Talkshow “Hot Issue” BETV

 

Talkshow "Hot Issue" BETV, bertema" Bengkulu Penggerak Ekonomi Sumatera, Mungkinkah?", yang dipandu GM BETV Susanto
Talkshow “Hot Issue” BETV, bertema” Bengkulu Penggerak Ekonomi Sumatera, Mungkinkah?”, yang dipandu GM BETV Susanto

Bengkulu Penggerak Ekonomi Sumatera

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Provinsi Bengkulu yang memiliki pelabuhan Pulau Baai dengan luas 1200 hektar lebih tentunya akan menjadi potensi dalam kemajuan ekonomi di provinsi Bengkulu. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kedepan pelabuhan ini akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru bertaraf nasional untuk wilayah Pantai Barat Sumatera.

Hal ini, dikupas habis dalam, Talkshow “Hot Issue” BETV, bertema” Bengkulu Penggerak Ekonomi Sumatera, Mungkinkah?”, yang dipandu GM BETV Susanto, dan tayang nanti malam, Rabu 14 Februari 2018, pukul 20.00 WIB. Hadir dalam acara ini adalah, Plt Gubernur Bengkulu, DR H Rohidin Mersyah MMA, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra, GM PT Pelindo II (Persero) Cabang Bengkulu, Drajat Sulistyo, serta akademisi, pengusaha, ekonom, dan undangan lainnya.

Dalam hal ini, Plt Gubernur Bengkulu, DR H Rohidin Mersyah MMA mengatakan potensi geografi dan kekayaan sumber daya alam (SDA) serta potensi pariwisata bernuansa maritim yang cukup banyak di Provinsi bengkulu tentunya juga akan mendorong percepatan pembangunan ekonomi tersebut. Potensi mobilitas pelabuhan itu menjadi ukuran yang paling nyata kemajuan ekonomi daerah, baik itu pelabuhan udara maupun laut.

“Nah Bengkulu beruntung mendapatkan anugerah pelabuhan alam dihulu samudera, saya kira pelabuhan besar seperti ini satu-satunya di Indonesia, apalagi di bagian barat Sumatera ditambah lokasi yang strategis dekat dengan pusta kota, bandara dan lainnya,” ungkap Rohidin.

Keberadaan pelabuhan yang strategis seperti ini dikawasan barat pulau Sumatera, lanjut Rohidin, menjadi konektifitas ke dunia luar seperti eropa, asia tengah, termasuk asia tenggara itu akan menjadi mudah. Maka diharapkan ini dapat menjadi engine atau penggerak ekonomi Bengkulu bahkan ekonomi dikawasan barat pulau Sumatera. “Ini bukan mimpi, pergerakannya bisa kita lihat sekarang,” lanjutnya.

Kemudian, sumber daya ekonomi Bengkulu yang paling utama berdasarkan data statistik yakni batu bara, CPO (Sawit), karet, kopi, kayu dan sebagainya. Artinya gerak akslerasi sumber daya ini untuk keluar dari Bengkulu membutuhkan moda transportasi, jadi bagaimana potensi batubara dari Bengkulu Utara, Lebong, Muko-muko dan Bengkulu Tengah dibawa keluar provinsi Bengkulu dengan adanya managemen transportasi yang lebih efisien dari sisi biaya serta mengurangi beban transportasi jalan raya, maka efek pengembangan pembangunan pelabuhan pulau bai maka diharuskan adanya pelabuhan penyangga.

“Maka keberadaan pelabuhan linau, pelabuhan injatama yang saat ini merupakan pelabuhan khusus kita naikkan statusnya menjadi pelabuhan umum. Tentunya kedepan akselerasi ekonominya akan menjadi luar biasa dan semakin besar,” jelas Plt Gubernur.

Dikatakan Plt Gubernur, hal tersebut saat ini bukan lagi sebuah wacana melainkan sudah bergerak pada posisi saat ini. Jadi, bagaimana akselerasi ini betul-betul dapat terkonektifitas pada pembangunan nasional dan proses didalamnya dari segi regulasi, fasitlitasi, serta sinergitasnya akan lebih mudah maka harus dibangunya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Provinsi Bengkulu.

