Sering Tidur Telentang, Kepala Bayi jadi Rata

POSISI tidur terbaik untuk bayi adalah telentang, karena dapat mencegah sindrom kematian mendadak atau sudden infant death syndrome (SIDS).

Banyak orang tua mematuhi anjuran ini demi keselamatan buah hati, tapi beberapa bayi kemudian menjadi rata kepala belakangnya.

Sebuah penelitian di Kanada yang dimuat dalam jurnal Pediatrics menemukan bahwa  banyak bayi berumur 2 tahun  mengalami kondisi ini. Seorang peneliti bernama Aliyah Mawji dari Mount Royal University di Calgary, Alberta, meneliti 440 kepala bayi sehat yang mengunjungi 4 buah klinik.

Hasilnya menemukan bahwa sebanyak 205 bayi, atau sekitar 47 persen, mengalami deformasi atau perubahan bentuk pada kepalanya yang terlihat jelas dengan mata telanjang. Lebih dari tiga perempat di antaranya mengalami perubahan bentuk yang masih terhitung ringan.

“Ini amat umum dijumpai. Dengan adanya kampanye tidur telentang dan tidur di kursi mobil, orang-orang tidak memegang bayinya seperti dulu. Kami menemukan masalah pada bentuk kepala bayi,” kata neonatologist (seorang dokter anak yang mengambil pelatihan tambahan dan sertifikasi untuk merawat bayi baru lahir yang berisiko),  dari University of California, San Diego School of Medicine, Dr Lisa Stellwagen, seperti yang dilansir laman Business Standard, Selasa (9/7).

Dalam ilmu kedokteran, kepala bayi yang rata pada bagian belakang ini disebut plagiocephaly. Sebenarnya tengkorak kepala yang datar atau rata tidaklah berbahaya, namun dapat menjadi permanen. Peneliti mengkhawatirkan dampaknya terhadap kondisi psikologis anak-anak saat tumbuh dewasa.

Menurut Stellwagen, banyaknya kasus ini bermula dari awal 1990-an. Ketika itu, para dokter menyarankan orang tua meletakkan bayinya tidur telentang untuk mencegah kematian mendadak. Kampanye ini sangat sukses dan berhasil menurunkan angka kematian bayi akibat SIDS.

Oleh karena itu, Stellwagen menyebutkan bahwa temuan penelitian baru ini bukan berarti menyarankan orang tua untuk tidak mengikuti saran meletakkan bayi dalam posisi tidur telentang. Hanya saja perlu dilakukan beberapa hal agar bayi tidak rata kepalanya.

Ada langkah-langkah yang bisa diambil agar bayi tidak mengalami plagiocephaly. Misalnya menggendong bayi sesering mungkin, membiarkan bayi beraktivitas di atas perutnya atau tengkurap ketika terjaga sambil diawasi.

Mawji menyarankan untuk meletakkan bayi dalam posisi yang bervariasi ketika tidur. Jika kepalanya menengok ke kanan, maka malam berikutnya kepala bayi sebaiknya diposisikan menengok ke kiri. Ketika memberi makan atau menyusui bayi, tangan yang menggendong bayi sebaiknya berganti-ganti.

“Deformasi dapat diperbaiki dengan helm. Tetapi biasanya harganya mencapai US$ 1.000 atau sekitar Rp 9,95 juta sampai US$ 3.000 atau sekitar 29,8 juta, sehingga cara ini sebaiknya dijadikan sebagai upaya terakhir. Untuk bayi muda, pengobatannya adalah berupa pencegahan,” kata peneliti, Aliyah Mawji.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa secara umum, sekitar 3  persen hingga  61 persen bayi memiliki kepala yang rata. Beberapa penelitian lain mengaitkan plagiocephaly dengan tertundanya kemampuan bayi untuk merangkak atau berguling. Tapi keterlambatan tersebut berhasil disusul saat bayi berusia 18 bulan.(fny/jpnn)