Tolong Pahami ya, Lulusan SMK Dipersiapkan untuk Kerja

Bengkulu
Pelepasan praktik kerja industri (Prakerin) siswa SMKN 1 Tanjung Selor, Sabtu (11/3). Foto: Radar Tarakan/JPNN.com

jpnn.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kubudayaan (Disdikbud) Kalimantan Utara (Kaltara), Sigit Muryono, mengatakan, masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memahami keberadaan lulusan Sekolah Menengah Kejuaruan (SMK).

Sejatinya lulusan SMK tidak dipersiapkan melanjutkan ke pendidikan tinggi melainkan untuk dunia kerja.

“Tapi lulusan SMK dipersiapkan untuk bekerja,” ujarnya ditemui seusai pelepasan praktik kerja industri (Prakerin) siswa SMKN 1 Tanjung Selor, Sabtu (11/3).

Sigit menegaskan, dengan masuk ke dunia usaha dan industri tersebut, tidak lantas proses pendidikan atau peningkatan mutu secara personal terhenti secara total.

Selain itu, kata pria yang akrab disapa Sigit ini, lulusan SMK yang sudah bekerja masih tetap dapat melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Namun di pendidikan tinggi yang linier (berkaitan) dengan pendidikan vokasi atau pendidikan tinggi yang menunjang penguasaan keahliaan terapan tertentu.

“Karena pendidikan vokasi ini menjadi tulang punggung pendidikan yang erat hubungannya dengan dunia usaha dan industri,” pesannya.

Pendidikan vokasi, menurut Sigit untuk meningkatkan keahliaan.

Sehingga, lulusan SMK yang sudah bekerja dapat melanjutkan diploma satu dan dua di Akademi Komunitas Negeri (AKN), diploma tiga dan empat di politeknik.

Bahkan, jika pihak dunia usaha di mana lulusan tersebut bekerja, menginginkan ke jenjang lebih tinggi yang erat kaitannya dengan dunia kerja itu sendiri, maka bisa melanjutkan program magister sains terapan, hingga program doktor sains terapan.

“Sehingga lulusan SMK akan menjadi seorang ahli vokasi yang liner dengan KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia),” urainya.

Dikatakan, penerapan vokasi sangat memerlukan dukungan semua pihak. Baik itu dari unsur pemerintah, masyarakat, orangtua dan tentunya siswa itu sendiri.

Karena persoalan tersebut tidak terlepas dari bagaimana paradigma terhadap sekolah kejuruan dan pendidikan vokasi.

“Saya ingin sekali ketemu dengan orangtua siswa SMK terkait ini (pendidikan vokasi, Red),” pungkasnya. (isl/keg)