Tabut Tegaskan Filosofi Spiritual Bumi Rafflesia

Dok. Kemenpar RI
SAKRAL: Festival Tabut 2018 telah mencapai puncaknya, tepat pada hari ini Kamis (20/9), sekitar 17 Tabut Sakral akan menjalani prosesi tabut terbuang dengan diarak ke Karabela.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Kekuatan spiritual Bengkulu ditegaskan Festival Tabut 2018. Insiden Karbala pada bulan Muharam tahun 61 kelender Islam direstorasi secara utuh. Simbol budaya ditebar secara detail hingga patenkan status menjanjikan wisata religi Bumi Rafflesia.

Digelar 10 hari, penyelenggaraan Festival Tabut 2018, Bengkulu, mendekati ending. Berada di Lapangan Merdeka (View Tower), Bengkulu, Festival Tabut ini digelar 10-20 September (1-10 Muharam). Sejatinya festival ini adalah peringatan tragedi meninggalnya Hasan Husein, cucu Nabi Muhammad SAW. Dan, insiden ini direstorasi secara utuh dalam Festival Tabut.

Disajikan utuh, ritual panjang pun digelar Festival Tabut sejak awal. Dibuka Senin (10/9), ritual diawali Pelepasan Keluarga Tabut dan Pengambilan Tanah. Tanah diambil di 2 lokasi, Tapak Padri dan Horison. Tanah ini memiliki makna. Manusia berasal dan akan kembali ke tanah. Berikutnya, dilakukan ritual cuci Penja. Ini adalah tempat pusaka dan tanah. Posisinya menjadi paling dasar dari Tabut.

“Festival Tabut ini bentuk kekayaan Bengkulu. Dengan kekuatan filosofinya, festival ini memperkaya potensi wisata religi Bengkulu. Dengan kemeriahan ini, festival ini juga ikut menggerakan nilai ekonomi masyarakat. Ada banyak value yang dinikmati masyarakat. Ada banyak inspirasi yang diberikan Festival Tabut,” ungkap Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, Selasa (18/9).

Secara harfiah, Tabut artinya kotak. Penggolongan besarnya, Tabut Imam dan Tabut Bansal. Tabut Imam diidentikan sebagai Laki-Laki. Cirinya lebih besar, tapi hiasan bunganya sedikit. Untuk Bansal, tabut ini banyak memilik bunga. Seiring perkembangannya, Tabut bertambah menjadi Sakral dan Pembangunan. Tabut Sakral memiliki 3 jari atau tiang, lalu Pembangunan dilengkapi Borak (replika hiasan hewan).

Secara struktur, Tabut terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian atas di sebut payung. Ini menjadi simbol kehidupan petani dan KKT (Kerukunan Keluarga Tabut). Pada bagian ini ada hiasan Bulan dan Bintang. Hiasan ini bertujuan semakin menegaskan nuansa Islam. Dibawahnya ada Buah Butut. Buah ini menjadi analogi kehidupan di bumi. Posisi Buah Butut ini pun diapit oleh Daun Pengapit.

Bagian berikutnya adalah Kernis. Posisinya sebagai pembatas antar Tabut. Berbentuk seperti piramida terbaik, Kernis memiliki detail ornamen berundak. Hingga, posisi terbawah dari struktur ini ditempati Penja. “Filosofi dari Tabut ini jelas. Simbolisasi dari beragam aspek. Ada kolaborasi unsur budaya yang kuat. Pesan-pesannya luar biasa,” terang Menpar lagi.

Setelah mencuci Penja, ritual dilanjutkan dengan Menjara 1 dan 2. Menjara menjadi duplikasi perjalanan Husein menuju Karbala dan replika perang. Di situ juga akan diikuti ritual ‘kunjungan’ Tabut Bansal ke Tabut Imam. Lalu, dilanjutkan ritual Arak Jari-Jari dan Arak Sorban. Ritual ini jadi simbol bila Sorban milik Husein sudah ditemukan dan direbut kembali.

Bila Arak Sorban sudah dilakukan, ritual berikutnya adalah Gam. Inilah moment masa berkabung usai wafatnya Husein. Saat berkabung, beragam aktivitas akan dilarang. Alat musik Dhol juga tidak boleh dibunyikan. Dhol ini adalah alat serupa tambur. Bodynya terbuat dari kayu, lalu ujungnya ditutup dari kulit sapi atau kerbau. Berikutnya, Tabut Naik Puncak (Pangkek) atau simbol masa keemasan Islam.

Puncak dari rangkaian ritual ini adalah Pelepasan Tabut Menuju Karbala, Kamis (20/9). Dalam sebuah parade, diikuti oleh 17 Tabut dengan inti Imam dan Bansal. Sehari sebelumnya, digelar closing ceremony Festival Tabut. Terkait dengan Karbala, Bengkulu juga memiliki sebuah dengan dengan nama serupa itu. Karbala ini makam Syeh Burhannudin atau Imam Senggolo. Yaitu, penyebar Islam di Bengkulu.