“Ketika kawasan pulau bai tersebut menjadi Kawasan Ekonomi Khusus, maka akan mendapat kemudahan dari sisi kebijakan terkait perizinan dan sebagainya. Karena kalau ada KEK, orang yang datang saat itu bisa langsung berinvestasi dan perizinan bisa menyusul. Apalagi, KEK di Bengkulu ini memang sudah siap karena sudah terintegrasi dengan pelabuhan, maka bisa dikatakan KEK di Provinsi Bengkulu ini berbeda dengan daerah-daerah lain,” kata Rohidin.

Selain itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra menanggapi hal tersebut mengatakan bahwa untuk tahun lalu, pertumbuhan ekonomi rill Provinsi Bengkulu hanya 0,3 persen, sedangkan saat ini sudah mencapai 1,3 persen. Tentunya saat ini memang pertumbuhan ekonomi di Bengkulu meningkat, termasuk pertumbahan ekspor juga meningkat.

“Sebetulnya dari tahun-ketahun Bengkulu ini mengalami pertumbuhan ekonomi, mungkin secara kasat mata masyarakat tidak melihatnya, tetapi kalau kita lihat sekarang seperti mercure telah masuk di Bengkulu. Berarti ini ada pertumbuhan ekonomi secara rill,” kata Endang.

Ada dua hal yang perlu dilakukan, sambung Endang, pertama perlu adanya perhatian yang jauh lebih besar dari pemerintah pusat, karena saat ini perhatian tersebut masih datar.

Kemudian, adanya peningkatan investasi nasional, karena Bengkulu ini nantinya akan menjadi aset nasional dilihat dari Pelabuhan Pulau Bai dan bukan sekedar aset Sumatera. Karena pelabuhan ini luasnya tiga kali lipat dari pelabuhan tanjung priuk dan terbesar di Sumatera bagian barat.

“Ini bagaikan berlian yang berada didalam lumpur, kita harapkan Presiden nantinya bisa melihat bagaimana besarnya potensi Pelabuhan Bengkulu yang bisa menjadi pelabuhan ekspor dari Sumatera ke asia selatan, afrika tanpa melalui selat malaka. Tentunya hal tersebut lebih mudah dan efisien,” jelas Endang.

Diungkapkannya, saat ini pihaknya memiliki data empiris dimana 10 tahun hasil riset ternyata jembatan utama Bengkulu adalah pelabuhan pulau baai. Berarti dengan demikian, pulau baai memang betul-betul aset Nasional dan saat ini tinggal meminta perhatian yang jauh lebih besar dari Kementerian terkait untuk bisa membangun Pelabuhan pulau bai lebih cepat. “Ini tentunya menjadi tugas bersama untuk meningkatkan ekonomi Bengkulu,” ungkapnya.

GM PT Pelindo II (persero) Cabang Bengkulu, Drajat Sulistyo mengatakan bahwa sumber daya yang ada di Bengkulu sangat luar biasa. Maka dari itu, perlunya didukung dengan pelabuhan yang besar dan terinterkoneksi dengan daerah-daerah strategis lainnya. “Untuk itu, mari kita bersama-sama membangun pelabuhan ini, dan sangat mungkin Bengkulu menjadi penggerak Ekonomi Sumatera,” ungkap Drajat.

Dikatakannya, saat ini program yang sudah dicanangkan Pelindo II Bengkulu hingga tahun 2021 sudah disampaikan ke Direktur Utama PT Pelindo dan mendapat tanggapan yang sangat baik karena melihat potensi yang luar biasa. “Bahkan dari 19 pelabuhan yang mengajukan rencana induk pelabuhan tahun 2016, hanya ada dua yang disetujui yakni pelabuhan Bengkulu dan Pelabuhan Tanjung Siapiapi Sumsel. Sedangkan pelabuhan lain belum dimasukkan sebagai prioritas,” ucapnya.(777)