Tak Perlu Dekat, yang Penting Banyak Teman Bisa Jadi Kunci Panjang Umur

banyak temanKunci panjang umur ada banyak ragamnya, mulai dari olahraga hingga mengonsumsi makanan tertentu. Namun sebuah studi baru menambahkan bahwa kunci panjang umur tak hanya berpatok pada kualitas hubungan pertemanan dengan sekelompok orang tapi juga jumlah teman yang dimiliki.

Secara khusus studi ini mengungkapkan bahwa lansia yang memiliki komunikasi rutin dengan keluarga, teman atau tetangganya bisa hidup lebih lama daripada rekan-rekan sebayanya yang jarang berinteraksi dengan keluarga, teman atau tetangganya.

Bahkan interaksi yang baik dengan penjaga toko atau pekerja sosial yang mereka temui ketika berbelanja atau jalan-jalan di taman juga dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan.

“Interaksi sosial benar-benar harus dilakukan oleh para lansia untuk mempertahankan koneksi atau hubungan dengan orang lain, misalnya dengan keluarga, teman, saudara dan tetangga,” terang Andrew Steptoe, profesor Epidemiology and Public Health di University College London seperti dilansir Daily Mail, Kamis (28/3/2013).

Kesimpulan itu diperoleh setelah tim peneliti mengamati interaksi sosial yang dilakukan oleh 6.500 orang berusia di atas 50 tahun. Partisipan juga ditanyai tentang apakah mereka merasakan kesepian atau tidak. 7,5 Tahun kemudian tercatat ada 918 partisipan yang meninggal, sebagian besar dikarenakan gangguan kesehatan seperti jantung koroner, kanker dan penyakit saluran pernafasan.

Dari situ peneliti mengetahui risiko kematian pada partisipan yang paling terisolasi secara sosial meningkat hingga lebih dari seperempat dibandingkan dengan partisipan yang rutin berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Uniknya, meski lansia seringkali merasa kesepian karena kehilangan pasangan hidup atau tinggal berjauhan dengan anak-anaknya, nyatanya rasa kesepian ini tidaklah mempengaruhi tingkat kematiannya. Hal itu berarti memiliki orang-orang yang dapat diajak bicara tentang kondisi kesehatan atau sekedar mengingatkan mereka untuk minum obat dan melakukan check-up sifatnya krusial bagi lansia.

“Lagipula perasaan kesendirian itu tak lebih dari pengalaman subyektif partisipan seperti halnya terisolasi atau hanya punya sedikit teman. Bukan berarti orang yang merasa kesepian juga terisolir dari lingkungan sosialnya. Justru sejumlah orang yang mandiri dan lebih suka menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri lebih bisa dikategorikan sebagai orang yang terisolasi,” terang Profesor Steptoe.

Dengan kata lain Profesor Steptoe menyatakan studi ini menekankan bahwa koneksi sosial adalah kunci kesehatan jangka panjang, bukan hanya pertemanan yang berkualitas tapi semata kontak sosial secara mendasar.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).(**)