Tiket Pesawat Kelewat Mahal

Foto : Ist

Jumlah Penumpang Turun Signifikan

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Hingga kini harga tiket maskapai penerbangan di Bengkulu belum menunjukkan penurunan yang signifikan, bahkan penerbangan tujuan Bengkulu-Jakarta terendah masih berada dikisaran harga Rp 933 ribu dan tertinggi mencapai Rp 3 juta. Hal tersebut dikhawatirkan akan berdampak kepada menurunnya jumlah penumpang mudik Lebaran pada tahun ini.

Kepala Kantor UPBU Fatmawati Soekarno, Ir Anies Wardhana MM melalui Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Drs Sarosa MSi mengatakan belum ada penurunan tarif batas atas (TBA) dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI sehingga seluruh maskapai penerbangan di Bengkulu masih menggunakan tarif yang lama sesuai Keputusan Menhub RI Nomor KM 72 Tahun 2019.

“Kalau untuk tarif maskapai penerbangan di Bengkulu masih menggunakan aturan yang lama, belum ada penurunan,” kata Sarosa, kemarin (14/5).

Belum diturunkannya TBA, dikhawatirkan akan berdampak pada penurunan jumlah penumpang. Pasalnya sejak Januari 2019 lalu, jumlah penumpang di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu terus mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan 2018.

Dimana pada Januari 2019 jumlah penumpang yang berangkat dan datang melalui Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu hanya berjumlah 67.659 orang, menurun dibandingkan 2018 yang tercatat sebanyak 86.885 orang. Begitu juga dengan Februari dan Maret 2019 dimana masing-masing hanya mampu mencapai 52,036 orang dan 60,145 orang. “Penurunannya signifikan sejak harga tiket pesawat mahal, kemungkinan mudik tahun ini juga akan turun,” ujarnya.



Seperti diketahui, pada Mudik Lebaran Juni 2018 lalu, tercatat ada 94.696 penumpang yang menggunakan moda transportasi udara melalui Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu. Bahkan pada arus balik lebaran, di Juli 2018 tercatat mencapai 102.039 penumpang terjadi di Bandara ini. “Jika harga tiket masih mahal, kemungkinan penurunan jumlah penumpang bakal terjadi, hanya saja kami belum tau berapa besarannya,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Bengkulu, Nurmalena mengatakan, momen mudik dikenal sebagai musim puncak untuk para perusahaan maskapai, jika harga tiket pesawat tetap mahal maka mereka akan kehilangan penumpang pada tahun ini.

“Kalau masih mahal, tentu ada indikasi banyak yang tidak mudik pakai pesawat, bahkan lebih ekstrem lagi batal mudik tahun ini. Karena kampung halaman yang jauh,” ujar Nurmalena.

Semestinya pengambil kebijakan dan pihak maskapai bisa berpikir realistis, soal tiket pesawat yang masih mahal ini, karena para agent travel atau biro perjalanan ikut terkena imbasnya, dengan sepinya penjualan. Ia menilai maskapai tidak berpihak kepada travel agent, termasuk juga kepada masyarakat. “Ditambah lagi Menteri Perhubungan yang tidak berpihak kepada masyarakat apa lagi ke travel agent,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua DPD Organda Provinsi Bengkulu, Syaiful Anwar mengaku, tiket pesawat yang masih mahal membuat penggunaan jalur darat saat mudik diprediksi meningkat hingga 15%. Hal ini dipicu peralihan pemudik yang biasanya naik pesawat ke angkutan darat seperti bus dan kendaraan pribadi. “Tiket pesawat yang mahal akan membuat orang naik bus atau kendaraan pribadi,” kata Syaiful.

Ia menilai kenaikan tarif tiket pesawat merupakan kewajaran untuk menyeimbangkan rasio keberlangsungan sebuah usaha transportasi. Karena usaha transportasi bisa bertahan jika pendapatan lebih besar dari biaya operasionalnya. “Jika operasional lebih tinggi dari pendapatan, mereka rugi, kemungkinan itu yang membuat maskapai penerbangan masih tetap memberikan harga tiket tinggi,” tutupnya.

Maskapai Optimis Penjualan Tiket Naik

Sementara itu, meskipun harga tiket pesawat mahal dan dikeluhkan masyarakat, namun sejumlah maskapai penerbangan tetap percaya diri penjualan tiket mudik Lebaran 2019 ini meningkat. Bahkan maskapai penerbangan menargetkan penjualan tiket untuk mudik Lebaran nanti bisa naik sebesar 10 persen dibanding tahun lalu.

Corporate Communications Strategic Danang Mandala Prihantoro mengatakan, Lion Air Group menargetkan penjualan pada musim puncak (peak season) Ramadan dan Lebaran tahun ini naik 10-15 persen dibandingkan bulan biasa. Atas target tersebut, perusahaan menambah 20.150 ketersediaan kursi (extra flight) selama masa angkutan Lebaran dan liburan 2019. “Rata-rata musim liburan dan Lebaran tren travelling dengan permintaan menggunakan jasa penerbangan meningkat,” kata Danang, kemarin (14/5).

