Sulitnya Pemimpin Dimasa Bencana

Oleh: HM Muslimin SH MH

ANDAI saja Presiden langsung memutuskan untuk menutup seluruh penerbangan dari dan ke luar negeri di awal Corona Virus  Disease 2019 atau Covid-19 merebak, Indonesia pasti aman. Seperti yang sudah dilakukan Vietnam. Presiden kita lamban sih. Sekarang rasakan.  Saya kecewa, knapa tidak lockdown saja dulu itu dan sebagainya. Demikian pendapat sebagian orang di negeri ini.

Apa betul pendapat itu? Ayo bayangkan jika Presiden langsung menutup seluruh penerbangan dari dan ke Luar Negeri ketika itu. Apa yg akan terjadi? Di Vietnam sih, bisa. Di Indonesia?  Pasti langsung ada aksi demo, dituduh menimbulkan kerugian maskapai, kerugian bandara, kerugian pekerja, dan lainnya. Presiden dibully, melanggar HAM, penakutlah, dan seterusnya.

Ini negeri +62 Bung.. Beda!

Presiden Jokowi memilih Social Distancing. Dikritik. Diubah jadi Physical Distancing, tidak ditaati. Diubah Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB, dibully juga. Padahal, untuk buat keputusan-keputusan itu bnyak orang yang harus berpikir siang dan malam.  Lah yang buat bully-an sekejap, orang yang dibully hancur, dia sendiri lupa.

Harus lockdown…

Secepatnya…

Sekarang juga…

Tidak semudah itu bro. Kalau ngomong ajo memang mudah. Singapura bisa, warganya dikit, negerinya kecil, orangnya kaya, gak kerja sebulan masih makan. Lah di Indonesia? Masih banyak yang kerja pagi untuk makan sore.

Karena, aturannya jika lockdown, kebutuhan dasar harus ditanggung negara. Yup,  kebutuhan dasar itu bukan sekadar rangkaian tulisan.  Itu artinya perlu DUIT yang bnyak sekali, sekian kali 270 juta WNI. Banyak loh itu, triliunan, uang darimana..? Belum lagi model dan sistem pembagiannya yang bisa bikin kisruh baru.

Berpikir dan berbuat itu ternyata sulit. Yang mudah itu, (kalau kata orang Bengkulu,red) “ngecek ajo, cuma modal muncung

Kondisi yang sama dialami pemimpin daerah. Berbuat begini dibully, begitu dibully salah semua. Dan ternyata sulit jadi pemimpin di musim bencana seperti wabah corona sekarang ini.

Pak Gubernur, Pak Walikota, Pak Bupati, apapun yang bapak buat pasti akan dibully orang-orang, terutama lawan politik bapak.  Anda gunakan anggaran untuk memerangi Covid-19, disalahkan. Tidak menggunakan anggaran, disalahkan.  Anda bijak, salah. Anda bergerak cepat, salah. Anda grasa-grusu, lebih salah lagi.

Jadi sudahlah..

Abaikan saja..

Berbuatlah. Apapun yang Anda anggap baik. Kami yakin bapak akan berbuat yang terbaik untuk negeri ini. Untuk kami rakyat disini.  Suruh stoplah orang-orang suruhan Anda untuk saling bully. Sungguh itu tidak ada gunanya untuk rakyat.

Berbuatlah apapun asal dalam koridor TAAT HUKUM. Niat yang baik pasti tidak akan melanggar aturan hukum.  Semua anggaran akan dialihkan untuk perang melawan corona, itu baik. Tapi kalau di dalamnya terkandung niat untuk korupsi, ya sudah Anda akan celaka. CELAKA.  APH akan mengincarmu dan neraka menunggumu.

Eitss.. satu lagi.. jangan memanfaatkan musibah untuk kepentingan pribadi, pencitraan sesaat. Rakyat sudah tidak bodoh. (**) 

 

*penulis adalah Dirut Utama RB Media Group