Wamendikbud: Jangan Jadi Guru Bila tak Sanggup

wamendiknas, Musliar KasimBANDUNG-Pendidikan memang perlu dievaluasi saat ini, terutama adanya contoh yang tidak baik, seperti tawuran dan lainnya. Hal ini harus dicermati oleh para mahasiswa yang merupakan calon pendidik di masa mendatang.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Menteri (Wamen) Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Dr. Ir. H. Musliar Kasim, MS, dalam Kuliah Umum Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Balai Pertemuan Universitas Pendidikan Indonesia, Jalan Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, kemarin.

“Sudah menjadi tujuan pendidikan untuk menghasilkan insan cerdas yang komprehensif. Sudah menjadi tugas semua lembaga pendidikan untuk mampu menyumbangkan ilmu. Bertugas menghasilkan tenaga kerja yang mandiri. Pendidik juga harus menghasilkan lulusan yang berkarakter baik.

Selain itu perlu dipahami pula tugas perguruan tinggi saat berjalannya proses pendidikan untuk menghasilkan layanan akademik agar dapat mengembangkannya sesuai keilmuannya, mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi, dan mampu mengembangkan kewirausahaan, melakukan pendidikan karakter, mengembangkan semangat kebangsaan (NKRI) agar bisa memajukan bangsa,” paparnya.

Sebaiknya, dikatakannya, perguruan tinggi berkonsentrasi pada konten berupaya mencari penghambat kreativitas dan inovasi. “Bila anda tidak bangga menjadi bangsa Indonesia, maka anda tidak akan dapat memajukan bangsa ini. Contohlah pada bangsa yang maju, karena mereka memiliki motivasi, kemauan, dan mau kerja keras, serta berprinsip harus bisa. Ingatlah “Man Jadda Wajada” yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil (sukses),” katanya.

Dikatakannya, visi Indonesia tahun 2045 menjadi negara besar ke tujuh di dunia tidak dapat diwujudkan tanpa adanya pendidikan yang maju. Selain itu, negara maju bercirikan komposisi profesi wirausahawan yang tinggi. Dan wirausaha adalah solusi untuk mengatasi pengangguran tentunya memerlukan keterampilan.

Maka, dikatakannya, gurulah salah satunya yang berperan memajukan pendidikan. Peran utama guru yang berkualitas adalah mampu memahami dan memberikan motivasi kepada mahasiswanya.

“Berdasarkan studi banding ke negara Nigeria, ternyata menunjukkan fasilitas tidak selalu menentukan perfomance kinerja tenaga pendidik. Sebagai seorang pendidik tidak bisa dihargai bila tidak memiliki rasa percaya diri yang kuat disertai pengetahuan yang optimal. Pada dasarnya guru harus menjadi model pendidikan dan menjadi inspirasi siswa dengan dimilikinya kepribadian yang utuh. Apabila anda tidak merasa mampu jadi role model yang baik, maka sepatutnya harus berpikir ulang untuk mengambil profesi ini,” tandasnya.

Sementara, Pembantu Rektor I Bidang Akademik dan Hubungan Internasional Prof. Dr. Furqon, MA, Ph.D. mewakili Rektor UPI menyatakan bahwa, acara ini sudah dilakukan secara rutin di semua level di UPI.

Dikatakannya, acara menjadi istimewa karena hadirnya wakil menteri pendidikan dan kebudayaan dalam memaparkan materi kuliah umum yang cocok dan menarik.

“Pada dasarnya bila berbicara pendidikan, maka sebagai ujung tombak efektivitas proses pendidikan adalah adanya pendidik dan tenaga kependidikan yang berkualitas. Kita boleh tidak mendirikan gedung yang hebat selama kita memiliki para guru yang mumpuni dan berorientasi menghasilkan siswa yang berprestasi,” katanya saat membuka acara.

“Pemerintah pun sudah memperhatikan para guru yang melahirkan beragam kebijakan untuk meningkatkan kinerja tenaga pendidik sejak tahun 2005 dengan adanya undang-undang tentang guru dan dosen. Walaupun memang masih perlu dicermati implementasi kebijakan tersebut,” tambahnya.

Ia menambahkan, animo peminat calon mahasiswa yang mendaftar ke UPI semakin meningkat. Jumlahnya, 60.000 orang, padahal yang diterima hanya 5000 saja.

“Ini menunjukan dampak kebijakan yang positif untuk mengeluti bidang pendidikan. Tentunya peningkatan kualitas perlu terus dilakukan agar dapat memiliki pendidik yang semakin bermutu. Ini merupakan titik tolak pendidikan di tanah air,” pungkasnya.(tie/jpnn)