Siswi MTs Dianiaya Lalu Diperkosa

IPUH, BE – Naas dialami Mekar (13) — bukan nama sebenarnya–, siswi salah satu MTs Ipuh Kabupaten Mukomuko. Pasalnya Ia  diduga telah dianiaya dan diperkosa oleh salah seorang pemuda  berinisial E (20), warga Desa Medan Jaya, Ipuh. Peristiwa itu terjadi kemarin (27/9) sore sekitar pukul 15.30 WIB di kediaman korban.

Kapolres Mukomuko, AKBP Wisnu Widarto SIK melalui Kapolsek Ipuh, Iptu Priyo Suhartono mengatakan modus tsk berpura-pura ingin mengambil kartu handphone. Tiba-tiba korban dipukul menggunakan batu pada bagian kepala dan dicekik yang kemudian diseret di semak -semak yang jaraknya sekitar beberapa meter dari rumah korban, lalu diperkosa. Korban kemudian ditemukan dalam keadaan pingsan dalam kondisi  tangan terikat dan pakaian dalam keadaan terbuka.
Selanjutnya berdasarkan laporan orang tua korban, polisi berhasil meringkus pelaku sekitar pukul 16.30 WIB  tak  jauh dari TKP. “Saat ingin ditangkap tsk melawan dan melarikan diri. Sebab itu kami memberikan tembakan peringatan namun tak diindahkan. Akhirnya kami terpaksa melepaskan tembakan ke betis sebelah kiri. Saat ini tsk telah  dimasukan ke sel tahanan untuk diproses lebih lanjut,” jelas Priyo.

Sedangkan Kades Medan Jaya, Jhon Alaisyah  juga membenarkan peristiwa tersebut. “Bagaimana kronologis sebenarnya saya tidak mengetahui secara jelas. Yang pasti korban kuat dugaan diperkosa dan saat kepergok oleh orang tua korban, pelaku langsung kabur dan kondisi korban saat itu pingsan dan tampak memar pada bagian muka dan leher,” terang jhon saat dihubungi BE tadi malam. Korban dibawa ke Puskesmas Ipuh untuk divisum dan direncanakan dirujuk ke RSUD Bengkulu.

Sementara Kakan Kemenag Kabupaten Mukomuko Drs Hamdani MPd membenarkan korban adalah siswi MTs. Ia berharap pihak kepolisian dapat menindak tegas pelaku sesuai dengan hukum yang berlaku.

Kepada orang tua/wali murid ia mengimbau supaya memberikan pengawasan yang ketat dan kontrol kepada anak-anaknya. “Kejadian ini menjadi suatu pembelajaran bagi kita semua khususnya orang tua untuk mengawasi anaknya-anaknya dengan ketat,” ingat Hamdani.(900/234)