Siswa SMPN 23 Ramai-ramai Pindah

large-sekolah-01
Foto :Ist

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Minimnya transportasi menuju SMPN 23 Kota Bengkulu membuat sejumlah walimurid ramai-ramai mengajukan pindah ke sekolah lain. Ramai-ramai pindah sekolah tersebut disampaikan walimurid dengan mengajukan surat pernyataan diatas materai Rp 6000 kepada Kepala SMPN 23 Kota Bengkulu.

Dalam surat pernyataan itu, wali murid menerangkan jika mereka ingin menyekolahkan anak-anaknya ke SMPN 23, karena jalan tidak memadai serta minimnya transportasi ke sekolah, sehingga walimurid mengajukan keberatan dan pindah ke SMPN 25 Kota Bengkulu yang lokasinya berada di Kampung Bahari.

Seperti diketahui, SMPN 23 Kota Bengkulu ini terletak diareal Dusun Bangkahan Kelurahan Teluk Sepang Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu. Kawasan ini tepat dengan perbatasan Kota Bengkulu dan Kabupaten Seluma dan tidak tersedia transportasi, serta jalan masih tanah. Informasi yang diterima BE, ada lima siswa yang sudah menyampaikan surat pernyataan, dan memilih kabur dari sekolah. “Kalau saya bilang, mereka ini bukan pindah melainkan kabur,” ungkap salah seorang tenaga pendidik yang tidak mau disebutkan namanya.

Dibeberkanya, sistem zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2019/2020 memberikan dampak positif terhadap jumlah siswa yang mendaftar di sekolah satu atap tersebut. Saat itu tercatat ada 25 siswa yang terjaring. Namun realisasi sejak awal masuk sekolah, siswa yang terdaftar tidak pernah hadir dan tidak melapor ke sekolah.Padahal nama mereka sudah masuk dalam daftar pokok pendidik (Dapodik) terkoneksi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di SMPN 23 Kota Bengkulu. “Mereka tidak pernah datang ke sekolah, namun secara administrasi mereka terdaftar di SMPN 23 dan telah masuk dalam daftar pokok pendidikan,” ujarnya.

Keluarnya nama siswa bersangkutan, setelah rilis siswa dalam Dapodik, ke lima siswa ternyata sudah bersekolah ke SMPN 25 Kota Bengkulu, dengan adanya surat pernyataan yang dikeluarkan kepala SMPN 25, Indra Jaya SPd. “Kami merasa dirugikan, karena sudah tidak ada siswa yang mau bersekolah di sini. Ini membuktikan gagalnya sistem zonasi yang diterapkan pemerintah,” tegasnya.



Pindah secara rame-rame itu pun sudah disampaikan ke Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kota Bengkulu.Dinas Dikbud justru mengakomodir siswa/siswi untuk bisa bersekolah ke SMPN 25 Kota Bengkulu, dan meminta menghapus nama mereka dalam Dapodik di SMPN 23.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bengkulu melalui Bidang Pendidikan Dasar, Benny Rasdiwansyah saat dikonfirmasi tak menampiknya. Dikatakannya walimurid yang mengusulkan pindah secara ramai-ramai karena jarak dari rumah ke sekolah yang cukup jauh serta tidak ada transportasi.

Sementara rumah walimurid lebih dekat dengan SMPN 25 Kota Bengkulu. Surat pernyataan yang disampaikan ke SMPN 23 merupakan alternatif, agar anak-anak tetap mendapat pendidikan dan pertimbangan cost yang dikeluarkan keluarga yang mayoritas ekonomi sedang. “Iya memang banyak yang mengajukan pindah,” katanya.

Izin pindah itu disetujui dengan alasan tidak didukungnya fasilitas untuk menuju ke SMPN 23 Kota Bengkulu, tidak adanya transportasi menjadi alasan utama orang tua yang menarik anaknya dan memindahkan ke sekolah lain. Beny menegaskan perpindahan secara beramai-ramai tidak akan merusak data pokok pendidik ataupun menciderai pelaksnaaan sistem zonasi yang dicanangkan pemerintah.”Mereka ini yang mengajukan pindah memang masuk dalam zonasi situ (SMPN 25-red), surat pernyataan itu menyatakan benar-benar telah bersekolah ke SMPN 25,” tandasnya. (247)