“Festival Tabut sudah mendekati agenda inti. Siapapun bisa belajar banyak hal dari festival ini. Event ini memang unik. Ada pengetahuan dan experience terbaik yang diterima wisatawan bila berada di sini. Menariknya, event ini dikemas dengan baik,” ujar Staf Khusus Menteri Bidang Multikultural Kemenpar Esthy Reko Astuti.

Meski kental dengan nuansa religi, tapi ada banyak kemeriahan yang ditawarkan oleh Festival Tabut. Hal ini tentu semakin menguatkan karakter dari festival ini. Ada beragam parade seni dan budaya yang ditampilkan. Festival Tabut bahkan menggelar beragam perlombaan,” terang Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Festiva Tabut memang menggelar beberapa perlombaan. Ada Lomba Musik Dhol dan Lomba Tari Kreasi Tabut. Disajikan juga Pagelaran Ethnik Budaya, Festival Ikan Ikan, hingga Festival Telong Telong. Parade budaya ini bisa dinikmati secara full pada closing ceremony, Rabu (19/9).

Esthy melanjutkan, Festival Tabut menjadi panggung kreativitas terbaik masyarakat. “Dalam perkembangannya, festival ini menjadi ruang kreativitas masyarakat. Sebab, untuk membuat Tabut dibutuhkan jiwa seni yang tinggi. Belum lagi, festival ini juga menggelar banyak perlombaan. Ada Festival Ikan Ikan yang menghadirkan replika utuh dari ikan atau udang misalnya,” tutupnya.

17 Tabut Diarak Ke Karabela

Festival Tabut 2018 telah mencapai puncaknya, tepat pada hari ini Kamis (20/9), sekitar 17 Tabut Sakral akan menjalani prosesi tabut terbuang dengan diarak ke Karabela. Ketua Umum Keluarga Kerukunan Tabut (KKT) Bengkulu, Achmad Syiafril mengaku, setelah sebelumnya pada Rabu (19/9) malam, tabut telah menjalani prosesi arak gedang atau tabut besanding yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB.

Selanjutnya pada hari ini merupakan ritual puncak yaitu tabut terbuang. Acara ini dimulai pada pukul 09.00 WIB, dimana seluruh Tabut akan berkumpul di depan rumah dinas Gubernur Bengkulu.”Ada sekitar 40 tabut pada tahun ini, 17 diantaranya akan mengikuti prosesi tabut tebuang,” kata Syiafril, Rabu (19/9).

Tabut-tabut tersebut akan disandingkan sekitar pukul 10.00 WIB. Kemudian akan dilepas oleh Plt Gubernur Bengkulu Dr H Rohidin Mersyah sebelum di arak menuju komplek pemakaman umum Karabela.  “Komplek pemakaman umum Karabela menjadi lokasi acara ritual tabot terbuang karena di sana dimakamkan Imam Senggolo (Syeh Burhanuddin) yaitu pelopor upacara Tabot di Bengkulu,” jelas Syafril.

Dengan iringan pukulan dol, ratusan anggota KKT akan berjalan membawa Tabut sejauh 4 Kilometer (Km) menuju makam Syeikh Burhanuddin di Karabela. Setelah sampai di Karabela, sebanyak 17 KKT berkumpul dan melakukan ritual pengambalian jari-jari, bendera serta tanah ke tempat penyimpanan. “Dengan berakhirnya Tabot terbuang maka berakhirlah semua prosesi ritual upacara Tabot di Bengkulu,” ujar Syiafril.

Seperti tahun sebelumnya, prosesi tabut tebuang akan selalu ramai disaksikan masyarakat baik dari Bengkulu maupun luar Provinsi Bengkulu. Mereka menunggu pawai iring-iringan tabut di sepanjang jalan raya yang dilewati rombongan pawai. “Berbagai tabut juga akan ikut menghiasi sepanjang jalan protokol Kota Bengkulu,” imbuh Syiafril.



Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu, Yudi Satria DA mengaku, masyarakat Bengkulu sangat memahami bahwa Tabut adalah suatu upacara tradisional yang bersifat ritual yang dilaksanakan setiap tahun terutama oleh KKT Bengkulu dengan mengikuti kalendar Islam yaitu tanggal 1 hingga 10 Muharram.

Dipandang dari sisi pariwisata, keunikan bentuk dan upacara Tabut yang bersifat ritual tersebut dapat menjadikan atraksi tersendiri bagi wisatawan untuk dapat dinikmati. “Seiring dengan perjalanan waktu, upacara Tabut ini akhirnya berkembang dalam bentuk atraksi budaya dan hiburan rakyat di Bengkulu,” ujar Yudi.(999)