Suamiku Sayang, Suamiku Malang….

Di Balik Tragedi Pembacokan Istri dan Mertua

Suasana duka menyelimuti Purwanti (28) Desa Bumi Mulya Kecamatan Penarik Kabupaten Mukomuko. Belum sembuh luka bacokan di sekujur tubuhnya. Justru disambut kabar kematian tragis sang suami Ramidi (35) yang telah membacok dirinya dan sang ibu.

BUDI HARTONO, MUKOMUKO

Keletihan terlihat jelas di wajah Purwanti. Sesekali ia terlihat menahan perih luka bacokan di bahu dan tangan kirinya. Purwanti hanya bisa terbaring di ranjang Puskesmas Rawat Inap Desa Lubuk Mukti Kecamatan Penarik.
Perasaan tak menentu tentu dirasakannya.

Di saat hatinya sakit akibat perbuatan sang suami yang di luar kewajaran, ia harus menerima suaminya degan cara yang tak wajar pula.

Ditemui BE di puskesmas, Purwanti tidak banyak bicara. Ia terlihat begitu shock dengan peristiwa itu. Hanya sang ayah, Sagiran yang setia menemani anak dan istrinya yang terbaring lemah. “Mereka masih belum bisa banyak bicara. Masih trauma dan lemas,” ujarnya sembari mengajak wartawan BE duduk di ruang tunggu puskesmas.

Ketika ditanya mengenai perasaan Purwanti dan keluarga mengenai tragedi ini, Sagiran mengatakan putrinya saat ini ibarat memakan buah simalakama. Bagaimana tidak? Di satu sisi sebagai seorang istri memaklumi perbuatan sang suami lantaran gangguan kejiwaan, di sisi lain sebagai manusia biasa anaknya juga merasakan sakit hati terhadap suaminya itu.

Belum lagi kematian sang suami yang mengenaskan juga membuat suasana hatinya semakin tak menentu. “Purwanti tak tahu harus bahagia atau sedih ketika mendengar kematian suaminya” jelas Sagiran.

Ramidi dan Purwanti hidup dalam ekonomi pas-pasan. Sang suami bekerja sebagai petani dan menerima upahan memanen kebun warga sekitar. Sedangkan Purwanti hanya ibu rumah tangga. Keduanya dikaruniai seorang anak yang kini berumur 2 tahun.

Ditambahkan Sagiran, selama Ramidi menjalani rawat jalan di RSJKO Bengkulu, Purwanti dengan setia dan sabar merawat dan melayani sang suami. Ia tetap mencintai dan menyayangi suaminya itu.

Sampai Kamis sore (11/12), sang suami mengeluh sakit kepala. Dengan penuh kesabaran Purwanti menyarankan kepada sang suami untuk meminum obat yang diberikan RSJKO. Entah bagaimana akhirnya tragedi itu terjadi. Ramidi kalap hingga membacok istri dan metuanya.

Lantas bagaimana tanggapan keluarga? Sagiran dengan lesu mengatakan pihak keluarga tidak akan mempermasalahkannya. Toh, pelaku yang tak lain menantunya sendiri sudah  meninggal dunia. “Kami sudah merasa cukup.

Karena dia juga telah meninggal. Yang kami pikirkan saat ini hanya bagaimana menghilangkan trauma dari diri anak dan istri saya,” ujarnya. (**)