Transaksi Non Tunai Rendah

RIO-EDUKASI GERAKAN NON TUNAI-DPR RI BANK BI (1)
RIO/BE
NON TUNAI: Anggota Komisi XI DPR RI, Anarulita Muchtar bersama Bank Indonesia (BI) dan HIMPAUDI Kota Bengkulu menggelar kegiatan edukasi sosialisasi Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) di Hotel Santika, Selasa (14/8).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Bank Indonesia (BI) mencatat pemanfaatan transaksi non tunai di Bengkulu masih terbilang rendah. Bahkan baru 2 persen masyarakat Bengkulu manfaatkan transaksi non tunai seperti e-money, kartu debit, dan kredit

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), dr Anarulita Muchtar mengatakan, rendahnya penggunaan transaksi non tunai di Bengkulu mendorong pihaknya untuk terus melakukan sosialisasi tentang pentingnya menggunakan transaksi tanpa uang tunai.

“Sekarang tidak zamannya lagi pakai uang tunai, sudah ada kartu e-money, kartu debit dan kredit. Ayo masyarakat manfaatkan itu,” kata Anarulita, kemarin (14/8).

Dengan memanfaatkan e-money ataupun kartu debit dan kredit, masyarakat akan memperoleh banyak kelebihan, diantaranya transaksi lebih mudah dan dapat melakukan banyak transaksi seperti pembayaran token listrik, tagihan BPJS, tagihan TV berbayar, bahkan bisa saling transfer uang tanpa harus datang ke bank.

“Kelebihan transaksi non tunai sangat banyak, bahkan keamanannya juga terjamin,” tegas Anarulita.

Dari sisi keamanan, lanjutnya, pemanfaatan uang elektronik lebih aman dibandingkan membawa uang tunai. Semakin banyak uang tunai yang dibawa akan memicu tindak kejahatan seperti pencurian. Sedangkan uang non tunai jika hilang maka cukup memblokir kartu dan uang tetap aman.
“Karena keamanannya yang baik ini, makanya kita dorong masyarakat segera memanfaatkannya,” tutup Anarulita.
Sementara itu, Deputi Perwakilan BI Bengkulu, Muhammad John mengatakan, BI terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan transaksi non tunai. Bahkan BI menargetkan terjadi pertumbuhan sebesar 10 persen di Provinsi Bengkulu.

“Kita terus dorong masyarakat memanfaatkan transaksi non tunai, ini penting karena bisa menghemat biaya percetakan uang juga,” ujar John.
Pemanfaatan transaksi non tunai diperkirakan bisa menghemat biaya untuk mencetak uang fisik sekitar 10-20 persen. Bahkan penghematan dari pencetakan uang fisik angkanya bisa mencapai Rp 16 triliun.
“Itu baru perkiraan, yang jelas banyak keuntungannya pakai transaksi non tunai,” imbuh John.
Keuntungan lainnya jika pemakaian uang tunai dapat terjadi pada seluruh transaksi di Indonesia maka dapat menghindari kerusakan pada uang kartal. Selama ini uang kartal pecahan kecil paling cepat rusak dan karena itu harus dihancurkan.

“Per tahun rata-rata uang yang harus dihancurkan BI sekitar Rp 5 hingga 7 miliar, ” kata John.
Dengan besarnya uang yang harus dihancurkan membuat BI mendorong gerakan pemanfaatan non tunai dan diharapkan pada 2024 bisa menjangkau 25 persen dari jumlah penduduk Indonesia, sehingga bisa menghemat uang negara.

“Pertumbuhan transaksi non tunai di Bengkulu masih 2 persen dibandingkan penggunaan uang kartal. Untuk itu kita mendorong agar masyarakat bisa memanfaatkan ini,” tutup John.(999)