Sempat Mati Suri, Sekarang Mulai Ditata

[youtube v=”b8r1fEzG9dA”]

ARI APRIKO, Selupu Rejang

Perbedaan kondisi terlihat jelas di Objek Wisata Pemandian Air Panas Gerojokan Sewu yang ada saat ini dengan kondisi beberapa tahun sebelumnya yaitu sejak pertama kali ditemukan pada tahun 2015 lalu. Bila sebelumnya, kawasan objek wisata ini belum tertata rapi, hanya ada beberapa pancuran mengeluarkan air panas atau hangat yang disediakan pengelola, kemudian tak ada tempat berteduh yang ada hanya bilik ganti yang terbuat dari plastik berwarna hitam serta bangku-bangku yang terbuta dari papan dan kayu dipasang dibawah beberapa pohon sebagai pelindung pengunjung triknya matahari saat siang hari.

Namun kondisi tersebut saat ini tidak lagi ditemukan dikawasan objek wisata yang ada di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang tersebut, sebelum sampai dilokasi jembatan yang sebelumnya hanya kayu dan bambu saat ini juga sudah dibangun permanen. Kemudian diarea objek wisata ini sudah banyak berdiri gazebo-gazebo yang terbuat dari bambu yang beratapkan ijuk, gazebo tersebut bisa digunakan pengunjung untuk istirahat maupun makan bersama keluarga. Selain itu, pengelola juga sudah membangun dua unit kolam sehingga para pengunjung bisa berendam sembari merelaksasi tubuh dengan air hangat yang keluar langsung dari perut bumi.

Bila pengunjung ingin meresakan sensasi mandi pancuran dengan air hangat, saat ini juga sudah banyak pancuran yang tersedia dengan beberapa tingkat, pancuran tersebut berada disebuah tebing batu dengan batu hitam yang ada dimana-mana sehingga menjadi daya trik sendiri.



Sementara itu, untuk akses jalan sendiri, untuk sampai ke lokasi saat ini hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, sedangkan untuk kendaraan roda empat harus berjalan sekitar 300 meter dengan menuruni jalan tanah yang dalam proses pembangunan oleh pengelola.

Perubahan yang signifikan di objek wisata air panas Gerojokan Sewu tersebut sejak dikelola oleh Supardi Efendi atau Fendi (45). Menurut Fendi ia mengelola objek wisata yang berjarak sekitar 1 KM dari dari jalan menuju pos pendakian Bukit Kaba sejak Mei 2018 lalu. Dimana sejumlah fasilitas telah ia bangun, mulai dari kamar ganti, gazebo, kolam hingga penambahan pancuran. Meskipun ia mengakui fasilitas yang ada tersebut belum memadai.

“Kalau berbicara fasilitas, tentu kami masih sangat kurang, terutama musola, karena sebagian besar pengunjung kita adalah muslim,” aku Fendi.

Menurut Fendi, kawasan objek wisata gerojokan sewu tersebut adalah milik Warsilun salah satu warga Sumber Urip, sebelumnya pengunjung bebas masuk dengan membayar seikhlasnya, namun sejak ia kelola pengunjung dikenakan tarif Rp 5 ribu dan parkir 2 ribu. Penarikan retribusi tersebut ia lakukan untuk pengemgan objek wisata itu sendiri, karena menurutnya selain yang sudah dibuka saat ini, potensi wisata gerojokan sewu masih cukup besar yang siap dikembangkan.

Disisi lain, Fendi mengaku sejak dikembangkannya objek wisata tersebut, saat ini pengunjung sudah semakin ramai yang datang terutama saat hari libur, selain berdampak pada jumlah pengunjung yang datang, pengembangan objek wisata gerojokan sewu juga mulai berdampak pada pengelolaan wisata dikawasan tersebut. Karena menurut Fendi saat ini sejumlah warga yang memiliki tanah dikawasan pemandian air panas gerojokan sewu juga sudah sepakat untuk mengembangkan agrowisata.

“Saat ini kami sepakat untuk mengembangkan agrowisata dikawasan ini, ada beberap orang yang sudah menanam jeruk dan stroberi untuk objek wisata agrowisata kedepannya,” terang Fendi. Fendi berharap objek wisata tersebut akan semakin berkembang kedepannya, sehingga bisa mendorong program Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong yang akan menjadikan Rejang Lebong sebagai kota pariwisata.(**)