Semua Madrasah di Provinsi Bengkulu Harus Patuhi Protokol Kesehatan

Kepala Kemenag Provinsi Bengkulu, Bustasar
Kepala Kemenag Provinsi Bengkulu, Bustasar

BENGKULU, BE – Hingga saat ini Diera tatanan kehidupan baru ini atau dikenal era new normal, belum seluruh madrasah di Provinsi Bengkulu menggelar pembelajaran tatap muka. Pembelajaran antara siswa dan guru masih dilaksanakan secara dalam jaringan (daring). Bila nanti sekolah menerapkan pembelajaran tatap muka, maka semuanya harus mematuhi protokol kesehatan.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Bengkulu, Drs.H Bustasar, MS, M.Pd melalui Kabid Pendidikan Madrasah, Dr. H Juni Muslimin, MA menuturkan kepada bengkuluekspress.com, Selasa (28/7), hingga saat ini, dari 9 kabupaten dan satu kota di Provinsi Bengkulu, baru satu kabupaten yang mengajukan pembelajaran tatap muka, yaitu di kabupaten Mukomuko, yang sudah memasuki zona hijau. Sementara daerah zona hijau lainnya belum mengajukan izin pembelajaran di kanwil Kemenag. Meski begitu proses pembelajaran ditingkat madrasah sudah berlangsung sejak 13 Juli 2020 tahun ajaran baru.

“Sementara untuk proses belajar sebagian besar menggunakan Daring dengan kurikulum darurat. Madrasah yang sudah belajar secara tatap muka masih terbatas untuk tingkat MTs dan MA. Tentu dengan pemenuhan protokol kesehatan. Pengaturan jadwal pertemuan sehingga tidak terjadi penumpukan masa. Harapan kita pandemi ini dapat segera berakhir dan proses belajar mengajar dapat kembali berjalan normal,” tukas Juni Muslimin.

Pembelajaaran sistem daring (dalam jaringan) untuk wilayah zona kuning, oranye dan merah. Sementara madrasah yang berada di zona hijau diperbolehkan melaksanakan pembelajaran tatap muka, namun tetap dengan mengedepankan protokol kesehatan covid-19.

“Setiap madrasah dibawah naungan Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Bengkulu, dapat mematuhi Protokol Kesehatan pada masa pandemi covid 19. Terutama saat ini tahun ajaran baru telah dimulai,” ujarnya kepada bengkuluekspress.com.

Pemenuhan protokol kesehatan di madrasah ini, antara lain dengan menyediakan tempat cuci tangan bagi siswa siswi mengatur jadwal belajar siswa, agar tidak terjadi penumpukan massa, serta penggunaan masker.

“Madrasah hendaknya membuat cuci tangan secara permanen. Pemenuhan fasilitas protokol kesehatan ini sedapat mungkin agar dapat bersifat permanen,” pintanya.

Dicontohkannya, dengan menyediakan tempat cuci tangan permanen, yang dapat bertahan dalam jangaka waktu lama. Sehingga siawa siswi dapat terus memanfaatkannya sehingga menjadi kebiasaan baru yang positif bagi madrasah. Meskipun nantinya masa pandemi sudah berakhir dan kehidupan berjalan normal kembali.

Pemenuhan protokol kesehatan tersebut berlaku untuk semua jenjang pendidikan di madrasah. Mulai tingkat Madrasah ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsnawiyah (Mts) dan Madrasah Aliyah (MA). Penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran covid-19 ditengah masayarakat.

“Ajak anak-anak kita untuk berlaku hidup bersih dan sehat dimasa new normal ini, rajin mencuci tangan, buang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan masker, jaga jarak dan rutin berolahraga, jika sudah menjadi kebiasaan tentu anak-anak kita tidak merasa berat lagi,” harapnya. (247/rls)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*