Solar Kosong hingga Akhir Tahun

BENGKULU, BE – Kekosongan Solar di Provinsi Bengkulu dipastikan akan berlangsung hingga akhir tahun 2012 ini. Berdasarkan data yang dikeluarkan Pertamina Pulau Baai Bengkulu, bahwa total Solar untuk Provinsi Bengkulu pada tahun 2012 ini sebesar 88.265 Kilo liter (Kl). Sedangkan per 15 November 2012, pemakaian Solar telah mencapai 87.156 Kl, dan stok Solar yang masih ada di Pertamina Bengkulu saat ini hanya 1000 Kl.

“1100 Kl tersebut hanya cukup untuk kebutuhan selama 3 hari. Karena kebutuhan solar di Provinsi Bengkulu normalnya mencapai 300 Kl perhari,” kata Sales Refresentatif (SR)  Pertamina Bengkulu, Misbah Bukhori.
Untuk mengatasi kekosongan total Solar di Bengkulu, beberapa hari belakangan ini Pertamina hanya menyalurkan 20 Kl perhari di Kota Bengkulu. Sedangkan kabupaten lainnya sama sekali tidak mendapatkan jatah Solar, kecuali menggunakan stok yang disuplai sebelum 15 November lalu.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Misbah menganjurkan menggunakan solar non subsidi dengan harga Rp 10.330 per liter. Dan untuk stok solar non subsidi ini pun cukup aman hingga akhir tahun ini.
“Kalau solar non subsidi stoknya cukup aman, dan untuk saat ini hanya bisa didapatkan di SPBU Pagar Dewa,” ungkapnya.
BPH Migas pun telah menyampaikan surat kepada PT Pertamina dengan nomor 948/07/Ka BPH/2012 tertanggal 7 November 2012 Perihal Pengendalian Distribusi Sisa Kuota BBM Subsidi 2012.

Dalam surat tersebut  BPH Migas menganjurkan Pertamina agar  melakukan langkah-langkah srategis  untuk menghindari terjadinya kekosongan minyak solar di Bengkulu secara total. Yakni dengan membagi sisa kuota yang ada dengan cara penjatahan dibagi jumlah hari sampai akhir Desember 2012, mengurangi penyaluran minyak solar subsidi di SPBU dan menggantinya dengan solar non subsidi, memproritaskan solar hanya untuk kendaraan umum orang dan barang dan taksi non eksektuif, selaian itu dipersilahkan mengisi Solar non subsidi.

Bensin Aman
Disinggung soal stok BBM bensin bersubsisi, Misbah mengatakan total kuota provinsi Bengkulu sebanyak 224.014 Kl, yang telah terpakai hingga 15 November kemarin baru mencapai 197.347 Kl masih ada stok sebayak  26.667 Kl. Dan sisa tersebut diprediksikan bisa bertahan hingga akhir Desember 2012.
“Kalau untuk BBM bensin masih cukup aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat provinsi Bengkuku, karena stoknya masih ada 26.667 Kl lagi,” tukasnya.

Pemprov Ajukan Penambahan Kuota
Dibagian lain, Pemerintah Provinsi Bengkulu akan melakukan langkah-langkah strategis untuk menangani persoalan krisis solar tersebut. Dan dalam waktu dekat Plt Gubernur Bengkulu, H Junaidi Hamsyah akan berkoordinasi PT Pertamina Bengkulu, Bank Indonesia (BI) Bengkulu  dan pihak terkait untuk membahas persoalan tersebut.
“Nanti kita kordinasikan dulu, jika memungkinkan maka Pemprov akan mengajukan penambahan kuota kepada Pertamina pusat,” kata Junaidi ditemui usai peresmian pabrik es di Pasar Bengkulu, kemarin.

Asisten II Setda Provinsi Bengkulu Ir M Nashsyah MM MT menilai Peraturan Menteri ESDM Nomer 12 Tahun 2012 tentang Pengendalian Penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengatur kegiatan perkebunan dan pertambangan dilarang menggunakan solar bersubsudi semestinya bisa jadi solusi. Namun penerapannya menuai penolakan dari  Asosiasi Perusahaan Batubara Bengkulu (APBB) dan Gabungan Pengusaha Angkutan Batubara (Gapabara). Ini membuat pelaksanaannya terpaksa ditunda hingga saat ini.

“Dengan harga batubara yang anjlok, menyulitkan pengusaha batubara untuk melakukan perubahan kontrak atas pengangkutan batubara sehingga dengan menggunakan BBM non subsidi akan mengakibatkan kegiatan tambang tutup karena tidak bisa menutupi biaya ongkos angkut,” ujar Nashyah.

Pemprov juga mempertanyakan kriteria alat-alat angkut untuk hasil perkebunan dan pertambangan. Menurut Pemprov, apabila alat angkut hasil perkebunan yang luasnya kurang dari 25 hektar boleh menggunakan BBM bersubdi. Sedangkan yang lebih dilarang. Pengaturan demikian dirasa sulit untuk diterapkan ditataran praktis.
“Terlebih Pemda belum diberikan kewenangan penuh dalam pelaksanaan pengawasan distribusi BBM bersubsidi,” tandasnya.

Antrean Panjang

Sementara itu dalam 2 hari terakhir persediaan solar di sejumlah SPBU di Kota Bengkulu mulai menipis. Hal ini mengakibatkan antrean panjang yang menggila di sejumlah SPBU. Misalnya di SPBU Jalan Sutoyo, terlihat ratusan kendaraan angkutan barang, pertambangan, perkebunan dan mobil pribadi mengantri sejak pagi hingga sore hari. “Saya sudah mengatre sejak tadi siang. Sampai sekarang belum dapat solar yang dicari,” ujar Hasan (34) salah satu supir truk pengangkut sawit.

Keluhan yang sama dilontarkan Supardi (45), salah satu supir angkutan batubara. Terhadap antrian panjang yang ia alami ia mengatakan, “Saya mencari solar sudah 2 hari ini. Mau beli di warung sulit. Kalaupun ada mahal.“(cw1/400)