Siswa MasihTrauma, Pelaku Anggap Motivasi

Pasca Pemukulan 27 siswa SDN 65 Kota Bengkulu

Ju Saat diwawancara di Mapolsek Teluk Segarasuasana belajar kelas 4 pasca penamparanGaya mengajar ‘tempo dulu’ dengan menyelipkan tindak kekerasan yang dilakukan oknum guru Ju (65) menyisakan trauma bagi siswa di SDN 65 Kota Bengkulu. Bagaimana tidak.

Sejumlah siswa yang menerima tamparan itu mengalami memar di kedua pipi dan sekitar mata. Ironisnya, sang guru tersebut seakan melakukan pembenaran akan aksinya itu.

                                                                                                                                                                    
FITRIANI dan ARI APRIKO,

Kota Bengkulu                                                                                                                                       

 

Saat koran ini menyambangi sekolah tersebut, kemarin (5/3), ada 5 siswa yang ikut jadi korban pemukulan belum masuk sekolah. Pun begitu kegiatan belajar mengajar di sekolah yang beralamatkan dijalan Tanjung Jaya ini tetap berjalan seperti biasa.

 
Pasca kejadian Senin pagi itu (4/3), para orang tua mengaku sangat khawatir dengan kondisi anaknya. Seperti diutarakan wali siswa bernama Disti. Perempuan yang kesehariannya menggenakan jilbab ini mengaku wajah anak perempuannya mengalami lebam.

 
“Lihat nih, di sekitar mata anak saya masih biru-biru. Berani sekali dia menampar anak saya. Saya saja orang tuanya tidak pernah memukul apalagi menampar,” ungkapnya.

 
Tak hanya meninggalkan lebam, anaknya juga mengaku sangat trauma dengan kejadian itu. Bahkan takut bila bertemu dengan oknum guru yang memukulnya.

 
“Alhamdulilah, anak saya masih mau sekolah. Tetapi ada beberapa anak yang tidak bisa masuk sekolah karena masih sakit di gendang telinganya,” jelasnya.

 
Selain itu, orang tua dari Sinta ini merasa sangat kecewa dengan tindakan yang dilakukan oknum guru itu. Agar tak menimbulkan trauma yang berkepenjangan. Dia meminta agar pihak sekolah dan Dispendik untuk memutasikan guru mata pelajaran keterampilan dan menggambar ini.

 
Ingin mengetahui berapa jumlah siswa yang masuk sekolah, wartawan koran ini pun mendatangi kelas 4 yang letaknya di sebelah kanan gedung sekolah. Kelas yang letaknya sekitar 50 meter dari ruang guru dan kepala sekolah ini sedang diajar oleh guru pengganti. Karena guru kelasnya Susmaini Spd pergi bersama dengan kepala sekolah, memenuhi panggilan Kadispendik Kota Bengkulu.

 
“Saya hanya guru pengganti, anak yang masuk sekitar 25 orang. Lima orang sakit,” ujarnya singkat.
Sementara itu, sebelum berangkat menuju Dispendik Kota Bengkulu, Kepala SDN 65, Hamasni Spd mengatakan dirinya tidak bisa bercerita terlalu banyak terkait masalah ini. Karena semua permasalahan sudah ditangani oleh pihak yang berwajib. Namun, dia mengaku bahwa guru tersebut memang memiliki sifat yang tempramental.

 
Disisi lain, ibu yang terlihat sangat lembut ini sangat merasa bahwa tragedi pemukulan  merupakan ujian bagi dirinya yang baru dilantik beberapa bulan lalu. Kendati demikian, dia berharap agar kejadian ini bisa diselesaikan dengan adil dan tidak terulang kembali.

 

Anggap Wajar
Lebih memprihatinkan lagi sang oknum guru Ju seakan menganggap biasa tindakan  menampar 27 orang anak didiknya itu. Saat disambangi koran ini di Mapolsek Teluk Segara, Ju justru mengaku aksi pemukulan yang dilakukannya itu sebagai bentuk motivasi bagi siswanya. Bahkan Ju menganggap apa yang ia lakukan masuk dalam kategori wajar.
“Saya memang masih terbiasa memdidik anak dengan cara seperti itu (memukul/menampar). Menurut saya itu sebagai bentuk motivasi kepada siswa agar mereka agresif,” ungkap Ju.

