Umpatan Pengguna Jalan, Rezeki Si Ringan Tangan

REZEKI manusia sudah digariskan. Sudah ada yang mengatur. Tapi bukan berarti rezeki datang dengan sendirinya.  Ikhtiar atau upaya tetap harus dijalankan, karena tanpa ikhtiar tidak mungkin rezeki datang begitu saja. Hanya orang yang bekerja keras dan kreatiflah yang bisa bertahan dalam kehidupan. Terlepas apakah pekerjaan itu menghasilkan uang banyak atau sedikit, yang penting bisa menyambung hidup.

DWi NOPIYANTO, LEBONG:

Jalan lintas Lebong-Bengkulu Utara yang kondisinya kini rusak parah tidak selamanya menjadi pemicu sumpah serapah atau umpatan pengguna jalan karena tak nyaman saat melintasinya.
Bagi sebagian orang, jalan itu justru menjadi sumber rejeki tersendiri. Rudi (32), warga Kecamatan Lebong Atas, bisa mendapatkan lembaran uang dari pengguna jalan dari jalan rusak tersebut. Padahal, dia hanya mengandalkan sebuah cangkul dan ember yang berisikan tanah.  Siang kemarin (22/9), di bawah terik matahari yang menyengat badan, Rudi bersama temannya Ageng tampak ringan tangan. Mereka mencangkul tanah. Sepintas seperti membersihkan kebun, ternyata mereka sedang  memperbaiki jalan berlubang, menimbunnya dengan tanah hingga tertutup rata.
Keringat berkucuran, membasahi bajunya yang kusam. Di balik itu, dia mengharapkan belas kasih pengendara roda dua dan roda empat yang berlalu lalang di jalan lintas tersebut. “Seharian nyangkul, bagusin jalan yang berlubang ini supaya tertutup dan memberikan rasa nyaman kepada pengendara,” kata Rudi ditemui wartawan, kemarin.
Rudi meletakkan ember kosong tidak jauh dari lubang yang ditimbunnya. Ember itu untuk menampung uang, belas kasih dari pengendara yang ingin ke Bengkulu Utara, Bengkulu, Lebong maupun sebaliknya. “Sehari gak tentu dapat berapa,” kata Rudi.
Rudi tampak cuek saat dihampiri. Sembari mengayun cangkulnya, dia melayani lawan bicara seperlunya. Ketika BE bertanya lagi, siapa yang menyuruh, Rudi menjawab, “Kami sendiri yang mau,” singkatnya.
Tak cuma Rudi dan Ageng yang mengais rezeki dari jalan rusak tersebut. Masih di jalan itu, tepatnya di Kecamatan Padang Bano pun, sejumlah anak-anak pun terlihat mengais rezeki dari pengendara yang melintas jalan tersebut setelah mereka berusaha menutupi jalan berlobang tersebut dengan menggunakan tanah.
Begitu uletnya Rudi ini mencari uang, rela berpanas-panasan demi mendapatkan uang. Pemuda yang juga bekerja sebagai tukang ojek dan petani ini hanya bisa pasrah, dan mengisi hari-hari luangnya mencangkul demi mendapatkan sekocek rupiah.
Iwan, salah satu pengguna jalan saat melintas di jalan tersebut mengatakan, bahwa pemuda itu sering mencangkul di jalan itu, menutupi lubang yang menganga. Rudi memang tidak meminta uang, namun dia mengharapkan belas kasih dari pengendara. “Kalau saya lewat, pasti saya kasih uang. Kasihan lihatnya, sudah peduli sama kerusakan jalan, walaupun dia mengharapkan belas kasih dari orang,” ujar pria bertubuh besar ini.
Menurut Iwan, adanya kegiatan para penutup lubang di jalan yang menganga tersebut sejatinya tamparan keras kepada pemerintah. “Seharusnya pemerintah yang memperhatikan kondisi jalan tersebut, bukan masyarakat yang berinisiatif memperbaiki jalan tersebut. Ini bisa jadi sindiran untuk pemerintah agar pemerintah dapat membangun jalan lintas Lebong-Bengkulu Utara tersebut,” pungkasnya. (**)