Sempat Viral di Media Sosial

REWA/Bengkulu Ekspress Dokter dan Perawat RSHD Kota Bengkulu saat memeriksa kondisi kesehatan Muhammad Laden (7) usai diketahui warga saat disekap dalam ruangan pengap.

Sadis!! Ibu Tega  Sekap Anak Kandung

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Kasus dugaan penyekapan yang dilakukan Ibu kandung, Titin, warga Jalan Lombok, RT 16, Kelurahan Sentiong, Kecamatan Teluk Segara terhadap Muhammad Laden (7) akhirnya viral setelah salah seorang warga merekam video kondisi Laden yang terkurung di dalam kamar dengan kondisi cukup memprihantinkan.

Video berdurasi sekitar 1 menit tersebut cepat mendapatkan respon dari netizen terutama warga Bengkulu. Sampai akhirnya sejumlah perempuan mengatas namakan dari komunitas sosial menjemput Laden dan Titin untuk dibawa ke RSHD Kota Bengkulu, Senin (13/5) siang.

Berdasarkan keterangan tetangga Titin yang kerap memberi makan Laden jika sedang ditinggal. Kejadian penelantaran tersebut sebenarnya sudah cukup lama, lebih kurang satu tahun. Biasanya Laden ditinggal sendirian di dalam rumah bedengan dengan kondisi pintu dan jendela terkunci. Lamanya ditinggal biasanya sampai seharian.

“Kito kasih makanan seadonyo, biasonyo kami kasih makan dilemparkan kedalam lewat ventilasi. Pintu samo jendela dikunci, kami kasian dak tega karena dari dalam dia sering manggil-manggil,” jelas perempuan enggan ditulis namonyo tersebut.

Lebih lanjut dia menyampaikan, yang merekam video tersebut merupakan warga sekitar. Bermula dari keprihatinan warga melihat kondisi Laden yang sudah ketebelakangan mental, tidak diurusi oleh orang tuanya.  Karena orang tua tidak peduli, warga akhirnya bertindak dengan merekam video dengan maksud agar kondisi tersebut diketahui orang banyak.

Selama lebih kurang 1 tahun warga sekitar bedengan Titin bukan diam saja, mereka kerap menyarankan agar Titin membawa Laden ke Rumah Sakit.  Bahkan ada yang menawarkan bantuan dari Dinas Sosial, bantuan operasi bibir untuk Laden semuanya ditolak oleh Titin. Permintaan warga untuk tidak mengunci pintu dan jendela juga tidak digubris oleh Titin. Warga meminta agar tidak mengunci pintu dan jendela agar lebih mudah memberi makan dan memantau Laden. “Alasan dio dak galak nerimo bantuan tu karno dio la mampu, punyo sanak kerjo di Singapura,” imbuh warga tersebut.

Sementara itu Ketua RT 16 Sarial Efendi mengatakan, Titin sudah sekitar dua tahun tinggal di RT 16. Hanya saja sudah pindah bedengan 3 kali. Dia mengaku berasal dari Provinsi Lampung. Terkait hal tersebut, Sarial mengaku sudah pernah menyarankan Titin untuk mengurus KK, tetapi tidak pernah digubris. Minimal untuk data diri agar bisa mendapatkan bantuan. “Dia tu dari Lampung, kalau soal dio ninggali anak tu sudah umum, la tau galo warga siko. Hanya saja Titin nyo yang dak pernah sosialisasi dengan warga, dak peduli,” jelas Sarial.

Sarial menjelaskan jika Titin masih peduli dengan anaknya, hanya saja dia memang kerap meninggalkan anaknya didalam bedengan sendirian saat dirinya bekerja. Untuk pekerjaan Titin, Sarial mengaku tidak tahu. Yang jelas Titin pernah bekerja dipembuatan kue. “Saya tidak tahu kalau kerjaannya saat ini apa, yang pasti dia itu kerap menolak jika kita tawari bantuan,” imbuhnya.

Kapolsek Teluk Segara, Kompol Jauhari mengatakan, setelah mendapatkan laporan adanya video terkait penyekapan tersebut, dirinya memerintahkan bhabinkamtibmas Kelurahan Sentiong untuk melakukan pengecekan.
Setelah dilakukan pengecekan ternyata Laden sudah dibawa ke rumah pak RT. Tidak lama kemudian sejumlah perempuan dari komunitas sosial membawa Laden ke RSHD Kota Bengkulu.

“Kita dapat laporan adanya video penyekapan itu, saya suruh cek bhabinkamtibmas dan Alhamdulilah sekarang yang bersangkutan sudah dibawa ke rumah sakit. Sejauh ini tidak ada unsur pidana dalam kasus tersebut,” pungkas Kapolsek.

Walikota Berikan Perhatian

Walikota Jamin Biaya Kesehatan dan Pendidikan Laden Walikota Bengkulu H Helmi Hasan SE ikut prihatin dengan kondisi Muhammad Laden Al Surat (7) penderita autis yang dikurung oleh ibu kandungnya selama 2 tahun.  Dalam hal ini Walikota telah menegaskan kepada Direktur Rumah Sakit HD dan jajarannya untuk melakukan pelayanan yang intensif dan maksimal, dan Pemerintah Kota siap menanggung segala biaya dalam bentuk penanganan medis. “Saya prihatin, sedih dan kecewa betul dengan kejadian itu dan Pemerintah kota sudah mengambil alih anak itu untuk dirawat dan diberikan pelayanan kesehatan.

