Usai Sidak Pangkalan, Fakta Mengejutkan Ditemukan Di Rumah Makan Ini

gasBENGKULU, bengkuluekspress.com – Setelah melakukan sidak ke pangkalan gas elpiji 3kg di Jalan Hibrida 1 Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Gading Cempaka, tim gabungan Disperindag Kota bersama Polda Bengkulu dan Pertamina bergerak ke salah satu usaha makro yang masih saja menggunakan gas elpiji bersubsidi 3kg.

Secara aturan, gas elpiji bersubsidi ini seharusnya hanya diperuntukkan bagi warga yang membutuhkan seperti rumah tangga yang bukan PNS dan pemilik usaha mikro. Namun, salah satu rumah makan yakni Rumah Makan Padang Guci yang beralamat di Jalan Danau yang seharusnya tak menggunakan gas 3kg ini malah dengan mudah dapat memperoleh hingga 7 tabung gas perhari.

Lidya Ariani, pemilik rumah makan Padang Guci mengatakan ia memperolh tabung gas dari para pengecer dengan harga mencapai Rp 30.000,- per tabung. Lidya yang mengaku tahu bahwa seharusnya ia tak menggunakan gas melon mengatakan bahwa penggunaan gas ini dapat menghemat pengeluarannya.

“Total semua tabung ada 7, sehari bisa habis 5 sampai 6 tabung, dapatnya dari orang-orang yang jual itulah, kadang di pangkalan kadang di warung. Harganya Rp 25.000,- tapi udh semingguan ini Rp 30.000 ,- per tabung,” ujarnya.

“Tahu tidak boleh, tapi kan kami rumah makan ini tidak cuma pakai 1 kompor, kami pakai banyak kompor, jadi untuk pembagiannya lebih hemat kalau pakai gas 3kg ini, karyawan kami kan 9 orang, kalau pakai gas 3kg kan uang lebihnya bisa buat gaji mereka,” sambung Lidya.

Disisi lain, salah satu warga yang tinggal tak jauh dari rumah makan tersebut mengatakan bahwa pemasok gas ke rumah makan tersebut adalah langsung dari pangkalan yang menjual dengan harga lebih tinggi. Warga yang tak ingin disebutkan identitasnya tersebut menuturkan pangkalan gas elpiji di daerah itu memang lebih memilih memasok ke rumah makan dibanding menjual ke warga sekitar karena bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi.

“Sebenarnya jangan salahkan rumah makan Padang Guci ini. Wajar namanya mereka bisnis, kita pakai prinsip ekominilah, kan lebih untung kalau pakai gas 3kg. Yang salah ini pemasoknya, yang ngasih itu yang salah. Ini warga sekitar terus terang saya ngomong warga ini susah sekali dapat gas. Masa gas masuk 200 tabung selang 2 jam dibilang sudah habis sama pangkalan. Mereka lebih milih ngasih ke rumah makan karena mereka bisa jual sampai Rp 30.000, kalau masyarakat kan beli cuma Rp 16.000,” ujarnya.

Selain itu, warga tersebut mengaku, jika saja tak ada operasi pasar gas 3kg maka masyarakat akan lebih sulit lagi memperoleh gas. Menurutnya operasi pasar gas 3kg tersebut sangatlah berguna. Namun ia berharap solusi tak hanya dengan gas 3kg, sebaiknya pangkalan-pangkalan nakal tersebut ditertibkan jika masih saja dengan sengaja tak mendistribusikan gas melon kepada yang membutuhkan. (ibe)