Tanaman Cabai Juga Diserang Penyakit

Hari (32) salah satu petani di Kecamatan Selupu Rejang saat menunjukkan tanaman cabai petani yang terserang penyakit busuk kering dan bule. Kedua penyakit tersebut masih menjadi momok para petani cabai di Rejang Lebong.
Hari (32) salah satu petani di Kecamatan Selupu Rejang saat menunjukkan tanaman cabai petani yang terserang penyakit busuk kering dan bule. Kedua penyakit tersebut masih menjadi momok para petani cabai di Rejang Lebong.

CURUP, Bengkulu Ekspress – Curah hujan tinggi disertai dengan cuaca ekstrim yang melanda Kabupaten Rejang Lebong dalam beberapa waktu terakhir tak hanya berdampak serangan penyakit pada tanaman kol bula. Namun serang penyakit tersebut juga melanda tanaman cabai.

Hari Setiawan (32) salah satu petani cabai di Kelurahan Cawang Baru Kecamatan Selupu Rejang menjelaskan, serangkan penyakit atau hama yang melanda tanaman cabai warga diantaranya adalah penyakit bule hingga penyakit busuk kering.

“Serangan dua penyakit ini hampir dialami seluruh petani cabai yang ada di Rejang Lebong ini,” terang Hari.
Dijelaskan Hari, untuk penyakit bule ini sendiri, ditandai dengan berubahnya warna pucuk cabai menjadi kuning, dan kondisi tersebut berdampak pada produktifitas dari tanaman cabai itu sendiri yang menjadi kurang. Penyakit bule itu sendiri merupakan dampak dari cuaca ekstrim pada saat proses tanam sebelumnya, sehingga kondisi cuaca yang lembab menyebabkan penyakit mudah menyebar dan berkembang.

Dijelaskan ia, penyakit itu disebabkan oleh bakteri yang menyebar dari dalam akar, kemudian tanaman yang terserang akan menjadi sedikit kerdil dengan kondisi daun berubah menjadi kekuningan.

“Yang jelas dampak dari serangan hama atau penyakit ini, hasil panen kami tidak maksimal,” tambah Hari
Menurut Hari, akibat serangan penyakit bule tersebut, produktifitas tanaman cabai milik petani bisa merosot hingga 50 persen dari target panen. Karena menurutnya bila tanaman cabai tidak terkena penyakit bule, dari luasan tanam setengah hektar hasil panennya mencapai 10 karung, sementara saat ini hasil panennya hanya berkisar 4 hingga 5 karung saja.

Untuk meminimalisir kerugian, ditambahkan Hari banyak kalangan petani diwilayah itu termasuk dirinya melakukan panen petik hijau, meski sebenarnya cabai tersebut untuk dipetik merah.

Sementara itu, Turidi (57) petani cabai di Desa Kampung Baru Kecamatan Selupu Rejang menjelaskan penyakit busuk kering yang menimpa tanaman cabai petani yang masuk musim buah pertama rentan terserang penyakit tersebut.

Menurut Turidi, penyakit tersebut sejak awal tak dapat diprediksi karena pola serangan penyakit tersebut saat tanaman sudah tumbuh besar, yang kemudian tiba-tiba layu dan kering.

“Sepertinya karena bakteri, menyernagnya dari dalam akar, awalnya tanaman tumbuh subur, kemudian masuk masa buah mulai layu, ya bersyukurnya masih bisa panen,” tutup Turidi.
Lantaran terserang penyakit dan mengantisipasi mengalami kerugian yang lebih banyak, para petani lebih memilih memanen awal cabainya meskipun masih berwarna hijau, karena bila dibiarkan maka buah cabai akan ikut membusuk terutama untuk yang terserang penyakit busuk kering.

Namun menurut Hari dan Turidi, meskipun tanaman cabai petani terserang penyakit busuk kering dan bule para petani cabai masih bisa dibantu dengan tingginya harga cabai dikalangan petani saat ini. Dimana untuk cabai merah saat ini ditingkat petani sudah mencapai Rp 32 ribu sedangkan untuk cabai hijau mencapai Rp 17 ribu per Kg.

“Meskipun saat ini tanaman cabai kita diserang penyakit, namun kita masih beruntung kena harga mahal, sehingga tidak terlalu rugi,” demikian Turidi.(251)