Dan kita juga akan pulihkan mental dan kesehatan setelah itu baru diberikan pendidikan,” kata Helmi kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (13/5).  Helmi sangat menyayangkan kejadian ini terjadi di Kota Bengkulu, dan tak menyangka seorang ibu yang seharusnya mencintai dan merawat, tetapi justru perlakuannya berbeda justru sudah mengarah kekerasan terhadap anak.

Menurut Helmi jika nantinya anak tersebut memerlukan pelayanan yang lebih intensif lagi maka pihaknya siap menerbangkan anak tersebut untuk berobat ke Jakarta demi mendapatkan pengobatan yang maksimal, tanpa sedikitpun memberatkan pihaknya keluarganya karena sudah ditanggung oleh pemerintah. Bahkan jika telah merasa pulih maka Pemkot juga akan menjamin pendidikan anak tersebut bisa didapatkan secara maksimal, sehingga orang tua yang tadinya putus asa mendapatkan harapan dari seorang anak yang memiliki keterbelakangan mental tersebut. “Kalau diperlukan harus sampai dimana rumah sakit yang dirujuk demi penyembuhannya, dan pemerintah kota akan terus memantau dan mendampingi,” tandas Helmi.

RSHD Beri Biaya Perawatan Gratis

Sementara itu, Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu memberikan biaya perawatan gratis kepada Muhammad Laden Al Surat, seorang anak keterbelakangan mental yang viral di media sosial facebook karena di kurung oleh ibunya, Titin (37) selama tiga hari berturut-turut di kediamananya di Jalan Bangka Kelurahan Sentiong RT 16 RW 5 Kota Bengkulu.

Direktur RSHD Kota Bengkulu, dr Lista Cherlyviera mengatakan, akan memberikan biaya perawatan gratis kepada Muhammad Laden Al Surat (8), ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian RSHD kepada masyarakat Kota Bengkulu.
Apalagi diketahui, anak tersebut merupakan orang yang tidak berada, bahkan orang tuanya tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan. “RSHD ini adalah rumah sakit masyarakat Kota Bengkulu, siapapun yang sakit pasti kita rawat, termasuk anak ini, jadi kami akan gratiskan semua biaya perawatannya,” kata Lista, kemarin (13/5).

Selain itu, pihaknya mengaku, tidak ada unsur kekerasan yang dilakukan oleh Ibu korban. Hasil tersebut didapat setelah pihak dokter dan perawat RSHD melakukan pemeriksaan di ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat). Akan tetapi kondisi anak tersebut dinyatakan lemah, karena kekurangan cairan dan makanan. “Setelah tadi diperiksa, anaknya dinyatakan kondisinya bagus, tidak ada penganiayaan atau pemukulan apapun, tapi hanya lemas saja karena dehidrasi, tapi nanti sudah di infus biar kondisinya kembali pulih,” ungkap Lista.

Namun, dikarenakan anak tersebut memiliki keterbelakangan mental, Lista mengaku, memang harus membutuhkan perawatan khusus. Sehingga dalam 2 hingga 3 hari kedepan harus dirawat secara intensif di rumah sakit. “Kondisinya belum begitu baik jadi harus dirawat dulu disini (RSHD) nanti setelah pulih baru boleh pulang,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua GOW Kota Bengkulu, Dian Fitriani Wahyudi mengatakan, berdasarkan informasi yang didapat oleh pihaknya, anak tersebut dikurung mengingat ibunya pada siang hari harus mencari nafkah. Sementara tidak ada orang lain yang bisa mengasuh dan menjaga anak ini dirumah, sehingga menguncinya dari luar rumah.  “Mungkin karena ibunya bekerja, jadi anaknya ini dikurung, karena memang mereka hanya tinggal berdua, jadi tidak tahu mau titip sama siapa, kan mereka dari Lampung bukan warga Kota Bengkulu asli,” tutur Dian.

Selain itu, Dian juga sangat menyayangkan, jika anak tersebut harus dikurung di ruangan khusus yang kotor dan berdebu. Hal tersebut jelas mengganggu kesehatan anak tersebut. “Kondisinya bisa semakin buruk kalau tidak ditangani segera, makanya para ibu-ibu dari Bhayangkara langsung sigap membawa anak ini ke RSHD, tadinya si Ibu sempat menolak, tapi dipaksa akhirnya mau juga,” ungkapnya.

Akan tetapi, Ia mengaku, jika Ibunya tidak sanggup mengasuh anak tersebut, Pihaknya siap mengantarkan anak tersebut ke Panti Asuhan. Sehingga kondisinya bisa terjamin dan terawat dengan baik. “Kalau Ibunya tidak bisa merawatnya, kami sudah menyarankan agar diasuh di Panti Asuhan di Kota Bengkulu, sehingga anak ini bisa terjamin, karena dia Autis jadi perlu penanganan khusus,” ujar Dian.

Disisi lain, Direktur Yayasan PUPA Bengkulu, Susi Handayani mengatakan, jika anak tersebut dikurung didalam rumah tetapi tetap diberi makan artinya tidak ada unsur kekerasan yang dilakukan oleh orang tuanya.  Hanya saja kemungkinan yang menyebabkan fisiknya menjadi lemah karena diletakkan di ruangan khusus yang tidak bersih dan penuh debu dalam waktu yang lama, bahkan hanya mengenakan pempers dan tidak mengenakan baju sehingga kesehatannya menjadi terganggu.

“Dia kan anak keterbelakangan mental, jadi perlu penanganan khusus, ibunya tidak tau apa-apa, harusnya dia bisa belajar merawatnya dari orang yang berpengalaman, tapi karena orang tidak punya jadi diabaikan begitu saja,” tutupnya.(999/(805/167/999)