Sudah Meninggal, Mbah Maridjan Masih Produktif

Mengenang Seribu Hari Wafatnya Juru Kunci Merapi Mbah Maridjan

130129_350593_maridjan_mbahTak terasa, seribu hari berlalu, warga lereng Merapi kehilangan Mbah Maridjan. Sosok kharismatik yang menjadi panutan itu meninggal dunia saat Gunung Merapi mengalami erupsi pada 26 Oktober 2010.

= = = = = = = = = = = = = = = =
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
= = = = = = = = = = = = = = = =

Hawa dingin mulai menusuk tubuh kala kabut mulai turun. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 15.45. Satu-persatu, warga Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan berdatangan di bekas kediaman Mbah Maridjan. Tak seperti biasanya, kawasan seluas separo lapangan bola yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan, kali ini dipadati warga sekitar. Panggung kecil didirikan di depan deretan ratusan kursi, saling berhadapan, dibawah  tratag yang membentang hampir memenuhi pekarangan. Semua sarana itu untuk keperluan warga dalam gelaran doa bersama mengenang seribu hari wafatnya Mbah Maridjan.

Diantara warga ada tokoh pengusaha yang tak asing lagi dalam keluarga Mbah Maridjan. Dialah Irwan Hidayat. Bos Perusahaan Jamu PT SIdomuncul itu hadir lebih dulu dari warga lainnya. Turut hadir bersama Irwan, mantan petenis nasional Wynne Prakusya. Yang menjadi salah satu bintang iklan jamu Tolak Angin Sidomuncul.

Demikian pula Mbah Maridjan. Semasa hidupnya, juru kunci bergelar Mas Ngabehi Suraksohargo pernah membintangi produk Sidomuncul, yakni Kuku Bima Energi. “Rosa” adalah yel-yel yang tak pernah terlupakan dari sosok Mbah Maridjan. Bahkan, sampai saat ini, sosok sepuh itu masih kerap mewarnai dunia periklanan televisi.

“Sudah meninggal saja, Mbah Maridjan masih produktif, bisa memberi nafkah keluarga. Hebat, lho bapakmu itu, Sih,” ujar Irwan kepada Asih, putera Mbah Maridjan, yang kini meneruskan sebagai juru kunci Merapi, bergelar Ki Lurah Suraksosihono. “Mungkin Mbah Maridjan satu-satunya yang sudah meninggal tapi masih jadi bintang iklan,” lanjutnya.

Kakek Sembilan cucu itu sengaja dipertahankan sebagai bintang iklan produk oleh Irwan, bukan tanpa alasan. Bagi peraih label orang kaya paling dermawan di kawasan Asia versi Majalah Forbes, Mbah Maridjan adalah sosok sederhana yang tak silau oleh kekayaan duniawi. Dan tidak kemaruk oleh hal apapun.  Itulah yang mendasari Irwan. “Tentu saja itu atas seizin keluarga. Supaya Mbah Puteri masih ada penghasilan,” ungkapnya.

Sampai kapan Mbah Maridjan akan menjadi bintang iklan, Irwan sempat terdiam dan berpikir. Baginya, Mbah Maridjan telah berjasa besar bagi keluarga besar Sidomuncul. Intinya, dia ingin agar Mbah Maridjan tak dilupakan oleh masyarakat. “Sampai kapanpun, mestinya. Mungkin Mbah Maridjan satu-satunyaa,” ucapnya sambil menghela napas.
Irwan berkomitmen, asal keluarga masih menyetujui, dia tetap akan menayangkan iklan yang dibintangi Mbah Maridjan. “Jujur, bukan karena apa-apa,” lanjutnya.

Irwan mengaku tak ada pesan khusus dari Mbah Maridjan semasa hidup. Irwan hanya mengenangnya sebagai sosok kalem dan lugu. “Saat dikenalkan saya pertama kali, Mbah Maridjan cuma bilang, nggih…nggih,” kenangnya.

Menurut Irwan, perkenalannya dengan Mbah Maridjan dilantarkan oleh Anton Sujarwo, kakak ipar Irwan yang pernah membantu menyalurkan air di lereng Merapi pada 1974. Satu kesan lain bagi Irwan adalah kesetiaan. Ditunjukkan oleh Mbah Maridjan kala diminta menemui presiden saat bencana erupsi. Tapi Mbah Maridjan menolaknya. Dengan alasan harus menjalankan tugasnya untuk menjaga gunung.

Ada kebanggaan tersendiri bagi Asih atas peran ayahnya di media. “Itu bentuk perhatian bagi keluarga kami,” katanya sebelum menjamu para tamu. Setiap melihat iklan yang menampilkan Mbah Maridjan, Asih mengaku trenyuh. Merasa banyak utang budi atas perjuangan ayahnya semasa hidup.

Satu jam berlalu, lafal ayat Al-Qur’an surat Yaasiin dan tahlil diucapkan para hadir dengan khidmad. Hingga pemungkas acara nyewu usai menjelang Magrib. Peringatan seribu hari mengenang Mbah Maridjan ditutup dengan buka bersama dan shloat Magrib berjamaah di bangunan bambu, bekas masjid yang dibangun oleh Mbah Maridjan. [***]