Ubah Buah Kebiul Jadi Pencegah Kanker Payudara

 nur-bela-turcica-anibah-dan-zahira-amaalia-siswi-sman-2-bs-kebiul-obati-kanker-payudara

Nur Bela dan Zahira, Peneliti Muda dari Bengkulu Selatan

Berawal dari keprihatinan terhadap mahalnya harga obat dokter untuk mengobati penyakit kanker payudara, membuat Nur Bela Turcica an Zahira Amaalia, dua siswi SMAN 2 Bengkulu Selatan (BS), mencari obat murah yang bisa mencegah pertumbuhan penyakit kanker itu.

Asrianto-Bengkulu Selatan

Setelah banyak bertanya, mereka mendapatkan informasi dari warga, bahwa ada buah yang bisa mengobati berbagai jenis penyakit seperti malaria, kencing manis, asam urat, batu ginjal, dan kanker, yakni buah kebiul. Kebiul ini adalah tanaman merambat yang tumbuh liar di Bengkulu Selatan.

Bak gayung bersambut, mereka menerima informasi ada lomba karya ilmiah remaja (LKIR) dengan tema bebas, yang digelar LIPI Jakarta 25-28 September. Sehingga kedua remaja ini mengusulkan ke pihak panitia, mereka memiliki ide untuk meneliti buah kebiul, apakah mampu untuk mencegah bahkan mengobati penyakit kanker payudara.

“Kami mendengar kabar ada lomba karya ilmiah remaja (LKIR) yang digelar LIPI Jakarta 25-28 September 2016 lalu. Kemudian dengan didorong oleh orang tua, kami membuat proposal karya ilmiah tentang pencegahan penyakit kanker payudara menggunakan buah kebiul,” ujar Nur Bella Turcica didampingi Zahira Amalia, saat ditemui di sekolahnya, Kamis (20/10).

Nur Bella yang merupakan anak sulung dari pasangan Bakarman (tenaga kesehatan) dan Zurnia (bidan desa) dan Zahira Amaalia, putri Danus Suryawan (PNS Pemda Kaur) dan dr Magdalena (dokter di Rumah Sakit Umum daerah Hasanuddin Damrah (RSUDHD) Manna BS) ini akhirnya membuat proposal penelitian dan mengajukannya ke LIPI.

Ternyata, proposal yang diajukan keduanya diterima dan diizinkan melakukan penelitian tersebut. “Selama ini sering mendengar kebiul bisa mengobati penyakit, namun belum ada kepastian apakah bisa mengobati penyakit kanker. Ditambah lagi, kami ikut prihatin dengan kondisi warga miskin yang kesulitan untuk berobat lantaran terkendala biaya, sehingga kami mencoba meneliti kebiul ini. Kami berharap bisa menjadi obat penyakit payudara yang murah bagi warga miskin yang mengidapnya,” kata Cica (Nur Bella Turcica) didampingi Dinda (Zahira Amaalia).

Menurut gadis manis yang selalu ceria dan bercita-cita menjadi dokter ini, setelah proposal diterima, keduanya kemudian langsung mendapatkan mentor dari LIPI, lalu melakukan penelitian di Laboratorium Bio Mulekultur dan Peralsitologi Universitas Gajah Mada (UGM). “Kami melakukan penelitian di dua laboratorium UGM itu selama 3 bulan,” ujarnya.

Ditambahkan Dinda, gadis berjilbab dan berkaca mata ini, dari hasil penelitian tersebut, dengan melalui uji fitokimia diketahui bahwa ekstrak etanol dari biji kebiul ini mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan triterpenoid.

Kemudian setelah diuji coba pada sel kanker MCF 7 ternyata mampu mencegah pertumbuhan kanker payudara sebesar 7 persen. Namun demikian, sambung keduanya itu baru sebatas uji coba awal, kedepan kedua bersama mentor dari LIPI akan melakukan ujicoba secara mendalam dengan memakai senyawa aktif.

Hanya saja, untuk saat ini masih terkendala dana, sehingga keduanya sangat mengharapkan dukungan Pemda BS agar dapat membantu biaya penelitian tersebut, supaya hasilnya dapat lebih maksimal. Sebab keduanya yakin, biji kebiul tersebut tidak hanya mampu mencegah penyakit payudara, tetapi juga bisa mengobati penyakit tersebut.
Kedepan, warga dapat memanfaatkan hasil penelitian keduanya dengan bisa berobat tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal. “Kami sangat mengharapkan dukungan Pemda BS, sehingga uji coba secara mendalam nanti bisa kami lakukan, dan pada akhirnya biji kebiul ini bisa benar-benar dimanfaatkan bagi pengobatan penderita kanker payudara,” harap Dinda dan Cica.

Pada tahap uji coba kemarin, sambung Dinda, cara penggunaan biji kebiul tersebut untuk pengobatan dengan cara ditumbuk halus, lalu dibuat minuman seperti kopi, setelah itu diminum secara rutin 2 kali sehari. “Oh ya, kalau selama ini biasa digunakan warga untuk berobat dengan cara dibuat menjadi kalung, gelang atau ikat pinggan. Namun coba lakukan dengan cara ditumbuk halus, kalau diminum seperti kopi rutin dua kali sehari, kemudian setelah beberapa hari kedepan akan ketahuan khasiatnya, selamat mencoba,” tutup Dinda yang juga bercita-cita menjadi dokter seperti ibunya.(***)