Tambal Ban Gunakan Gas Melon

2Sosialisasi penggunaan gas Elpiji sebagai pengganti bahan bahan bakar minyak (BBM) tampaknya mulai diminati masyarakat saat ini, termasuk dengan pemilik usaha tambal ban. Bahkan, kini hampir seluruh tukang tambal ban di Kabupaten Lebong sudah memanfaatkan gas elpiji Melon atau tabung gas berukuran 3 kg dan tabungnya berwarna hijau sebagai piranti untuk memperlancar pekerjaan mereka. Berikut laporannya:

Dwi Nopiyanto – Lebong

Dihapuskannya minyak tanah oleh pemerintah dan mengkonfersi dengan gas elpiji ukuran 3 Kg yang disubsidi pemerintah, tampaknya saaat ini sudah merambah hingga ke tukang tambal ban di Kabupaten Lebong. Tukang tambal ban banyak yang menggunakan gas elpiji 3 Kg sebagai bahan bakar untuk membakar tambalan ban dalam kendaraan roda dua maupun roda empat.
Seperti yang dilakoni Ujang (35) salah satu penambal ban di Kelurahan Kampung Jawa yang sejak tiga tahun terakhir ini telah menggunakan gas elpiji 3 kg sebagai pengganti minyak tanah. “Setelah kami memakai gas ini pekerjaan lebih lancar, praktis dan ngirit. Tidak harus beli minyak tanah yang kadang sulit didapat disini,” kata Ujang.
Menurut Ujang, tidak hanya dirinya saja yang menggunakan gas elpiji tersebut, namun rata-rata penambal ban di Lebong saat ini telah menggunakan gas elpiji tersebut sejak minyak tanah hilang dipasaran. Gas Elpiji ini mulai dipergunakan di tempat usaha penambalan mereka sebagai peralatan pres ban dalam dan ban luar, baik untuk roda dua atau empat. Sebelumnya, alat pres itu harus menggunakan minyak tanah untuk mencari sumber api.
Untuk penggunaan elpiji itu, dia cuma mengubah tampilan alat pres saja, yakni dengan menambah lempengan besi sebagai media pengantar panas. Lempengan besi itu dipanaskan dengan kompor gas ukuran kecil. “Caranya ban dalam tinggal dipres di lempengan besi, lalu tinggal menghidupkan kompor gas. Lama pres juga tidak selama saat menggunakan minyak tanah, cukup 15 menit ban dalam yang dipres langsung selesai,” kata Ujang. (**)