Stop Perilaku Belanja Berlebihan

JOS HENDRI/Bengkulu EkspressDeputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Rifat Pasha bersama Ketua MUI Provinsi Bengkulu, Prof Dr Rohimin dan Sekda Provinsi Bengkulu, Nopian Andusti didampingi Kepala Biro Ekonomi dan SDA, Ansori Tawakal SE MSi saat Pertemuan TPID Provinsi Bengkulu dengan MUI di Grage Hotel Kota Bengkulu, Jum’at malam (17/5) lalu.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bengkulu bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bengkulu meminta masyarakat untuk menghentikan perilaku belanja berlebihan pada Ramadan 1440 Hijriah ini. Karena selain bisa menyebabkan inflasi daerah, ternyata perilaku tersebut juga dibenci oleh Allah.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Rifat Pasha mengatakan, Ramadan merupakan momentum masyarakat untuk meningkatkan empati sosial dan merasakan penderitaan orang yang kurang beruntung. Akan tetapi fenomena ini justru kebalikannya, dimana orang lebih meningkatkan belanja dan konsumsi. Padahal sesuai ajaran agama Islam hal tersebut salah dan tidak dibenarkan.



“Kita ingin mengembalikan makna ramadan, kita berharap masyarakat berbelanja dan konsumsinya dikurangi saat Ramadan, karena itu perilaku yang tidak baik,” kata Rifat usai Pertemuan TPID Provinsi Bengkulu dengan MUI di Grage Hotel Kota Bengkulu, Jum’at malam (17/5).

Perilaku tersebut diyakini bisa menyebabkan kenaikan harga barang yang cukup signifikan. Sehingga menyebabkan stabilisasi ekonomi di Bengkulu menjadi terganggu dan berdampak pada meningkatnya angka inflasi daerah. “Kalau Kita lihat historisnya kenaikan harga mulai meningkat tajam sebelum lebaran, pemicunya mulai disalurkan THR pegawai negeri, kalau perusahaan swasta itu Instensif dan Bonus. Kita berharap masyarakat tidak berlebihan belanja saat ramadan ini,” tutupnya.

Ketua MUI Provinsi Bengkulu, Prof Dr Rohimin mengatakan, di akhir Ramadan biasanya memang banyak masyarakat Indonesia termasuk Bengkulu yang berbelanja di mal atau tempat perbelanjaan. Menurutnya, selain berbelanja untuk kebutuhan dirinya, mereka juga berbelanja untuk mempersiapkan acara silaturrahim pada saat lebaran.

“Mengenai belanja akhir Ramadan yang banyak itu mungkin karena keperluan lebaran. Itu juga karena persiapan untuk orang silaturrahim. Masa orang yang silaturrahim tidak dikasih apa-apa,” ujar Rohimin.

Namun, Rohimin mengimbau, dalam berbelanja di akhir Ramadan, sebaiknya umat Islam tidak memaksakan diri dan berlebih-lebihan. Karena, Allah sangat membenci terhadap orang boros atau israf. “Tidak apa-apa tapi jangan paksakan diri belanja di akhir Ramadan. Tapi tentunya boros itu tidak boleh memang di Bulan Ramadan,” ucap Rohimin.

Ia juga menuturkan, sebaiknya di akhir Ramadan ini umat Islam memperbanyak ibadah untuk lebih dekat kepada Allah SWT. Bukan justru sibuk untuk membeli kebutuhan yang sifatnya untuk bermewah-mewahan. “Jadi yang benar itu adalah di akhir Ramadan ini taqwanya ditambah bukan baju barunya. Walaupun itu budaya kita, secukupnya saja jangan berlebih-lebihan karena Idul Fitri itu bukan bajunya yang baru,” tutur Rohimin.

Ia juga mengimbau kepada umat Islam, khususnya kaum perempuan yang sedang berbelanja agar tidak konsumtif di akhir Ramadan. Juga tidak memaksakan diri membeli makanan untuk menyambut tamu yang ingin bersilaturrahim di Bulan Ramadan. “Diimbau kepada umat Islam terutama ibu-ibu yang senang berbalanja, supaya secukupnya saja dan semampunya. Jangan berlebih-lebihan dan memaksakan diri,” tutupnya.

Sementara itu, Sekda Provinsi Bengkulu, Nopian Andusti ST MT didampingi Kepala Biro Ekonomi dan SDA, Ansori Tawakal SE MSi mengatakan, ada kebiasaan masyarakat Bengkulu di bulan Ramadan konsumsinya meningkat drastis termasuk saat menghadapi hari raya Idul Fitri. Menanggapi hal tersebut, Nopian tekankan, agar masyarakat tidak berlebihan berbelanja saat Ramadan karena akan berdampak pada peningkatan harga barang dan kelangkaan di pasar.”Kita harusnya biasa-biasa saja, tetap berkonsumsi secukupnya, tidak euforia, karena kalau konsumsinya berlebihan maka dikhawatirkan akan berdampak pada peningkatan harga barang,” tutupnya.(999)