Siswa Bunuh Diri Karena Tak Ada Biaya Sekolah

CURUP, BE – Aksi gantung diri yang dilakukan Adi Saputra (19) warga Kelurahan Kota Padang Kecamatan Kota Padang, diduga karena frustasi tidak mendapatkan biaya mid semester senilai Rp 130 ribu.  Hal ini cukup memukul dunia pendidikan khususnya pihak SMAN 1 Kota Padang.

Kepala SMAN 1 Kota Padang Basarudin SPd, melalui Pengelola IPP (iuran penunjang pendidikan) Yozi Pardian menegaskan, jika pihak sekolah tidak pernah memaksa pembayaran biaya SPP ataupun biaya sekolah lainnya segera dibayarkan.

“Kalau memang siswa kurang mampu kita beri bantuan.  Kami tidak pernah nagih, bahkan tidak pernah ada dikirim surat atau dipanggil karena belum bayar biaya sekolah,” tegasnya.

Dijelaskan Yogi, Adi Saputra tidak pernah menghadap guru untuk mengungkapkan belum biasa membayar biaya sekolah. Kalaupun belum mampu bisa menghadap pihak sekolah untuk keringanan. “Bahkan, kami punya siswa kelas sebelas sampai nunggak sejuta, tidak pernah kami tagih. Kami beri keringanan untuk mengangsur sampai mereka tamat,” terang Yozi.
Fungsi IPP sendiri, sambung Yozi, tidak lain untuk kelancaran proses kegiatan belajar mengajar, pemenuhan sarana ATK, termasuk honor guru dan karyawan.

“Kami memiliki guru honor 20 orang. Sedangkan PNS dan karyawan tidak mencukupi, sehingga honor bagi para guru tersebut dibayar melalui IPP tersebut,” katanya.

Dari 500 orang, yang belajar di SMAN 1 Kota Padang, ada sebanyak 70 orang siswa yang dibantu dan mengajukan permohonan keringanan. “Terkait kejadian gantung diri ini, kami nanti akan meminta konfirmasi kepada orang tua. Pada hari kejadian anak tidak sekolah, mengajukan izin bahkan ada tandatangan orang tua. Sedangkan menurut keterangannya orang tua di kebun,” tambah Yozi.
Sejauh ini, pihak sekolah mengaku tidak mengetahui masalah korban. Hanya saja beberapa hari sebelum gantung diri korban memang jarang masuk sekolah.

“Sekali lagi kami tegaskan, tidak pernah mengumumkan atau menyinggung soal SPP. Selama ini yang menunggak, orang tua datang ke sekolah. Kita berikan dispensi. Malahan ada siswa yang digaji, malah kami berikan uang saku sebanyak 6 orang,” terangnya.

Murni Bunuh Diri
Sementara itu, polisi memastikan Adi Saputra murni tewas karena bunuh diri. Hal tersebut dijelaskan Kapolsek Kota Padang Iptu Dalhasan dikonfirmasi wartawan kemarin.  Dijelaskannya, dari hasil visum di Rumah Sakit Lubuklnggau, tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. “Sebelum dibawa ke RSUD Lubuklinggau, korban sempat dibawa ke Puskesmas Curup dan masih bernafas, makanya langsung dibawa ke RSUD Lubuklinggau,” terangnya.

Di bagian lain, sumber wartawan menerangkan jika jasad Yozi sempat tertahan lebih dari dua jam di RSUD Lubuklinggau, Kamis (4/10).  Insiden ini terjadi lantaran saat dibawa ke rumah sakit orang tua korban tidak membawa uang sebesar Rp 135 ribu, sebagai biaya administrasi di rumah sakit tersebut. Peristiwa menggugah nurani warga dan beberapa tim medis rumah sakit.

Bahkan, sempat terjadi penggalangan dana yang akhirnya bisa dipergunakan untuk membayar biaya administrasi di rumah sakit Lubuklinggau.  Jasad korban kemudikan bisa dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan di TPU Kelurahan Kota Padang. (999)