Stop Isu Uang Palsu!

Endang Kurnia Saputra
Endang Kurnia Saputra

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bengkulu meminta seluruh pihak untuk tidak ikut menyebar-luaskan isu uang palsu untuk kepentingan tertentu, selama pesta demokrasi Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota (Pilwakot) Bengkulu 2018 ini. Hal itu mengingat sampai saat ini, Bengkulu masih tergolong daerah terendah dengan peredaran uang palsu.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra mengungkapkan, peredaran uang palsu di Bengkulu tidak besar. Perbandingannya seperti dalam satu juta lembar rupiah yang beredar, hanya ada sembilan uang palsu.

“Peredaran uang palsu di Bengkulu cukup rendah, sehingga masyarakat diminta tidak termakan isu peredaran uang palsu jelang pesta demokrasi mendatang,” ujar Endang, kemarin (4/3).

Sejak Desember 2017 lalu, tidak ada perubahan atau peningkatan peredaran uang palsu termasuk hingga setelah memasuki tahapan Pilkada serentak pada tahun 2018 ini. Oleh karena itu, Endang mengharapkan isu uang palsu agar tidak disebarluaskan ke publik.

“Sejak Desember 2017 hingga saat ini, belum ada pertambahan jumlah uang palsu yang beredar sehingga kami harapkan isu uang palsu jelang Pilwakot ini tidak disebarluaskan kepada masyarakat,” tutur Endang.

Endang menilai, isu ini hanya akan menimbulkan keresahan masyarakat dan berdampak buruk terhadap perekonomian. Apalagi perkembangan bisnis dan investasi di Bengkulu yang saat ini terus berkembang.

“Isu-isu seperti ini akan menimbulkan dampak negatif, jadi kami minta untuk tidak terus disebar-luaskan,” lanjut Endang.

Jaminan keamaan daerah, kepastian dan kepercayaan pasar akan bertolak belakang jika mengangkat isu-isu negatif seperti peredaran uang palsu. Untuk itu, pihaknya mengharapkan isu itu tidak mencuat, sebab pasar bisa resah olehnya.

“Kita seharusnya kita mendorong perekonomian, dan bersama-sama menciptakan suasana yang bagus untuk iklim investasi dan tidak mengangkat isu yang bisa memancing ketidak-stabilan pasar,” terang Endang. Namun, tak ingin lengah, pihaknya juga terus melakukan imbauan kepada masyarakat agar terus waspada terhadap peredaran uang palsu, yakni dengan lebih teliti saat bertransaksi serta mengenali ciri rupiah.

“Namun kita harus tetap waspada, dengan terus mengenali rupiah dengan cara 3D atau dikenal dengan dilihat, diraba dan diterawang,” ujar Endang.

Endang menerangkan, saat ini juga keamanan rupiah semakin banyak dan baik. Sehingga masyarakat bisa mengenalinya dengan mudah. Dugaan uang palsu bisa dilihat bentuk uangnya, warna cetakan, simbol-simbol yang telah disertakan, dan diraba fisik akan terasa kasar, serta dilihat tanda airnya.

“Sekarang rupiah sudah memiliki tingkat keamanan tinggi sehingga masyarakat akan dengan mudah mengenali uang palsu,” tukas Endang.(999)