Transportasi Online Tak Terbendung

Foto : IST

Angkot Diminta Berinovasi

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Setelah konflik cukup panjang hingga bentrok antara sopir angkutan kota (angkot) dengan angkutan Grab, akhirnya Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah angkat bicara.

Rohidin mengatakan dua sisi transportasi ini harus berjalan berbarengan. Sebab hal itu telah menjadi kebutuhaan konsumen. Untuk itu, dia meminta angkot bisa berinovasi dalam meningkatan pelayanan konsumen. Telebih, saat ini era digital yang sulit dibendung. Sehingga para konsumen bisa nyaman menggunakan angkot sebagai moda transportasi.

“Angkot harus berbenah dan bentuk layanan angkot bisa diperbaiki,” terang Rohidin, kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (6/9).

Dalam perbaikan layanan angkot, Rohidin menegaskan harus ada rute yang pasti. Kemudian kondisi angkot juga harus membuat nyaman konsumen. Sehingga harmoni konsumen akan tetap dirasakan. “Ini penting untuk membuat konsumen nyaman,” ujarnya.

Hadirnya angkot menjadi sarana yang mengasyikkan. Asalkan, desain angkot itu dibuat semenarik mungkin, tertata. Jika perlu, lanjutnya, angkot bisa masuk kedalam gang-gang tempat tinggal masyarakat. Begitupun dengan pelayanannya, angkot juga tidak boleh kebut-kebutan di jalan raya, sehingga terjamin keselamatan penumpang.”Izin angkot layak jalan itu juga harus diurus, jangan seolah apa-adanya. Karena konsumen akan memilih yang nyaman untuk digunakan,” tuturnya.

Sementara itu, hadirnya Grab sebagai transportasi online, juga tidak hanya di Provinsi Bengkulu, tapi juga di provinsi lain berkembang dengan pesat. Namun tetap, untuk Grab, perizinan sebagai legalitas itu wajib dilengkapi. “Kemajuan teknologi, orang untuk mendapatkan yang mudah, nyaman itu pasti. Tapi tetap izin harus lengkap,” tuturnya.



Untuk itu ketika izinnya nanti lengkap, maka dua moda transportasi ini harus berjalan seimbang. Sehingga sopir dan konsumen bisa menerima manfaatnya. Para sopir Grab maupun angkot bisa mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhaan keluarga. “Silahkan berjalan berbarengan,” pungkas Rohidin.

Sementara itu, terkait konflik angkot vs Grab, muncul berbagai tanggapan dari masyarakat?

Banyak masyarakat merasa terbantu dengan keberadaan Grab. Sehingga jika benar-benar ditutup aplikasi Grab di Bengkulu, maka banyak masyarakat yang kecewa.

salah satunya Nuraini (21), jika hal tersebut benar-benar direalisasikan oleh Pemerintah Pusat, maka dirinya tidak bisa memesan makanan maupun pergi ke kampus lagi. Wajar saja, moda transportasi online atau lebih dikenal dengan Grab telah mengubah mindset kebanyakan masyarakat di Kota Bengkulu, mengingat kelebihan yang ditawarkan dibandingkan angkot yang telah menemani warga sejak puluhan tahun yang lalu. “Kalau bicara kelebihan, jelas Grab lebih baik dari angkot,” kata Nuraini, kemarin (6/9).

Dari sisi keunggulan yang ditawarkan, Grab memang tiada duanya untuk saat ini. Transportasi online ini mampu menjawab semua keinginan masyarakat, mulai dari memesan makanan, minuman, jasa kirim barang hingga jasa antar jemput alamat. Semua kelebihan tersebut tentu saja tidak dimiliki oleh angkot, lebih lagi angkot juga dibatasi oleh zona dan hanya beroperasi dari pukul 07.00 WIB hingga 17.30 WIB.

“Tapi kelebihan tersebut, oleh pemerintah dipandang sebelah mata, pemerintah terkesan memihak sopir angkot sementara masyarakat ingin Grab,” tegas Mahasiswi Universitas Bengkulu ini.

Tingginya keinginan masyarakat terhadap Grab tidak hanya sekedar dari fasilitas yang ditawarkan, akan tetapi sektor transportasi online ini di Kota Bengkulu juga telah mendukung program pemerintah dalam upaya mengurangi pengangguran daerah. Ada sekitar 1.900 driver Grab menggantungkan hidupnya dari jasa transportasi online ini.

Lebih lagi program Wonderful Bengkulu 2020 yang telah dicanangkan oleh Pemerintah juga diprediksi kandas. Pasalnya untuk mewujudkan industri pariwisata yang mumpuni perlu didorong oleh transportasi yang baik juga.

“Bali itu bisa maju karena transportasinya baik, kalau masalah seperti ini saja Pemerintah tidak becus sama saja apa yang menjadi misi Provinsi akan gagal kedepannya,” tegas Pakar Ekonomi, Dr Ahmad Badawi Saluy MM.

Ia menilai, munculnya Grab di Bengkulu secara tidak langsung juga mendorong peningkatan pembelian kendaraan bermotor. Hal tersebut jelas berkontribusi bagi daerah secara tidak langsung. Belum lagi Grab juga menghidupkan ribuan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Bengkulu dengan layanan antar jemput makanan dan minuman.

“Sektor otomotif dan UMKM di Bengkulu bisa bangkit karena Grab, jadi apakah Pemerintah hanya ingin mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Grab yang saya kira tidak begitu besar dibandingkan banyaknya sektor lainnya yang bisa tumbuh di Bengkulu,” terang Ahmad.

Grab di Bengkulu sudah seperti “Agen Pembangunan Daerah” yang kinerjanya tidak terlihat. Namun, Pemerintah hanya melihat kinerja yang terlihat, hal inilah yang membuat Bengkulu selamanya tidak akan maju seperti kota-kota lainnya di Indonesia khusunya Sumatera.

“Kalau Bengkulu mau maju, maka dukung kemajuan daerah, Grab itu datang ke Bengkulu sebagai investor, kalau mengendalikan daerah saja tidak bisa maka investor lainnya akan memandang Bengkulu tidak bisa dijadikan mitra,” tegas Ahmad.

Pihaknya menilai, investor merupakan mitra yang harus dibaiki. Sehingga jangan sampai investor malah pergi meninggalkan Bengkulu dan memilih kota lainnya.

“Grab itu tidak hanya di Bengkulu, bahkan kota tetangga seperti Lubuk Linggau, Grab anteng-anteng saja, dan kotanya makin maju sekarang, masa Bengkulu mau kalau dengan Kota Tetangga,” tutup Ahmad.(999)