 
Ju bercerita sudah menjadi guru selama 25 tahun. Selama kurun waktu menjadi guru itu, pendidikan ala semi militer kerap aplikasikannya. Bahkan tahun 2004 ia pernah mendekam di Tahanan Mapolsek Teluk Segara selama 4 malam dengan kasus yang sama.

 
Aksi pemukulan itu, terang Ju, dipicu dirinya kesal lantaran siswa kelas 4 yang diperintahkan untuk bergotong royong membersihkan sekolah tidak serius. Emosinya pun memuncak. Sebanyak 27 siswa diinstruksikannya berbaris masuk ke dalam kelas. Saat itulah satu persatu siswa ditamparnya.

 
“Siswa kelas 4 tersebut semuanya 30 orang. Saat itu ada 3 siswa yang tidak masuk sekolah,” akunya seraya menyesali telah melakukan tindakan tersebut.

 
Menurut Ju sejak awal ia sudah meminta maaf kepada seluruh orang tua siswa terkait kejadian tersebut. Saat ini dirinya pasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada Kepala SD 65 dan Dinas Pendidikan Kota Bengkulu.”Bila masalah ini selesai, saya tak ingin mengajar lagi. Saya ingin mengajukan untuk menjadi petugas perpustakaan,” ujarnya.

 

Sanksi
Sementara itu, Kadispendik kota Bengkulu Yunirhan MPd melalui Kasubag Kepegawaian Firman Jonaidi Spd mengatakan tindakan pemukulan atas nama mendidik tidak dibenarkan dalam dunia pendidikan. Oleh karena itulah, setelah proses hukum selesai dijatuhkan. Selanjutnya, guru tersebut akan mendapatkan sanksi PNS berupa pembinaan aparatur.
“Tim pembina sedang kita susun, dan segera kita binap setelah proses hukum selesai,” terangnya.

 
Dari catatan pihaknya, terhitung sudah 2 kali guru tersebut melakukan pemukulan siswa. Sekitar 3 tahun lalu, setelah melalui proses damai yang bersangkutan terbebas dari kasus hukum. Kemudian hal yang serupa dilakukannya lagi ditahun ini. Agar tidak kecolongan, selama mendapatkan binap guru ini tidak akan mendapatkan jam mengajar di sekolah.

 

Kekeluargaan
Dari sisi lain, Ketua PGRI Kota Bengkulu, Mukhtarimin Spd mengatakan bahwa dirinya telah melakukan penelusuran kasus dengan berkunjung langsung ke Polsek Teluk segara dan sekolah. Dari hasil tersebut, pihaknya meminta agar kasus ini dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan mengingat telah terjalin hubungan emosional antara yang bersangkutan dengan siswa.
“Kita berharap hubungan antara siswa dan guru selama 4 tahun terakhir ini hendaknya tidak rusak dalam waktu sekejab ini.

 

Dan kita PGRI berharap agar orang tua membuka diri terhadap permasalahan ini lewat jalur kekeluargaan,” harapnya seraya menyampaikan mewakili organisasi PGRI menyampaikan permohonan maaf kepada korban dan keluarganya atas insiden yang melibatkan anggota PGRI Kota Bengkulu itu.

 
Sekalipun ada upaya menuntaskan secara kekeluargaan, Kapolres Bengkulu AKBP H Joko Suprayitno SST MK melalui Kapolsek Teluk Segara Kompol Hari Kurniawan SIK menyatakan penyidikan tetap berjalan dengan memanggil beberapa orang saksi.

 

Oknum guru Ju sendiri saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka. Akibat perbuatannya tersebut tersangka akan dikenakan pasal 335 junto 352 tentang perbuatan tidak menyenangkan dan penganiayaan ringan.

 
“Pemeriksaan akan terus kita laksanakan dan beberapa orang saksi telah kita mintai keterangan dan saat ini Ju sudah ditetapkan sebagai tersangka,” papar Kompol Hari.(**)