Suharto SE, MBA (Sekretaris Komisi III DPRD Provinsi) Sang Pendobrak Krisis Alur Pulau Baai

Suharto SE, MBA namanya kian melejit di tengah-tengah masyarakat. Ia yang saat ini sebagai anggota DPRD Provinsi Bengkulu ini, dikenal royal dan dekat dengan masyarakat. Ia selalu membuat terobosan baru mengatasi persoalan daerah, salah satunya berhasil mendobrak krisis alur Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu beberapa tahun lalu.
Suharto SE, MBA salah salah satu pendobrak krisis alur Pelabuhan Pulau Baai, yang hampir selama 10 tahun mengalami pendangkalan. Alur Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu mengalami pendangkalan hebat yang saat itu tidak segera diatasi. Kedalaman pelabuhan itu tinggal tiga meter, sehingga kapal barang bermuatan diatas 1.500 ton tidak bisa berlabuh. Selama hampir 7 tahun lebih alur Pelabuhan Pulau Baai itu dikeruk oleh PT Phataway Internasional (PI), akan tetapi tidak berjalan baik. Padahal sejak tahun 2008 lalu, PT Pathaway ini diberikan kewenangan mengeruk oleh Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Provinsi Bengkulu. Akhirnya kelembagaan DPRD Provinsi Bengkulu membentuk panitia khusus (Pansus) alur Pelabuhan Pulau Baai. Suharto yang memiliki latar belakang sebagai pengusaha yang bergerak dibidang kemaritiman, dipercaya oleh anggota DPRD Provinsi lainnya mengatasi persoalan alur Pelabuhan Pulau Baai tersebut. Berbagai langkah dilakukan oleh Suharto, dengan melakukan koordinasi dengan stakholder lainnya. Bagi, Suharto krisis alur Pelabuhan Pulau Baai harus segera diakhiri, karena menghambat pertumbuhan perekonomian di Provinsi Bengkulu. Kapal-kapal pengangkut kebutuhan masyarakat Bengkulu, sulit masuk sehingga menimbulkan melonjaknya harga-harga, seperti gula, semen, pupuk, dan lainnya sebagainya yang diangkut melalui jalur laut.
Pendangkalan alur beberapa tahun sangat luar biasa. Hal ini terjadi karena timbunan pasir yang ada di alur masuk ke pelabuhan sudah mencapai tiga juta meter kubik (M3). Jika endapan pasir ini tidak segera dilakukan pengerukan dapat dipastikan pelabuhan akan lumpuh kerena kedalamanya terus berkurang.
Tingkat sedimentasi pasir di pelabuhan cukup tinggi mencapai 1.500 kubik per hari, sehingga jika dalam tahun 2011, pelabuhan Pulau Baai tidak dilakukan pengerukan maka dikhawatirkan kapal tidak bisa masuk lagi ke Bengkulu. “Jika saat itu dibiarkan, yang terjadi maka perekonomian Bengkulu akan lumpuh. Kita terus mendorong pihak terkait, seperti Pelindo dan Kemenhub agar segera melakukan pengerukan. Kita minta, Kemenhub mengeluarkan izin, yang saat itu dipersulit oleh pihak tertentu. Sehingga endapan pasir yang ada di pelabuhan dapat segera diangkat ke atas,” ujarnya.
Dengan demikian, kedalaman pelabuhan Pulau Baai kembali normal pada posisi minimal 9 meter, sehingga kapal bermuatan 15.000 ton ke atas sudah bisa masuk lagi ke Bengkulu. “Kalau kapal besar sudah bisa masuk ke Bengkulu, maka ekspor CPO dapat dilaksanakan melalui pelabuhan Pulau Baai. Demikian pula ekspor batu bara dan komoditas lainnya dapat dilaksanakan dari daerah ini,” ujarnya.
Sebelum dikeruk, pelabuhan Pulau Baai masih dangkal sehingga ekspor CPO dan komoditas lainya terpaksa dilakukan pengusaha melalui pelabuhan Teluk Bayur, Padang, pelabuhan Palembang dan pelabuhan Merak, Provinsi Lampung. Hal ini menyebabkan PT Pelindo Bengkulu kehilangan pendapatan sebanyak Rp 25 miliar per tahun. “Jadi, sejak pelabuhan Pulau Baai mengalami pendangkalan kegiatan berkurang karena kapal besar tidak bisa masuk ke Bengkulu,” ujarnya.
Kondisi seperti ini, membuat Suharto mendobrak kebuntuhan kebuntuan alur, agar pendangkalan segera diatasi. Beberapa kali pria yang sekarang menjadi Ketua Fraksi Raflesia Bersatu di DPRD Provinsi ini, mendorong Kementerian Perhubungan agar segera mengatasi pendangkalan alur Pelabuhan. “Saya diberi tugas oleh teman-teman (DPRD) mengatasi alur, Alhamdulillah selesai,” ujarnya. Gebrakan yang dilakukan Suharto perlu diacungi jempol. Karena mampu menyelesaikan masalah pendangkalan alur Pulau Baai. Ini menjadi sejarah bagi Provinsi Bengkulu. Bertahun-tahun alur mengalami pendangkalan, saat ini sudah membaik. Bahkan memiliki kedalaman hingga 10 meter Lws. Perjuangan Suharto mengatasi kepentingan umum patut ditiru oleh wakil rakyat lainnya. Masalah yang sifatnya penting dan mendesak harus segera diatasi. “Saya tidak membangun satu sisi saja, tetapi semua komponen,” ujarnya.
Saat ini kondisi alur Pulau Baai makin membaik. Berkat dorongan lembaga legislatif yang dilakukan Suharto, melalui berbagai cara, alur Pulau Baai saat ini membaik, setelah Pelindo melakukan pengerukan hingga kedalaman 10 meter LWS. Alur pelabuhan yang selama ini mengalami pendangkalan, sudah bisa melayani kapal-kapal berkapasitas hingga 35.000 dead weight tonnage atau DWT.(100/Adv)