Ternyata Manfaatkan Pekarangan Bisa Tekan Inflasi

BENGKULU, Bengkuluekspress.com – Pemerintah Provinsi Bengkulu terus berusaha menekan angka inflasi yang cenderung lebih tinggi dari inflasi nasional. Salah satu langkah lanjutan yang direncanakan Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bengkulu dengan pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lahan untuk menanam Holtikultura (tanaman kebun).

“Kalau saja dalam satu rumah tangga kita bisa mengatur sisi pengeluaran, seperti bisa memenuhi kebutuhan sendiri dengan memanfaatkan tanaman Holtikura yang ditanam di pekarangan rumah. Misalnya tidak lagi membeli cabe karena sudah bisa memetik sendiri maka itu bisa membantu menekan angka inflasi,” kata Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Ir H Edy Waluyo SH MM usai menghadiri rapat tertutup TPID di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, kemarin (19/3).

Ini diaminkan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu, Muslih di depan awak media kemarin.

“Kami sudah lama membuat program, IRT tidak membeli sayur. Karena dari hasil rapat diketahui konsumsi rumah tangga ini sebagai penyumbang inflasi terbesar yakni 0.8%,” katanya.
Dilanjutkan Muslih, hal ini sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan pekarangan rumah bahkan bisa menekan angka inflasi sampai nol. Ia juga berencana bakal memberikan bibit tanaman Holtikultura yang bisa panen sebulan 1 kali kepada IRT yang menginginkan.

“Kalau mau nanti kita bakal membagikan bibit tanaman kepada ibu-ibu yang mau dengan membuat kelompok,” tambahnya.

Namun, Muslih cenderung pesimis melihat perilaku masyarakat di Kota Bengkulu pada umumnya malas. Padahal, menurut Muslih, jika masyarakat bisa memanfaatkan pekarangan maka mereka juga akan mendapatkan penambahan hasil yang bisa dijual.

Disamping itu, tingginya angka inflasi disebabkan dinamika distribusi barang termasuk bahan pangan yang tanpa disadari memengaruhi gejolak harga. Ini juga ditambah dengan pungutan liar (pungli) di sepanjang jalan jalur distribusi.

“Yang terkenal seperti di daerah Binduriang, siapa saja yang lewat masih dipungut (pungli),” beber Muslih. (adw)