UNBK Temui Banyak Kendala

TEKS:
Endang/Bengkulu Ekspress
SIMULASI: Sebanyak 56 siswa SMPN 13 Kota Bengkulu berada dalam satu ruangan mengikuti simulasi UNBK, kemarin (8/2)

Satu Sekolah Simulasi Offline

BENGKULU, Bengkulu Ekspress-Pelaksanaan simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMP/MTs tahap II sudah berakhir, Jum’at (8/2). Alhasil masih ditemukan kendala listrik mati hingga server error. “Secara keseluruhan simulasi di tahap II berjalan lancar, hanya ada beberapa kendala mati listrik dan eror, tapi kondisi ini sudah bisa diatasi dengan backup PHD sinkron,” ungkap koordinator Operator UNBK se-provinsi Bengkulu, Jefrinaldi, kepada Bengkulu Ekspress kemarin (8/2).

Lebih lanjut dikatakanya, dari ratusan sekolah se-provinsi Bengkulu yang mendaftar mengikuti UNBK, diketahui satu sekolah menggunakan dengan sistem UNBK token offline. Yaitu SMPN 22 Bengkulu Selatan. Untuk sinkronisasi tersebut operator harus keluar mencari akses internet keluar dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam lamanya. “Setelah sinkronisasi, pada paginya operator akan mendapatkan token offline yang diperoleh dari Puspendik dikirim ke sekolah melalui ketua panitia UN provinsi,” katanya.

Karena sistem UNBK sistem offline ini tidak langsung menggunakan internet, maka meminimalisir terjadinya kebocoran maka token baru dikirimkan pada pagi hari, dan selama satu hari Puspendik akan merilis sebanyak 10 token yang akan digunakan untuk log in pengerjaan soal.

“Proktor sekolah tidak akan bisa membuka soal sebelum jadwal yang sudah ditetapkan puspendik, karena token itu akan dikirim langsung dari pusat ke ketua panitia UN Provinsi dan didistribusikan ke sekolah pengguna token offline tersebut, ” katanya.

Token yang diberikan tak ubahnya dengan sistem UNBK semo online, karena kunci untuk membuka soal itu akan selalu berubah dalam waktu sepuluh menit, makanya dalam pelaksanaan UN biasanya token ini dibatasi sebanyak 5 kali, hal ini untuk membatasi akses proktor.

Pelaksanaan simulasi ini akan kembali digelar pada bulan maret, dimana seluruh sekolah baik tingkat SMP/MTs, SMA/MA, SMK wajib mengikuti simulasi ini, dan diharapkan tidak ada lagi kendala dan proktor sudah memahami dan meminimalisir terjadi hilangnya kunci jawaban siswa, pintanya mengakhiri.

SMPN 13 Pinjam Komputer

Kekurangan komputer di sejumlah sekolah masih menjadi kendala dalam penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer di Kota Bengkulu. Sejumlah sekolah terpaksa meminjam peralatan komputer untuk pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) hingga menumpang ke sekolah lain.

“Di SMPN 13 Kota Bengkulu, kali pertama akan dilaksanakan UNBK, karena belum memiliki sarana, tapi niat kami kuat agar siswa/siswi mengikuti UNBK, akhirnya kami meminjam komputer dan laptop ke SMP 15 dan SMP 19 kota Bengkulu, ” ungkap kepala SMPN 13, Hafnayet S.Pd kemarin (8/2).

Keinginan pelaksanaan UNBK sudah disampaikan pada walimurid, pun begitu sarana dan prasarana belum terpenuhi. Kemampuan sekolah yang terbatas sekolah belum bisa membeli PC dengan sesuai rasio siswa. Pihak sekolah berinisiatif dengan membuka sumbangan sukarela, dana yang terkumpul dari sumbangan sukarela siswa/siswi yang dikumpulkan setiap bulannya diperuntukkan pembelian server dan LAN. Dengan modal niatan inilah kita mencoba meminjam PC dan laptop dari sekolah lain yang tidak melaksanakan UNBK.

“Kami memohon setelah sukses melaksanakan UNBK ini, sekolah kami mendapatkan bantuan dari pemerintah sehingga tahun depan bisa melaksanakan UNBK secara mandiri dan memiliki sarana dan prasarana sendiri, ” terang Hafnayet.

Tahun ini, siswa kelas IX SMPN 13 kota Bengkulu yang akan mengikuti Ujian Nasional sebanyak 168 orang, meminjam komputer sebanyak 60 unit. Dalam pelaksanaanya siswa dibagi dalam tiga sesi, masing-masing per sesi sebanyak 56 orang.

Menjelang Ujian Nasional ini, sudah dua kali simulasi, dan semua berjalan dengan lancar. ” Dalam pelaksanaan siswa/siswi masih mengeluhkan ruangan laboratorium yang panas, karena tanpa dilengkapi AC, dan mengandalkan kipas angin. Kami berharap pemerintah segera memberikan bantuan ke sekolah ini, ” pinta Hafnayet mengakhiri. (247)