Selain itu, terkait isu harga tiket pesawat yang mahal saat ini, Danang memastikan bahwa Lion Air Group selalu menaati peraturan tarif batas atas (TBA) yang diberlakukan oleh pemerintah.  “Harga jual dari Lion Air Group masih sesuai aturan atau berada di bawah koridor tarif batas atas,” jelas dia.

Sementara itu, Branch Manager Garuda Indonesia Cabang Bengkulu, Yose Rizal mengatakan, penjualan tiket ketika Ramadan diprediksi akan meningkat hingga 10 persen dibandingkan bulan-bulan biasanya. Sebab, penerbangan pada Ramadan biasanya terbilang bagus dibandingkan bulan-bulan biasanya. “Kita prediksi pada Ramadan tahun ini ada peningkatan penjualan tiket sebesar 10 persen,” tuturnya.

Bahkan Garuda Indonesia yang membawahi anak perusahaan Citylink dan Sriwijaya Air pada tahun 2019 ini juga akan menambah jumlah ketersediaan kursi sekitar 50 ribu kursi se-Nasional. Jumlahnya naik dari tahun lalu yang hanya menambah sekitar 45 ribu kursi. “Kami tambah karena pemerintah memprediksi jumlah pemudik juga naik tahun ini,” ungkap Yose.

Sejauh ini, Yose mengaku, penjualan tiket Garuda untuk mudik sudah lebih dari 70 persen dari total tiket yang disediakan. Rata-rata masyarakat membeli tiket tujuan Jawa dan Padang.”Bengkulu juga penjualan tiketnya bagus, Pokoknya kami siapkan sesuai kebutuhan pelanggan pada Mudik ini nanti,” imbuh Yose.

Manajemen Garuda Indonesia optimistis penjualan mudik tak akan berkurang dibandingkan dengan tahun lalu hanya karena isu harga tiket pesawat yang mahal. Ia menyatakan konsumen Garuda Indonesia umumnya tak sensitif dengan harga. “Yang beli tiket kami orangnya beda, segmennya beda. Kami kan full service, jadi tidak terpengaruh,” tutupnya.(999)

Harga Tiket Bisa Picu Inflasi

Lonjakan harga tiket pesawat diperkirakan bisa memicu angka inflasi daerah. Bahkan pada April 2019 lalu, Bengkulu mengalami inflasi sebesar 0,54 persen dimana angkutan udara memberikan andil sebesar 0,4 persen. Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Dyah Anugrah Kuswardani MA mengatakan, pada April 2019 inflasi Bengkulu secara bulanan tercatat sebesar 0,54 persen, sedangkan secara tahunan 1,93 persen. Namun, ada satu hal yang patut diwaspadai, yaitu inflasi tarif angkutan udara. Sejak awal 2019, kenaikan harga tiket pesawat turut andil pada inflasi di Bengkulu.

“Setiap tahun, permintaan dan harga tiket pesawat selalu naik menjelang Idul Fitri. Sampai saat ini, meski low season, harga tiket pesawat masih mahal. Jika pada Idul Fitri harga tiket pesawat kembali naik, dampaknya terhadap inflasi akan semakin terasa,” kata Dyah, kemarin (14/5).

Ia menuturkan, inflasi pada Januari 2019 sebesar 0,88 persen dimana angkutan udara memberikan andil inflasi sebesar 0,41 persen. Begitu juga dengan Februari 2019, angkutan juga masih memberikan andil inflasi ke daerah sebesar 0,02 persen. Sementara pada Maret 2019, angkutan udara memberikan andil deflasi ke daerah sebesar 0,39 persen, hal ini disebabkan karena masyarakat sedikit memanfaatkan moda transportasi ini. “Hampir tiap bulan inflasi di Bengkulu pasti disebabkan oleh angkutan udara, kita takut nanti orang mudik banyak naik pesawat dan saat ini tiket juga masih mahal dan akan berdampak ke inflasi daerah,” tutur Dyah.

Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Setda Provinsi Bengkulu, Dr Anzori Tawakal ST menyatakan, pihaknya berharap kepada masyarakat, untuk sementara agar dapat membeli tiket pesawat jauh-jauh hari sebelum mendekati Idul Fitri.

Hal ini dilakukan agar bisa memperoleh harga tiket pesawat yang murah sekaligus mendukung inflasi daerah agar bisa terkendali dengan baik. “Kalau masyarakat membeli tiket sejak dini maka harganya belum begitu naik, tetapi kalau mendekati lebaran maka akan sangat mahal,” tuturnya.

Disisi lain, Ia mengaku di luar tarif tiket pesawat dan transportasi lainnya, harga-harga diramal tetap terkendali dan rendah selama Ramadan, bahkan sampai akhir tahun. Ketersediaan dan pasokan barang sejak Ramadan dan Idul Fitri tahun lalu sampai tahun ini diprediksi terjaga. “Harga-harga pangan sangat terjangkau, bahkan sejumlah harga bahan pangan mengalami deflasi,” tutupnya.(999)




    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*