Temuan Kerangka Korban Tsunami, Bikin Geger Banda Aceh

Sudah hampir delapan tahun bencana tsunami Aceh berlalu, namun warga Banda Aceh kembali geger dengan penemuan kerangka manusia yang diyakini adalah korban bencana dahsyat dipenghujung 2004 itu.

Kerangka tersebut mulanya ditemukan oleh buruh bangunan saat menggali septic tank di pekarangan rumah milik Sofyatuddin di Jalan A Majid Ibrahim tepatnya depan SMP Negeri 1 Banda Aceh.

“Kami temukan kerangkanya saat menggali septic tank, setelah menggali sekitar 80 centi meter, langsung mengenai kerangka tersebut,” ujar Yuslizar, buruh bangunan yang menemukan kerangka itu pada wartawan, Selasa (16/10/2012).

Menurutnya kerangka itu awalnya ditemukan pada Sabtu (13/10) akhir pekan lalu. Saat diketahui ada kerangka manusia, ia bersama temannya, Basiron, tak berani lagi melanjutkan penggalian.

Keesokan harinya ia melaporkan temuan tersebut dan pagi tadi dilanjutkan penggalian setelah polisi tiba di lokasi. Ditemukanlah semua tulang belulang kecuali tengkorak atau batok kepala.

Selain itu juga ditemukan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNKB) yang sudah sulit dibaca dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) merah putih. Di KTP yang berlaku di Aceh semasa berstatus Darurat Militer tertulis nama Mursidi Ibrahim, lahir pada 1971, warga Kampung Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.

Bersama kerangka itu juga ditemukan baju berkerah dan bergaris-garis biru serta celana berwarna orange yang sudah tak utuh lagi.

Kepala Dusun Pocut Murah Insen, Kampung Mulia, Samsuddin membenarkan bahwa Mursidi Ibrahim adalah warganya yang hilang saat tsunami 26 Desember 2004.

Menurutnya Mursidi adalah warga Lampaseh, Banda Aceh yang menikah ke Kampung Mulia. Isterinya Ida Yani, selamat dari amuk tsunami dan saat ini bekerja sebagai PNS di Pulau Simeulu, Aceh.

Informasi temuan tersebut diteruskan kepada keluarga korban. Murliani, kakak kandung Mursidi memastikan bahwa kerangka itu adalah adiknya. Isak tangis Murliani tak terbendung saat melihat tulang belulang saudaranya. “Allahu Akbar, Allahu Akbar,” ucapnya dengan terisak.

Sebelum memastikan kerangka itu adiknya, Murliani sempat menghubungi Ida Yani di Simeulu. Dibalik telpon, Ida Yani mengaku masih ingat pakaian dikenakan suaminya menjelang gempa 8,9 Skala Richter yang disusul tsunami adalah baju garis-garis biru dan celana pendek warna orange, persis seperti yang ditemukan bersama kerangka itu.

Setelah digali semua oleh tim PMI, tak ditemukan batok kepala. Menurut penjaga rumah tersebut, saat pembangunan pagar dulu tukang yang menggalinya ada menemukan tengkorak manusia namun langsung dikuburkan. Sayangnya tak diketahui lagi dimana lokasi kuburan itu.

Semua kerangka tersebut dibawa pulang ke rumah Murliani di Lampulo, Banda Aceh sebelum dikebumikan secara Islam di pemakaman umum Kampung Mulia.(**)