Stop Pemanfaatan Batu Bara

REWA/BE – Anak-anak tampak antusias melukis mural menolak pemanfaatan batu bara di Pantai Berkas, Kota Bengkulu, Minggu (22/9).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Ratusan masyarakat yang mengatasnamakan diri gerakan menolak punah menggelar aksi jeda untuk iklim di Objek Wisata Pantai Berkas Kota Bengkulu, Minggu (22/9). Mereka mendesak pemerintah segera menghentikan ketergantungan terhadap pemanfaatan batu bara.

“Kami menyerukan pemerintah dan dunia usaha segera menghentikan penggunaan energi kotor PLTU batu bara dan beralih ke energi terbarukan,” kata Koordinator Aksi sekaligus Ketua Kanopi Bengkulu, Ali Akbar.

Ia menyebutkan dengan adanya aksi jeda untuk iklim ini masyarakat terutama pengambil kebijakan mengetahui pentingnya energi terbarukan serta ikut menyuarakan transisi 100 persen energi terbarukan. Selain itu, aksi ini ditujukan bagi pemimpin negara agar panik terhadap situasi iklim dunia saat ini. “Kenapa panik karena terlalu ditunggangi oleh para pebisnis yang menginginkan batu bara sebagai sumber energi di seluruh pelosok dunia,” terang Ali.

Selain itu, Gerakan Menolak Punah juga ingin menyuarakan dilevel internasional, khususnya kepada pengambil keputusan yang hari ini mengadakan rapat untuk memilih peta jalan atau mencari peta jalan transisi energi.  “Kami meminta kepada presiden untuk segera merumuskan peta jalan transisi energi, sebab Indonesia telah merumuskan peta jalan transisi hanya saja belum menjadi skala prioritas,” tutur Ali.



Di Bengkulu, pihaknya meminta Gubernur Bengkulu untuk mencabut izin lingkungan PLTU batu bara yang yang saat ini di warga di PTUN. Selain itu sesuai dengan janjinya pasca bencana banjir kemarin Gubernur Bengkulu akan melakukan proses verifikasi dan investigasi terhadap penyebab-penyebab banjir. “Kami meminta kepada Gubernur untuk serius menyikapi perubahan iklim dan serius melakukan tata administrasi terkait bagaimana mencabut izin PLTU batu bara oleh PT TLB dan melakukan investigasi dan pendalaman terhadap tambang batu bara yang ada di Bengkulu,” katanya.

Untuk diketahui, aksi ini digelar di ikuti lebih dari 50 komunitas yang bergabung seperti GMKI, Fossil Free Bengkulu, Komunitas Seni Unihaz, Kampala, Kanopi, Lingkar Institut, dan sejumlah anggota pecinta alam. Gerakan ini merupakan rangkaian aksi lanjutan Jeda Iklim di Provinsi Bengkulu dengan agenda pawai iklim, orasi, seni musik, seni mural dan menandatangani petisi tolak energi kotor. (999)



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*