SMKN 1 Terapkan Aplikasi Slims

Endang/BE
Kegiatan pelatihan outomasi Senayan Library Management System (SliMs) yang digelar SMKN 1 kota Bengkulu.

BENGKULU, BE – SMKN 1 kota Bengkulu menggelar pelatihan outomasi Senayan Library Management System (SliMs ). Pada kegiatan ini ada 9 bulian dinformasikan pada tenaga perpustakaan bekerja sama dengan Ikatan Pustakawan Indonesia Provinsi Bengkulu. Selanjutnya, sekolah ini menerapkan aplikasi tersebut. Sebagai upaya merespon kemajuan teknologi dan meningkatkan kualitas pendidikan siswa.

Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia Provinsi Bengkulu Sutriyono SIP MPdi menuturkan, penggunaan aplikasi SLims di Provinsi Bengkulu masih rendah. Aplikasi ini masyoritas diterapkan di perpustakaan perguruan tinggi, sedangkan di tingkat satuan pendidikan masih menggunakan sistem manual.

“Masyoritas Perguruan Tinggi di Bengkulu, sudah menerapkan Slims. Untuk sekolah baru ada empat sekolah termasuk SMKN 1 Kota Bengkulu nanti,” jelasnya.

Ditengah kemajuan zaman saat ini, layanan perpustakaan pun harus mengikuti perkembangan teknologi. Aplikasi Slims merupakan layanan aplikasi gratis memberikan kemudahan bagi pustakawan, diantaranya membantu mempermudah pencairan data base buku.

“Dengan aplikasi ini pustakawan melek teknologi dan mudah mencari informasi data base buku, pustkawan dari luar pun bisa mengakses koleksi-koleksi yang dimiliki perpustakawan ini,” imbuhnya.

Ikatan Pustakawan Indonesia Provinsi Bengkulu, mendorong agar pengelola perpustakaan untuk bisa mengusulkan agar bisa memanfaatkan aplikasi gratis ini. IPI siap melakukan mendampingi pelatihannya.

“Baru ada 80 an pustkawan yang bergabung di Ikatan Pustakawan Indonesia Provinsi Bengkulu, dan siap mendampingi pengelola perpustkaan menerapkan aplikasi Slims,” jelasnya.

Kepala Perpustakaan SMKN 1 Kota Bengkulu menjelaskan, Slims sistem aplikasi baru yang diperkenalkan. Alasan sekolah menggunakan aplikasi tersebut, karena banyak keuntungan bagi pustakawan dalam pelayanan dan mendukung efektifitas dan efisiensi kinerja.

“Selama ini kita layanan secara manual, baik untuk menghitung buku, menjumlah kunjungan. Ketika menerapkan Slims yang dilakukan secara digital, maka semua layanan mudah terdeteksi layanan dalam hitungan menit,” jelasnya.

Menurutnya, image perpustakaan selama ini sebagai tempat meminjam dan mengembalikan buka, maka image harus dihilangkan karena perpustakaan saat ini harus berbasis infusis sosial, menjadi jantungnya informasi untuk kemajuan pendidikan.

“Bagaimana perpustakaan ini dapat dicintai warga sekolah, maka selain kenyamanan peningkatan sarana dan update koleksi sehingga perpustakaan sekolah bukan hanya menyediakan buku pelajaran juga mengoleksi lainnya,” tukasnya. (247)

 

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*