Warga Enggano Masih Terisolir

ENGGANO, BE – Sekitar 2.892 warga Pulau Enggano ternyata kondisinya masih terisolir. Meski kondisi pariwisata di pulau tersebut sangat indah namun belum berdampak pada ekonomi masyarakat. Kecamatan Enggano memiliki 6 desa, antara lain Desa Banjarsari, Desa Meok, Desa Apoho, Desa Malakoni, Desa Kaana, dan Desa Kahyapuh. Namun di desa tersebut belum ada layanan listrik. Hanya sebagian warga yang memiliki tenaga surya. Warga pernah dijanjikan bantuan tenaga surya oleh pemerintah namun kenyataannya hingga saat ini belum diwujudkan. Mirisnya lagi, untuk komunikasi baru di Desa Malakoni dilayani sinyal Telkomsel, sedangkan di desa lainnya sama sekali tidak ada sinyal. “Warga sangat kesulitan untuk berkomunikasi, apalagi dengan dunia luar (kepulauan),” kata Kades Kahyapu Surnat. Sebagai daerah yang masih terisolir, warga juga banyak dibebani dengan harga kebutuhan pokok yang sangat tinggi. Seperti diungkapkan Zulvan Zaviery, harga BBM di Pulau Enggano yang benar-benar melambung tinggi, dirasa membenani masyarakat. Bila harga standar besin di SPBU Rp 4500, tetapi untuk harga eceran besin di Pulau Enggano Rp. 10.000. Namun sewaktu waktu masyarakat dapat memperoleh sekitar Rp.17.000 – Rp 20.000/perliter. Sedangkan para nelayan di Pulau Enggano, meminta pemerintah menambah pasokan bahan bakar minyak untuk memenuhi kebutuhan melaut mereka. “Kami hanya dijatah 10 liter per bulan, sementara kebutuhan melaut untuk 10 hari saja mencapai 100 liter,” kata Zulvan, seorang nelayan Enggano. Dia juga mengeluhkan harga BBM yang selalu melambung tinggi dari harga jual normal, sebab koperasi yang ditunjuk pemerintah menyalurkan BBM menjual kepada pedagang. “Seharusnya, masyarakat dapat mengakses langsung pembelian BBM ke pihak koperasi sehingga harganya tidak terlalu tinggi. Koperasi menyalurkan ke beberapa pedagang sehingga prosesnya berantai dan harga jadi tinggi. Kalau bisa kami membeli langsung kepada koperasi sehingga harga bisa lebih murah,” tambahnya. Di sisi lain potensi pertanian di Pulau Enggano sangat menjanjikan. Sebagian besar warga, di samping sebagai nelayan bermata pencaharian sebagai petani. Terutama warga transmigrasi, mereka serasa diusir oleh babi. Sebab setiap tanaman, baik padi, kakao, dan sebagainya, selalu diserang babi. Jumlah babi di Pulau Enggano sangat memprihatinkan karena membunuh mata pencaharian petani. “Babi itu setiap tahun bertambah 4 kali lipat. Babi ini mati satu lahir 10 (ekor),” kata Kades Kaana, Sutrisno. Bahkan menurutnya, untuk mengatasi hama babi sekitar 65 hektar lahan terpaksa di pagar secara bersama-sama. Lahan tersebut lahan milik warga Desa Kaana. Untuk menjaga kekompakan, warga yang memiliki lahan membuat aturan yang harus ditaati bersama. “65 hektar lahan yang ditanami padi, dipagar keliling kolektif dengan petani lainya. Kalau seandainya ada babi melompat, atau menumbur, yang punya pagar tersebut didenda Rp 7.500 sampai Rp 10 ribu,” katanya. Dari denda-denda yang diakibatkan babi tersebut, kemudian dikumpulkan. Dana yang terkumpul kemudian dibelikan racun (obat) dan pupuk untuk tanaman padi tersebut. “Inilah kendala utama para petani,” katanya. Dia menambahkan warga sebenarnya juga akan menambah lahan sawah percetakan seluas 300 hektar. “Tapi belum terwujud, drainase sudah rusak. Sehingga kami berharap agar agar ada perhatian pemerintah,” tambahnya. Selain tanaman padi dan kakao yang ditanam namun terus dirusak oleh hama babi, masyarakat juga menanam pisang kepok. Saat ini, Pulau Enggano bisa dikatakan sebagai penghasil pisang kepok. Namun sangat disayangkan, harga jualnya ke tengkulak sangat murah. Dimana satu tandan besar pisang kepok hanya dihargai Rp 15 ribu. “Setiap minggu-nya, kami membeli pisang kepok mencapai 500 tandan, untuk dijual lagi di (kota) Bengkulu,” kata Adi, salah seorang pembeli. Tidak hanya itu, bila saat ini banyak yang mengatakan bahwa Enggano menjadi sebagai tempat penghasil ikan asin yang bagus, tidak salah lagi. Sebab untuk menyelamatkan hasil ikan para nelayan selama ini satu-satunya jalan adalah dengan membuat ikan asin. Sebab, kebutuhan es di Enggano tidak terpenuhi. Padahal jarak tempuh Pulau Enggano ke luar daerah sangat jauh. “Kalau mau di jual ke (Kota) Bengkulu harus punya banyak es. Tapi es juga susah, didatangkan dari Bengkulu. Kalau es ada, baru dijual ke luar hasil tangkapan ikan, tapi kalau tidak ya, dibuat ikan asin,” kata Enena (40) salah seorang istri nelayan. Sedangkan aktivitas sampingan para nelayan yaitu membuat emping melinjo. Seperti dilakukan Yani (40) dia menekuni membuat emping melinjo sehingga sehingga bisa membantu perekonomian keluarga. “Per kilo-nya emping melinjo Rp 20 ribu-Rp 25 ribu,” katanya. Bila dilihat dari kondisi rata-rata warga Enggano, kondisinya masih sangat memprihatinkan. Salah seorang warga mengatakan mereka belum merdeka. “Kami belum meredeka. Selama ini kami hanya butuh bantuan-bantuan dari pemerintah. Kami rasa perhatian pemerintah masih kurang,” kata seorang warga.
Bila dilihat kondisi rumah warga rata-rata hanyalah rumah berdinding papan berlantai tanah, rumah ini hanya disekat dua, tidak di ketahui mana kamar dan mana dapur. Sebagian besar rumah ini tidak memiliki sarana buang air (kakus/WC), dan sudah berupakan suatu keberuntungan jika mereka memilki sumur, wc yang dibuat hanyalah berupa tanah yang dibentuk seadanya lalu di siram dengan semen, wc itu tanpa lubang pembuangan dan tanpa septic tank.(100)