Usia 9 Tahun, Keily Buat Buku Anak untuk Dunia

Membuat buku untuk dibaca oleh seluruh warga dunia. Itu yang dilakukan Keily Setiawan di usianya yang ke-9. Dia membuat buku cerita anak bergambar, dengan dua bahasa, Mandarin-Inggris, yang dilengkapi suara pendukung. Atas karyanya itu, dia menjadi anak pertama di dunia yang menulis, menciptakan dan menerbitkannya secara mandiri. Bagaimana dia menulis bukunya?

Yusuf Asyari – JAKARTA

DARI anak untuk anak. Ungkapan itu cocok untuk buku karya Keily, siswa kelas 4 SD Sinarmas World Academy (SWA) ini. Ditemui di sekolahnya di Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, Banten, beberapa hari lalu, Keily tak henti-hentinya menebar senyum. Buku perdananya mampu menembus buku genre anak di iBookstore Apple. Selama ini buku yang beredar, biar juga untuk anak-anak, dibuat oleh kalangan dewasa yang profesional. Tapi Keily membuatnya untuk bisa dinikmati oleh teman-teman seusianya. ‘’Bangga, tapi belum puas,’’ katanya, sambil cengengesan dan menggerak-gerakkan kedua kakinya yang menggantung di kursi, ketika ditanya soal bukunya. Keily membuat dan menerbitkan buku bergambar iBook berjudul Chen Chen Goes to Space. iBook adalah buku yang tersedia pada IT (information technology) berupa iPhone, iPad atau iPod melalui iBookstore (semacam toko buku) yang bisa dibuka melalui Apple. Namun, iBookstore sendiri saat ini baru bisa diakses di 32 negara. Indonesia, dan negara-negara Asia lainnya, umumnya belum bisa mengunduhnya karena belum tersedianya infrastruktur IT yang memadai. Kalaupun ingin mengunduhnya, kita dari Indonesia mesti menggunakan account negara lain seperti Australia.

Cerita yang disampaikan Keily begitu imajinatif dan penuh ceria. Tidak jauh dari pengalaman dan suasana anak-anak se-usianya. Buku ini menceritakan seekor kelinci bernama Chen Chen yang ingin menjadi astronot. Keinginan ini menjadikan Chen Chen bisa mengunjungi bulan. Tapi untuk mewujudkan cita-citanta itu, Chen Chen menemui banyak pengalaman. Saat menceritakan pengalaman itu menjadi hal menarik dalam buku ini. Seperti Chen Chen akhirnya bersahabat dengan burung dan pohon. Dari keduanya juga, Chen Chen dibantu membuat rumah dan property, hingga akhirnya sering mengunjungi bulan. “Idenya dari adik laki-laki aku yang lahir di tahun kelinci (tahun China),” kata gadis berkulit putih ini. Buku ini disambut hangat oleh dunia. Dipublikasikan 28 April lalu, sampai saat ini seratusan orang sudah menikmatinya. Banyak komentar yang umumnya bangga, seusia Keily bisa menciptkan buku dengan kekuatan cerita yang begitu jujur. Tak hanya itu, buku ini menjadi inspirasi banyak anak-anak di dunia untuk bisa berkarya sendiri. Tentu, yang berkomentar itu kebanyakan dari manca negara.Keily dalam pembuatan buku hanya membutuhkan sekitar tiga pekan. Hal yang paling sulit, kata gadis berkacamata ini, saat penggambaran. Untuk audio dan tulisan dikerjakan dengan gampang. Dia melakukannya sendiri di waktu senggang, tanpa mengganggu kegiatan belajarnya. “Kalo ide cerita sih hanya 10-15 menit,” katanya, sambil memperlihatkan giginya yang rapi dan putih itu.Buku dengan 27 halaman itu secara keseluruhan dibuat oleh Keily. Jane Ross, guru IT di SWA, hanya membimbing soal teknisnya untuk bisa menerbitkan buku itu di iBook. Menurut Jane, dirinya memperkenalkan aplikasi software untuk menciptakn iBook tersebut. ‘’Setelah siswa memahami, saya memebimbingnya. Termasuk untuk Keily,” ujar wanita setengah baya yang juga menjadi perwakilan Apple kawasan Asia-Pacifik ini.Menurut Jane, setelah materi/isi buku diselesaikan, Keily selanjutnya mempublikasikan. Namun karena usainya masih di bawah 13 tahun, publikasi dilakukan oleh orangtuanya.

Keily mampu berbahasa Mandarin dan Inggris secara aktif. Ngomongnya pun selalu bercampur-campur: Indonesia, Inggris dan Mandarin. Kemampuannya menulis dalam Bahasa Mandarin, membuat dia pada awalnya menulis bukunya dengan bahasa itu. Tapi, ternyata iBookstore belum bisa menerbitkannya lantaran belum tersedia infrastruktur huruf Mandarin. Akhirnya, buku sempat dipending. Tapi gadis kelahiran 10 Desember 2002 ini tidak patah arang. Dia lantas menulis menambahkan Bahasa Inggris dengan tetap mempertahankan penggunaan Bahasa Mandarin. “Akhrinya bisa dipubliskan. Keily menjadi anak pertama membuat buku gambar dua bahasa iBook,” kata Jane.Kedua orangtua Keily, Thomas Setiawan dan Linda Setiawan, sendiri tidak menduga anaknya bisa membuat karya mendunia. Kegemaran menulis anak sulungnya didapatkan dari kakek-nya, Lukman Setiawan, yang juga wartawan senior sekaligus tokoh pers di Tanah Air. Tapi, bagi Thomas dan Linda membiarkan anak mengerjakan apa yang diingini, menghasilkan prestasi. ‘’Saya tidak tahu yang dikerjakan Keily. Baru tahu dari sekolah, Keily membuat buku,” ujarnya. Saat ini Keily kembali sedang menggarap buku-buku barunya. Tapi saat ditanya, dia menjawab ringan sambil tetap cengengesan. ‘’Nanti juga tahu,’’ ujar gadis yang bercita-cita jadi penulis serta mengidolakan kakeknya itu. (**)