Warga Celaka di Jembatan Talang Arah Bengkulu Utara

APRIZAL/BE Jemabatan di Desa Talang Arah yang belum juga ada perbaikan, mengakibatkan kembali celakai warga yang melintas
APRIZAL/BE
Jembatan di Desa Talang Arah yang belum juga ada perbaikan, mengakibatkan kembali celakai warga yang melintas.

PUTRI HIJAU, BE – Jembatan darurat yang menggunakan batang kelapa di Desa Talang Arah, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara (BU), kembali mencelakai warga setempat. Kali ini korbannya anak sekolah jenjang SMP, yang hendak berangkat ke sekolah. Korban terjatuh saat melintasi jembatan tersebut.
Hal tersebut dibenarkan Kepala Desa setempat Roswan Efendi saat dikonfirmasi BE Rabu (19/8)

“Ya, anak sekolah tersebut jatuh saat akan pergi ke sekolah pada Selasa (18/08). Sekarang anaknya sudah di rumah,” kata Kades.

Kades mengakui keadaan jembatan tersebut sangat memperihatinkan, ditambah lagi dengan hujan beberapa hari lalu membuat kondisi jembatan saat ini semakin membahayakan. Tanah disisi penyangga batang kelapa sudah tergerus air, hanya menyisakan batang kelapa saja. Sebelumnya memang sudah sering terjadi kecelakaan di jembatan tersebut. Terutama terhadap anak sekolah dan ibu-ibu yang berangkat menunju pasar.

“Tanah habis semua, tinggal batang kelapa saja. Bahaya sekali sekarang, kalau mau lewat ya hati-hati sekali. Hari ini (kemarin,red) saja saya menolong 5 pengendara yang lewat di sana,” ujarnya.
Kades berharap jembatan tersebut dapat segera diperbaiki, demi keselamatan warga desa setempat. Selain itu dirinya juga menyampaikan, bahwa minggu lalu sudah dilakukan titik nol, tapi hingga sampai saat ini belum ada pekerjaan.

“Memang untuk jembatan ini sudah dilakukan titik nol, dan saya pun sudah menelpon pemborongnya, katanya dua sampa tiga hari ini akan dikerjakan,” harapnya.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi I BU Febri Yurdiman menilai bahwa Pemkab BU belum mampu menjamin keselamatan masyarakatnya.

Seperti diketahui jembatan tersebut rusak sudah hampir 2 tahun. Tampaknya hal ini seperti sudah menjadi tradisi di BU. Pekerjaan darurat yang memang dibutuhkan masyarakat, malah membahayakan warga, terkesan selalu lambat untuk dikerjakan.

“Sudah tradisi Pemerintah daerah, memang harus ada korban dulu dari masyarakat baru mau segera bergerak diperbaiki,” pungkasnya. (127)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*