UMB Ajarkan Cara Mengolah Cabai

Kelompok Tani Mengelola Cabai
IST/Bengkulu Ekspress
Tim Pelaksana PKM Dikti 2018 dari Fakultas Pertanian UMB dan Kelompok Wanita Tani Desa Sukasari Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang berfoto bersama.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Dalam rangka mengatasi harga cabai yang cenderung fluktuatif serta untuk meningkatkan ekonomi petani, Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dikembangkan Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Dikti, mengajarkan cara mengolah cabai menjadi beragam produk makanan kepada Kelompok Wanita Tani Desa Sukasari Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu.

Tim Pelaksana PKM Dikti 2018 dari Fakultas Pertanian UMB, Novitri Kurniati, SP, MP mengaku, ia bersama dengan dua orang rekannya Ir. Jafrizal, M.Si dan Fithri Mufriantie, SP, MP serta beberapa orang mahasiwa Fakultas Pertanian UMB melakukan pengabdian masyarakat melalui teknologi pengolahan cabai merah bagi Kelompok Wanita Tani Desa Sukasari Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang.

Desa tersebut dipilih oleh pihaknya sebagai lokasi kegiatan karena disamping petaninya banyak yang menanam cabai, juga dinilai lebih aktif dan terbuka dalam mengadopsi teknologi pertanian.

“Petani di sana banyak yang menanam cabai dan aktif serta terbuka dengan teknologi pertanian,” ujar Novitri, kemarin (3/9).

Sasaran PKM

Kelompok petani yang menjadi sasaran PKM di desa tersebut yaitu para ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Ceria dan Kelompok Wanita Tani Sukasari. Agar program kegiatan lebih efektif maka disepakati masing-masing kelompok hanya diwakili oleh 4 sampai 5 orang perwakilan.

“Para ibu-ibu tersebut, kami bina mulai awal Juli hingga Oktober 2018 mendatang untuk membuat produk aneka olahan cabai merah,” terang Novitri.

Tujuan dari pembuatan olahan cabai merah yaitu agar awet dan tahan lama. Seperti yang diketahui, cabai merah merupakan bahan pangan yang cepat mengalami kerusakan dan pembusukan sehingga tidak bisa disimpan lama. Lebih lagi harga cabai merah juga sering berfluktuasi terkadang harganya akan turun drastis di saat panen raya dan akan melambung tinggi bila terjadi kelangkaan di pasaran.

“Menyadari keadaan tersebut, tim pelaksana PKM dengan ibu-ibu petani cabai di Desa Sukasari sepakat untuk membuat satu program pengabdian masyarakat dengan cara meningkatkan keterampilan ibu-ibu petani dalam mengolah cabai merah menjadi aneka produk olahan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperpanjang usia penyimpanan,” jelas Novitri.

Proses Pembuatan Cabai Kering

Beberapa produk olahan yang telah dibuat oleh kelompok tani ini, antara lain cabai kering dan bubuk. Proses pembuatan cabai kering dan bubuk diawali dengan pensortiran cabai merah kemudian pembuangan tampuk (tangkai buah) selanjutnya pencucian dan proses sekitar 5 menit yang ditujukan untuk mempertahankan warnanya agar tidak berubah coklat kehitaman.

Lalu cabai dikeringkan dengan sinar matahari di atas para-para lebih kurang 4 sampai 6 hari.  Terakhir cabai digiling dengan mesin untuk menghasilkan cabai bubuk.

“Selain pengolahan cabai dalam bentuk kering dan bubuk, tim juga melatih keterampilan ibu-ibu petani untuk membuat olahan cabai siap saji lainnya diantaranya pembuatan abon cabai, pasta cabai, saos cabai murni, saos cabai tomat, saos cabai nanas, saos cabai ubi ungu, dan saos cabai mangga,” tutur Novitri.

Pihaknya berharap kegiatan PKM yang dilaksanakan ini dapat meningkatkan penerapan Iptek serta peningkatan kualitas dan nilai tambah

dimasyarakat. Bagi UMB, selain sebagai perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi, kegiatan ini sekaligus sebagai ajang promosi dan mendekatkan UMB kehati seluruh masayarakat Provinsi Bengkulu umumnya.



“Ini merupakan salah satu bentuk paradigma baru dalam pengabdian kepada masyarakat yang bersifat problem solving, komprehensif, dan berkelanjutan. Ditujukan untuk membentuk serta mengembangkan sekelompok masyarakat yang ingin mandiri secara ekonomi,” tutupnya.(999)