Tekan Impor Pangan

Masyarakat Harus Tanam Sayur dan Buah

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Menanggapi tingginya angka impor pangan di Indonesia yang telah mencapai hingga 80 persen, Dinas Ketahanan Pangan (DKTP) Provinsi Bengkulu mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan rumahnya dengan menanam sayur dan buah-buahan. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya gejolak harga pangan di pasar.

“Saya rasa masyarakat harus membiasakan diri memanfaatkan pekarangan untuk menanam berbagai jenis tanaman seperti buah dan sayur sehingga kebutuhan pangan dan gizinya terjamin,” kata Kepala DKP Provinsi Bengkulu, Ir Ramlan, kemarin (6/12).

Menurutnya, dengan menanam sayuran dan buah di pekarangan rumah, maka secara langsung telah mendukung upaya pemerintah untuk menekan impor pangan dari luar negeri. Selain itu, kegiatan ini juga berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat karena bisa mengurangi pengeluaran rumah tangga. “Kalau dipekarangan banyak sayuran dan buah-buahan maka tidak perlu membeli lagi,” tutur Ramlan.

Selain itu, dengan selalu memanfaatkan produk lokal seperti sayuran dan buah-buahan maka kandungan gizi yang diperoleh juga lebih baik daripada produk impor. Karena produk lokal yang dihasilkan sendiri tidak melalui proses pengawetan. Sayuran dan buah-buahan lebih segar karena langsung dipanen dari kebun sendiri.

“Misalnya, kalau dari luar harus diawetkan dulu, ada proses bioteknologi, jadi sayuran atau buahnya tetap segar walau perjalanan jauh. Padahal makanan itu tidak didesain untuk perjalanan panjang,” ungkap Ramlan.

Menurut Ramlan, nutrisi yang dihasilkan dari sayuran dan buah-buahan lokal juga bisa lebih baik dibanding produk impor. Sebab, terkadang bahan pangan impor dipanen sebelum waktunya agar tidak mengalami pembusukan ketika sampai di pasaran Indonesia. Hal ini lah yang membuat kandungan nutrisi dari sayuran atau buah-buahan tersebut tidak maksimal. “Kalau lokal, meskipun bukan bahan pangan organik, memiliki rasa yang lebih baik dan nutrisi lebih tinggi karena dipanen saat benar-benar matang,” terang Ramlan.

Sementara itu, Pakar Ekonomi Universitas Bengkulu, Prof Dr Kamaludin MM mengatakan Indonesia harus melepas ketergantungannya kepada produk impor. Apalagi konsumsi buah dan sayuran masyarakat Indonesia masih rendah, bahkan di bawah standar Organisasi Pangan Dunia (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Berdasarkan hasil survei, tingkat konsumsi buah dan sayuran baru mencapai 180 gram per kapita per hari, padahal standar WHO 400 gram per kapita per hari,” ujar Kamaludin.

Data tersebut tidak jauh berbeda dengan survei sebelumnya pada 2014. Bahkan dalam standar WHO merinci dari 400 gram per kapita per hari tersebut sebanyak 250 gram sayuran dan 150 gram buah-buahan. Demikian pula dengan publikasi terkini Badan Pusat Statistik yang menunjukkan adanya penurunan konsumsi sayuran dan buah-buahan masyarakat Indonesia. Hal ini tentunya akan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mengonsumsi buah-buahan dan sayuran.

Selain itu, pengetahuan masyarakat untuk mengonsumsi sayuran dan buah-buahan juga masih sangat terbatas, seperti sayuran terbanyak masih didominasi bayam, kakung, dan kol, sedangkan untuk buah-buahan paling banyak masih pisang.

“Padahal masih banyak jenis dan ragam sayuran dan buah-buahan agar menu yang disajikan di meja makan lebih beragam dan bervariasi. Tentunya ini akan mendorong dalam keluarga khususnya anak-anak mengonsumsi lebih banyak sayuran dan buah-buahan,” tutupnya.(999)