Suka Duka Sopir Taksi Online di Bengkulu “Was-was” di Tengah Ancaman

driver online

Raih Hingga Rp 4 Juta/Per Bulan

Munculnya penyedia layanan taksi online kerap menimbulkan polemik diberbagai daerah. Banyak orang memandang, taksi online adalah pesaing angkutan umum konvensional seperti angkot, ojek, bus, dan taksi. Pada kenyataannya tidak semua sopir taksi online itu bahagia, bagaimana kisahnya, berikut laporannya.

REWA YOKE D – Kota Bengkulu

Suka duka sudah dilalui Sahir (35) bukan nama sebenarnya, menjalani profesi sebagai sopir taksi berbasis aplikasi online. Mulai dari penumpang yang menyebalkan hingga orderan pernah dibatalkan sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.

Disela-sela waktu istirahatnya, Sahir mencoba membagi kisahnya kepada Bengkulu Ekspress, sambil mencicipi secangkir kopi hitam yang cukup nikmat diteguknya, Ia mengaku rasa lelah sudah tidak terbantahkan lagi pasti dialami seluruh sopir taksi online, apalagi untuk trip yang cukup penuh. Meski begitu Sahir senang menjalani pekerjaannya.

“Senang saja bisa menjadi sopir taksi online, karena bisa membantu orang juga, apalagi sekarang cukup pakai aplikasi saja, kita langsung jemput,” kata Sahir dengan ramah.

Sahir adalah 1 dari 200 orang di Kota Bengkulu yang mencoba mengais rezeki dari layanan jasa antar jemput penumpang berbasis aplikasi online. Meskipun pelanggannya hanya dapat mengorder melalui sebuah aplikasi, tetap saja realita selalu jauh dari kenyataan. Terkadang penumpang mengorder pesanan untuk dilakukan penjemputan, tetapi sesampainya di lokasi penjemputan, penumpang tersebut sudah membatalkan orderannya. “Kalau dibatalkan jelas kami yang rugi, rugi waktu dan bensin,” keluh Sahir.

Diakui Sahir, kerugian itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi dirinya. Ia menilai, menjadi sopir taksi online tidak seindah yang dibayangkan. Diakui selalu “was-was” di tengah ancaman. Orang terkesan selalu menyudutkan dan memusuhi para sopir taksi online, yang berusaha mengambil rezeki angkutan umum lainnya, pada kenyataannya taksi online hanyalah sarana transportasi yang berusaha memudahkan orang lain untuk pulang maupun berpergian.

“Bayangkan jika tidak ada taksi online, maka orang akan kesulitan jika mau pulang dari Bandara atau tempat lainnya, bukankah rezeki sudah ada yang mengatur, jadi kenapa harus takut tidak mendapatkan rezeki,” imbuh Sahir.

Sahir menjelaskan, menjadi sopir taksi online hampir sama dengan sopir taksi biasa pada umumnya, mereka harus bersedia membagi keuntungan dengan perusahaan penyedia aplikasi layanan taksi online sama halnya angkot yang harus memberikan setoran kepada pemiliknya.

Keuntungan tersebut dibagi dengan persentasi 75 persen dan 25 persen, setiap sopir taksi online yang memperoleh Rp 10 ribu, maka sopir tersebut hanya mendapatkan Rp 7.500 dan perusahaan Rp 2.500. “Keuntungan kami tidak begitu besar, orang hanya bilang untung, pada kenyataannya kami juga harus berbagi dengan perusahaan penyedia layanan, belum lagi operasional kendaraan jauh lebih besar juga,” jelas Sahir.

Penghasilan sopir taksi online, lanjut Sahir, dalam sebulan hanya berkisar antara Rp 1 Juta hingga Rp 4 juta. Jumlah order dalam sehari maksimal mencapai lima trip, hanya saja jika sepi maka terkadang penumpang tidak ada sama sekali. “Ya namanya penumpang, kadang ramai, kadang sepi, jadi pendapatannya tidak tetap juga,” lanjut Sahir.

Sahir mengaku, rata-rata penumpang yang kerap memesan layanan jasa antar jemputnya adalah anak SMA dan SMP, Ibu-ibu dan Anak-anak. Selain itu, dengan layanan taksi online membuat penumpang lebih mudah dalam layanan transportasi dengan biaya yang terjangkau.

“Karena lebih mudah dari pada angkot dan taksi konvensional, penjemputannya juga cepat sehingga penumpang tidak perlu menunggu lama,” terang Sahir.

Terakhir Sahir mengatakan, seluruh pengendara angkutan umum dapat saling berteman, karena sama-sama mencari rezeki, dan tidak untuk saling membenci. Jika berkaca pada masa lalu, maka angkot harusnya sudah diprotes oleh Delman, Becak, dan Dokar, hanya saja kemajuan jaman membuatnya menjadi lebih dibutuhkan sehingga protespun tidak terjadi.

“Sama halnya taksi online, seiring kemajuan jaman juga ikut menggantikan angkutan umum lainnya, cara pandang kita saja yang harus diubah, bukan ego kita,” tutupnya mengakhiri.(**)