SMAN 1 Rejang Lebong Raih Juara Nasional Inovasi Handsanitizer Otomatis


IST/BE
Dua pelajar SMAN 1 RL saat meraih juara 3 nasional atas inovasi mereka membuat handsanitizer otomatis.

CURUP, bengkuluekspress.com – Siswi SMAN 1 Rejang Lebong kembali mengharumkan nama Rejang Lebong dan Provinsi Bengkulu. Hal tersebut setelah temuan dan inovasi siswa SMAN 1 Rejang Lebong, yakni handsanitizer otomatis mendapat penghargaan nasional. Penghargaan nasional yang diraih siswi SMAN 1 Rejang Lebong melalui inovasi handsanitizer otomatis tersebut. Yaitu mendapat juara 3 dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diadakan Universitas Airlangga (Unair) beberapa waktu lalu.
Tim SMAN 1 Rejang Lebong yang diwakili oleh Rafifah Faradhilah, Afifah Nur Sai’dah dengan guru pembina Diah Irawati SS MPd menjelaskan, bahwa ide pembuatan handsanitizer otomatis tersebut sebagai salah satu upaya pencegahan Covid-19 mengingat saat ini masih pandemi Covid-19.
“Dengan inovasi yang kami buat ini, maka penggunaan handsanitizer tanpa harus melalui sentuhan,” terang Rafifah.

Karena menurut Rafifah, penggunaan handsanitizer manual yang dengan menggunakan botol secara bersama-sama dengan bergantin justu bisa menjadi media penularan Covid-19. Oleh karena itu ia bersama Afifah dan guru pembimbingnya berinisiatif membuat handsanitizer otomatis. Mereka terinspirasi membuat handsanitizer otomatis berasi dari pengering tangan otomatis serta pengharum ruangan otomatis. Mereka kemudian mencoba menciptakan alat yang bisa menyemprotkan handsanitizer dalam jumlah atau takaran yang pas ke tangan penggunanya.
“Selain itu, untuk bahan-bahannya kami mencoba menggunakan bahan bekas agar dapat mendaur ulang sampah. Tujuan lainnya agar dapat mengurangi tumpukan sampah di Indonesia,” jelas dia.

Sementara itu, anggota tim yang lain Afifah Nur Sai’dah menyebutkan, bahwa proses perlombaan dilakukan secara virtual dan tetap dari Curup. Di awalnya, peserta membuat abstrak dan yang lulus akan maju ke tahap fullpaper.
“Selama pembuatan tersebut, kami didampingi oleh pembina kami, ibu Diah Irawati untuk menjadikan penulisan karya ilmiah dapat semakin sempurna,” kata Afifah.

Sampai akhirnya, proses lomba yang berjalan selama hampir dua minggu tersebut berakhir dengan sesi tanya jawab dengan dosen-dosen setempat terkait penemuan mereka. Nyatanya, penemuan tersebut memikat dewan juri sehingga berhasil keluar sebagai juara 3.
“Setelah ini, kedepannya kami mungkin akan kembali melakukan pengembangan terhadap penemuan ini, supaya lebih baik lagi, sama ada beberapa bagian lagi yang harus diperbaiki,” tutup Afifah.(251)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*