Tekan Harga Pangan BI Gandeng Ulama

Kepala BI Endang Kurnia Saputra
=foto
Endang Kurnia Saputra

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bengkulu bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bengkulu menggelar silaturahmi dengan para ulama di Hotel Santika Bengkulu, Senin (28/5). Para ulama diajak untuk membantu pemerintah menekan gejolak harga pangan selama Ramadan dan jelang Hari Raya Idul Fitri 1349 Hijriah.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra mengatakan, pihaknya menggandeng para ulama untuk membantu mensosialisasikan pentingnya menjaga stabilitas harga agar tidak memicu inflasi. Dengan cara mengimbau masyarakat agar tidak berlebihan mengkonsumsi pangan saat Ramadan terlebih pada H-14 hingga hari H lebaran.

“Ini adalah upaya BI untuk bisa mengendalikan inflasi di Bengkulu selama Ramadan. Kami berharap para ulama bisa memberi penjelasan kepada masyarakat agar mereka tidak terlalu banyak melakukan konsumsi,” kata Endang.

Menurutnya, dengan bantuan ulama, maka pola konsumtif masyarakat dapat ditekan. Hal ini menimbang peran ulama yang dalam masyarakat meupakan sosok yang dipandang dan didengarkan nasehatnya. Sehingga dengan imbauan ulama ini dapat menekan gejolak harga sehingga tidak berdampak pada meningkatnya inflasi di Bengkulu.
“Kami berharap Ulama bisa bersama-sama dengan BI dan Pemerintah menekan angka inflasi daerah,” terang Endang.

Seperti diketahui, perkembangan inflasi Kota Bengkulu untuk priode Januari-April 2018 mencapai 1,32 persen. Ramadan menjadi kunci keberhasilan pengendalian Inflasi sepanjang tahun di Bengkulu, jika angka inflasi terkendali maka inflasi tahunan masih dalam batas wajar atau 3,5 persen plus minus 1.

“Untuk itu BI dan Pemerintah Provinsi Bengkulu mengajak ulama se-Provinsi Bengkulu untuk ikut berkontribusi menyampaikan pentingnya pengendalian inflasi melalui pengaturan pola konsumsi masyarakat dan penetapan margin yang wajar kepada para pedagang,” tutup Endang.

Sementara itu, Plt Gubernur Bengkulu, Dr drh H Rohidin Mersyah MMA mengatakan, ada dua indikator besar kemajuan ekonomi suatu daerah, pertama inflasi, dan kedua pertumbuhan ekonomi. Inflasi harus dikendalikan agar uang yang dimiliki masyarakat tetap berharga nilainya dan pertumbuhan ekonomi juga harus dipacu. “Dua indikator ini yang bisa membawa kesuksesan bagi daerah, untuk itu sama-sama inflasi kita jaga dan pertumbuhan ekonomi kita tingkatkan,” kata Rohidin.

Diakui Rohidin, dalam menjaga dan mengendalikan inflasi dilakukan dengan beberapa cara yaitu hard dan soft. Pengendalian inflasi dengan cara hard itu sifatnya teknis tergantung regulasi sementara pengendalian dengan cara soft seperti merangkul para ulama dengan nilai-nilai agama untuk secara aktif mendorong masyarakat jangan berlebih-lebihan mengkonsumsi barang saat Ramadan. “Prinsip ini saya rasa harus dilakukan dan dijalankan oleh masyarakat, karena segala sesuatu yang berlebihan dalam agama itu tidak baik,” tukas Rohidin.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bengkulu, Prof Dr H Rohimin MAg mengatakan, Islam kaya dengan konsep inflasi. Di mimbar, ulama selalu memberikan tausiahnya untuk tidak berlebih-lebihan dan tidak melakukan hal mubazir dalam berkonsumsi, dan itu merupakan salah satu ciri umat muslim. Perilaku konsumsi yang tidak berlebihan serta mubazir tidak hanya dilakukan saat Ramadan, tetapi bisa dilakukan secara terus menerus didalam diri seseorang. “MUI mendukung Pemda dan mengajak ulama mensukseskan hal ini, demi kebaikan Bengkulu,” tutupnya. (999)