Tabot Jadi Sample RUU Kebudayaan

TEDI - Peneliti Hendarini (baju batik hitam) menggelar FGD di Dekanat Fisip Unib, kemarin (2)

BENGKULU, BE – DPR RI tengah menyiapkan paket RUU Kebudayaan. Karena itulah, Peneliti Muda III D Bidang Kepakaran Komunikasi Sekretariat Jenderal DPR RI Hendarini Ardiyanti SSos MSi menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Dekanat Fisip Unib, kemarin. Dalam tersebut bertujuan untuk mengetahui proses asimilasi kebudayaan Bengkulu, khususnya tabot. Pasalnya, proses asimilasi tabot ini merupakan best practice sample (contoh pelaksanaan yang baik) yang ada di Indonesia.
“Tabot ini merupakan budaya yang berasal dari luar bahkan Syiah tapi bisa di Bengkulu kan bahkan disunnikan,” ujar Hendarini.
“Karena itulah kita mengambil tabot sebagai salah satu sample, selain juga di Batam. Karena seluruh RUU disusun harus ada latar belakang draft akademisnya,” tambahnya.
Menurut Hendarini, proses asimilasi budaya tidak selama berjalan dengan baik. Bahkan tak jarang menimbulkan perpecahan. Hal inilah yang coba dijawab oleh RUU Kebudayaan mendatang. Sebab Hendarini menyampaikan goal desain dari RUU ini adalah upaya untuk merekatkan seluruh elemen masyarakat melalui kebudayaan.
“Esensi yang ingin kita wujudkan melalui RUU ini adalah bagaimana membuat budaya sebagai perekat bangsa,” ungkapnya.
Selain itu, Hendarini juga mengkritik Pemda Bengkulu baik provinsi dan kota yang belum begitu care akan aset budaya tabot ini. Meskipun menyatakan tabot adalah anugrah, Hendarini menilai pemda masih setengah hati untuk mempromosikan budaya yang satu ini.
“Saya juga sudah melakukan FGD dengan pihak pemda, asalasannya sangat klasik yaitu masalah dana,” pungkasnya. (609)