Pulau Enggano, M Raflijen kepada BE saat berada di Gedung DPRD Provinsi Bengkulu, kemarin (13/2).

Dikatakannya, dengan tidak adanya kapal penyeberangan semua akses ekonomi lumpuh. Bahkan untuk membawa warga sakit untuk dirujuk ke rumah sakit yang ada di Bengkulu juga tidak bisa dilakukan. Akibatnya, semua warga harus menanti sampai kapal KM Sabuk Nusantara, pengganti Kapal Feri Pulo Tello sampai ke Pulau Enggano.

“Katanya ada kapal pengganti, tapi nyatanya sampai sekarang belum juga sampai ke pulau kami. Pikirkan lah nasib kami,” tambahnya.

Raflijen menegaskan. jika memang kapal yang biasa melakukan penyebrrangan ke Pulau Enggano dilakukan perawatan berkala, pemerintah harus cepat mencari pengganti. Jangan sampai membuat masyarakat Enggano terlantar dan akses ekonominya menjadi lumpuh. Terlebih untuk akses transportasi udara juga tidak bisa dilakukan, mengingat pesawat terbang baru bisa diaktifkan pada bulan Maret mendatang.

“Kalau mau diganti ya harus cepat lah mencari penggantinya, jangan buat kami terlantar seperti ini,” ungkapnya.

Tak hanya menyampaikan terkait akses penyeberangan, lima orang perwakilan warga Pulau Enggano terdiri dari Kepala Suku Kaarubi Suadi, Kepala Suku Kauno Prontir, Kepala Suku Kaarubi Paabuki Harun dan warga Enggano Meireliansius ini juga menyampaikan terkait mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM). Dimana untuk satu liternya premium, di Pulau Enggano dihargai sebesar Rp 13 ribu hingga 15 ribu perliternya. Padahal, harga BBM subsidi itu hanya sebesar Rp 6.450 per liter.

“Harga BBM yang mahal membuat kami semakin tercekik juga. Harusnya harga BBM itu tidak semahal ini. Kenapa hal ini terus dilakukan pembiayaran sampai sekarang ini,” ujar Raflijen.
Termasuk juga dengan pembangunan infrastruktur yang terus dijanjikan oleh pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat juga belum pernah direalisasikan. Warga Pulau Enggano hanya mendapatkan janji-janji manis pemerintah. Padahal Pulau Enggano sudah dijadikan salah satu pulau terluar yang akan mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.

“Kami butuh kejelasan. Seharusnya pemerintah memberikan perhatian lebih kepada kami,” paparnya.

Anggota Komisi III DPRD Provinsi, Tantawi Dali SSos mengatakan, permasalahan warga Pulau Enggano tersebut akan disampaikan secara langsung kepada pihak terkait, terkhusus Pemerintah Provinsi.
“Soal kapal sudah kita gelar hearing bersama pihak Dinas Perhubungan, untuk segera mendatangkan kapal pengganti dan soal BBM akan kita sampaikan kepada pihak PT Pertamina. Kami akan minta harga BBM di Enggano sama dengan harga BBM yang ada di Indonesia,” terang Tantawi.

Terkait pembangunan infrastruktur, dewan juga minta Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 42 miliar untuk dapat direalisasikan untuk pembangunan Pulau Enggano. Termasuk untuk peningkatan pelabuhan yang ada di Malakoni dan Pelabuhan Kayapu untuk dilakukan peningatkan. Sehingga kapal yang bersandar dapat mudah berlabuh di pulau yang berada di tengah Samudera Hindia tersebut.

“Ada anggaran DAK sebear Rp 42 miliar, anggaran ini harus cepat direalisasikan. Jangan sampai pembangun itu tidak dilakukan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kesyahbandara dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bengkulu, M Ali SAP MSi mengungkapkan, untuk kapal pengganti jalur Bengkulu-Pulau Enggano sudah diberangkatkan dari Jakarta pada hari ini (13/2). Dimana KM Sabuk Nusantara itu akan sampai di Pulau Enggano sekitar 4 hari kedepan.

“Kapal penggganti sudah berangkat dari Jakarta hari ini, mudah-mudahan cepat sampai di Pulau Enggano. Asalkan memang cuacanya bagus,” pungkasnya.(151/816)