Sewa Bazar Tabot Rp 2,5 Juta/Lapak

BENGKULU, BE – Yayasan Asyura Tabot Bengkulen sebagai¬† Event Organizer (EO) perayaan festival tabot 2012 ini telah menetapkan sewa lapak untuk bazar Rp 2,5 juta/lapak dengan ukuran 3×4 meter.¬† Sewa Rp 2,5 juta/lapak tersebut sama seperti sewa yang ditetapkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bengkulu terhadap 20 lapak yang dikelolanya.

“Bagi masyarakat yang berminat mengikuti bazar diareal tabot silahkan menghubungi panitia untuk menyewa lapak, karena jumlah lapaknya terbatas,” kata Ketua Yayasan Asyura Tabot Bengkulen, Drs Ali Arifin, kemarin.

Ia menjelaskan tarif Rp 2,5 juta tersebut telah mencakup biaya keseluruhannya selama 10 hari pelaksanaan festival tabot, seperti biaya listrik dan instalasinya, keamanan, kebersihan dan dananya lainnya. Masyarakat yang ingin mendaftar pun tidak pandang bulu, asalkan orang tersebut berprofesi sebagai pedagang dan bersedia membayar sewa lapak dimuka.

Disinggung soal PAD yang diusulkannya ke Disparbud sebesar Rp 100 juta, ia pun optimis bahwa usulan itu bisa tercapai. Karena pihaknya akan menargetkan pembangunan lapak sebanyak 75 buah.

“Kalau usulan itu diterima Disparbud, kami pun yakin bahwa bisa terealisasi, tapi jika Disparbud meminta lebih tinggi dari itu kemungkinan sulit kami penuhi karena biaya yang kami keluarkan juga cukup besar, seperti bayar listrik, sewa tenda, upah bongkar-pasang tenda, dan biaya operasional lainnya.

“Rp 100 juta itu sudah cukup tinggi, sedangkan tahun 2011 lalu Disparbud hanya mendapatkan PAD sebesar Rp 50 juta,” sampainya.
Senada juga disampaikan ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Bengkulu yang juga terlibat sebagai EO vestival tabot, Jaya.¬† “Sewa lapak sama seperti Yayasan Asyura yakni sebesar Rp 2,5 juta/lapak dengan ukuran 3×4 meter,” katanya.

Ia mengatakan pihaknya hanya mampu mengusulkan PAD kepada Disparbud hanya Rp 50 juta, mengingat lokasi yang dipegangnya juga lebih sedikitnya yakni dari China Town hingga ke objek wisata Tapak Paderi.

Minta Dicairkan
Di bagian lain, koordinator ritual sekaligus pembuat tabot Sakral, Sayidina Muhammad meminta pemerintah kota dan provinsi Bengkulu untuk segera mencairkan dana yang telah dijanjikan, karena dana tersebut sangat dibutuhkan untuk memulai pengerjaan pembuatan tabot.

“Kami meminta kepada pemerintah untuk segera mencairkan uang tersebut, semestinya pengerjaan telah mulai dilakukan, tapi berhubung dananya belum ada maka pengerjaan pun terpaksa ditunda,” pintanya.

Jika berpedoman pada tahun sebelumnya, maka 1 bulan sebelum perayaan maka dana tersebut telah dicairkan, tapi untuk ini hingga saat ini belum juga ada kejelasan apakah pemerintah serius untuk memberikan bantuan tersebut atau hanya penghibur saja.

“Kalau pemerintah tidak mau memberikan bantuan, tabot ini akan tetap kami buat tapi hanya sebatas kemampuan kami. Kami khawatir jika tabot ini kami buat semampu kami akan memalukan pemerintah, karena festival ini akan menjadi event nasional,” tukasnya.(400)