Terkena Gizi Buruk, Butuh Uluran Tangan

Bara Okta Putra bersama kedua orang tua saat menerima asupan gizi dari petugas Puskesmas Talang Rimbo Lama.
Bara Okta Putra bersama kedua orang tua saat menerima asupan gizi dari petugas Puskesmas Talang Rimbo Lama.

Melihat Kondisi Bara Okta Putra (3) Balita Penderita Hidrosefalus

Kondisi Bara Okta Putra (3) tidak sebaik anak balita pada umumnya. Hal tersebut karena ia sudah menderita penyakit Hidrosefalus sejak berusia 1 minggu. Kondisi Bara panggilannya kian parah karena selama satu bulan terakhir juga didiagnosa dokter menderita gizi buruk. Penyakit Gizi buruk yang dialami Bara merupakan penyakit penyerta Hidrosefalus yang dialaminya, Bagaimana kondisi buah hati pasangan Thamrin (34) dan Erna (24) tersebut, berikut laporannya;

ARI APRIKO, Curup Selatan

BARA Okta Putra merupakan bungsu dari tiga bersaudara buah hari pasangan Thamrin dan Erna. Bara bersama kedua orang tuanya dan dua kakak perempuannya tinggal di kompleks perumahan SDN 03 Curup Selatan yang ada di Desa Teladan.

Menurut cerita sang ibu, Erna, tanda-tanda kelainan yang dialami Bara sudah ia rasakan sejak usia kehamilan satu bulan, dimana saat hamil bara ia kerap mengalami pendarahan, namun karena saat itu ia bersama sang suami tinggal dikebun dan jauh dari akses medis sehingga tidak pernah mengecek atau periksa kehamilan. Sementara itu tanda-tanda Hidrosefalus yang diderita Bara sudah mulai terlihat saat ia baru berusia 1 minggu. “Saat itu sudah mulai terlihat benjolan dikepala Bara,” cerita Erna sembari menggendong Bara.

Menurut Erna pihak pemerintah Rejang Lebong telah memberikan bantuan medis kepada Bara, bahkan anaknya tersebut pernah di bawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di jakarta untuk operasi pemasangan selang. Operasi sendiri dilakukan pada saat Bara berusia 3 bulan. Pasca operasi dokter menyarankan untuk melakukan kontrol minimal sebanyak tiga kali.

“Meskipun dokter menyarankan untuk melakukan kontrol minimal tiga kali, namun kita hanya melakukan sekali yaitu pada usia 6 bulan,” aku Erna.

Menurut Erna, mereka tidak bisa melakukan kontrol untuk kedua dan ketiganya karena terkendala masalah biaya. Meskipun biaya pengobatan Bara ditanggung pemerintah namun biaya kedua orang tuanya untuk mendampingi bara selama masa pengobatan tidak ada.
Menurut Erna suaminya hanyalah seorang pekerja serabutan, kadang sang suami mencari barang-barang bekas. Namun kadang kala menjadi supir ojek. Saat mengojekpun motor yang digunakan adalah motor saudara mereka dimana sewa dalam seharinya sebesar Rp 15 ribu.

“Ya pendapatan bapak paling cukup untuk kami makan sehari saja, meskipun untuk sewa perumahan ini tidak ada,” jelas Erna.

Dengan kondisi yang dialaminya, saat ini Bara hanya memiliki beratb badan seberat 9,2 Kg, padahal berat balita usia 3 tahun minimal 3 Kg.
Sementara itu, menurut menurut keterangan Weni Oktaria, AMG petugas gizi Puskesmas Talang Rimbo Lama Kecamatan Curup Tengah, penyakit gizi buruk yang dialami Bara merupakan penyakit penyerta Hidrosefalus yang dideritanya.

“Untuk gizi buruk yang dialami bara ini baru terjadi satu bulan terakhir, kalau selama ini badannya lumayan gemuk dan nafsu makannya kuat,” ungkap Weni yang sudah lama melakukan pendampingan terhadap Bara.

Menurut Weni disela-selam memberikan bantuan asupan gizi kepada Bara Selasa (1/12) kemarin penurunan berat badan yang dialami Bara akibat penyakit infeksi dan diare ditambah lagi kemampuan pencernaan yang kurang baik sejak kecil.

Karena menurut Weni diusia tiga tahun saat ini Bara cuma mampu mencerna bubur dan susu saja padahal dikondisi normal balita seumurnya sudah makan makanan seperti orang dewasa

Lebih lanjut ia menjelaskan, asupan makanan yang diberikan kepada penderitan ini pun tidak bisa maksimal diberikan karena sedikit memforsir asupannya balita ini akan mengalami diare, akibatnya berat badan Bara Okta Putra yang sebelumnya sudah 12 kg turun drastis menjadi 9,2 kg termasuk cairan dikepalanya sehingga menjadi gizi buruk.

Sementara itu penyebab gizi buruk yang dialminya juga dikarenankan buruknya sanitasi rumah dan kurang layaknya sehingga penderita rentan mengalami penyakit infeksi selain penyakit hidrosefalus yang dialaminya saat ini.

“Beberapa langkah sudah dilakukan Dinas Kesehatan khususnya melalu kami Pihak Puskesmas, salah satunya memberikan intervensi melalui pemberian makanan tambahan selama 120 hari pada 2014 lalu dan pada tahun ini juga dilanjutkan dengan pemberian biskuit makanan Pendamping ASI (MP-ASI). (**)