Tanyakan Pasar Subuh, Kompor Datangi DPRD Kota

Para-aktifis-Kompor-mendatangi-DPRD-Kota-Bengkulu
Para-aktifis-Kompor-mendatangi-DPRD-Kota-Bengkulu

MUARA BANGKAHULU, BE – DPRD Kota Bengkulu kedatangan sejumlah aktivis yang mengatasnamakan Koalisi Mahasiswa Pro Rakyat (Kompor), kemarin.  Kedatangan mereka ini adalah untuk meminta kepada DPRD Kota agar mau mendesak Pemda Kota untuk melakukan revitalisasi atas Pasar Subuh.

“Kemarin sudah ada kesepakatan melalui perjanjian antara walikota dengan para pedagang bahwa dalam seminggu Pasar Subuh harus bersih. Kemudian setelah perjanjian tersebut, Pemda Kota mau apa? Selanjutnya bagaimana? Kami datang untuk menanyakan hal-hal ini,” kata Koordinator Kompor, Deno Andeska Marlandone dalam hearing yang dilakukan dengan Komisi III DPRD Kota.

Dipaparkan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bengkulu ini, para pedagang Pasar Subuh tetap menolak untuk pindah ke Pasar Barukoto.  Menurut Kompor, penolakan ini karena trauma sejarah masa lalu yang pernah mereka alami.  “Menurut kajian kami, relokasi Pasar Subuh Mandiri (PSM) ke Pasar Barukoto kontradiktif dengan studi kelayakan, baik studi kelayakan sosial ekonomi, perspektif hukum, maupun perspektif konflik yang akan ditimbulkan bila dilakukan relokasi,” imbuhnya.

Menjawab hal ini, Ketua Komisi III DPRD Kota Suimi Fales SH mengungkapkan, pihak legislatif semula menginginkan kesepakatan yang telah dibuat antara Pemda Kota dengan pedagang dapat dipegang teguh.  “Kalau pedagang berkomitmen dengan kesepakatan tersebut, persoalan Pasar Subuh ini akan lebih cepat selesai,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa sebenarnya keinginan Pemda Kota dibalik relokasi ini dapat dimaklumi. Pasalnya, Pemda Kota mempunyai kewajiban untuk melakukan pembangunan di satu sisi, dan perlindungan bagi warga masyarakat yang terganggu dengan aktivitas Pasar Subuh di sisi yang lain.

“Tapi bukan berarti kita DPRD Kota tidak pernah melakukan apa-apa. Dahulu kita perjuangkan agar Pasar Subuh ini di Perda-kan di zaman Walikota Ahmad Kanedi.  Tapi konteks sekarang persoalan ini sekarang menjadi perdebatan kembali,” paparnya.

Sementara anggota Komisi III lainnya, Sofyan Hardi mengutarakan, ia telah menganjurkan kepada Pemda Kota untuk secara berkelanjutan memberikan imbauan persuasif dan penjelasan yang memadai mengenai pentingnya relokasi Pasar Subuh.

“Saya juga pernah mengatakan bahwa sebaiknya ada MoU (Memorandum of Understanding) dimana Pemda Kota harus berkomitmen bila Pasar Barukoto II sepi, maka Pemda Kota harus membiarkan para pedagang untuk kembali ke Pasar Subuh dan di-Perda-kan.  MoU inilah yang akan dijadikan oleh semua pihak untuk menentukan masa depan pasar tersebut.  Saya secara pribadi siap memperjuangkan agar para pedagang dapat kembali berjualan dengan aman dan nyaman bila sudah ada uji coba di Pasar Barukoto II,” jelasnya.

Namun apabila para pedagang Pasar Subuh tetap mengotot untuk berjualan di Pasar Barukoto II, lanjutnya, pihak legislatif pada dasarnya tetap akan memperjuangkan mereka.  “Hanya saja terbatas pada kewenangan kami sebagai anggota DPRD Kota dan tidak mengangkangi kewenangan yang dimiliki oleh pihak eksekutif,” pungkasnya.
Selain Suimi Fales SH MH dan Sofyan Hardi, turut hadir M Awaludin. Kompor sendiri merupakan berbagai organisasi kemahasiswaan diantaranya adalah PMII, HMI, GMNI, IMM, DPM Unihaz dan lain-lain. (009)