Sekolah Perdana, Guru SDN 18 Kota Bengkulu Mogok

1 dan 2 Endang/Bengkulu Ekspress Kapolsek Ratu Agung Iptu Todo Rio saat mendatangi SDN 18 dan memberi arahan para guru dan para siswa yang tak masuk ke ruanga kelas.
Endang/Bengkulu Ekspress Kapolsek Ratu Agung Iptu Todo Rio saat mendatangi SDN 18 dan memberi arahan para guru dan para siswa yang tak masuk ke ruanga kelas.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Hari perdana masuk sekolah, Senn (16/7), di SDN 18 Kota Bengkulu, diwarnai aksi mogok para guru. Belasan guru SDN 18 menuntut Kepala Sekolah, Fratter Netti lengser dari jabatanya. Para guru hanya sebentar datang ke sekolah, lalu mendatangi kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Bengkulu, menyampaikan protesnya. Hal itu membuat para siswa dan orang tua wali murid yang baru tiba di sekolah kebingungan . Karena, tak ada para guru yang menyambut mereka.

“Tadi Bu Guru pada pergi semua. Kami disuruh masuk sama Pak Ardi dan disuruh membuat karangan, ”
ungkap Dwi, salah seorang siswa SDN 18. Salah seorang wali murid yang juga Pengurus Komite Maladi menuturkan, kecewa dengan aksi guru yang terjadi diawal masuk sekolah. Terlebih aksi terjadi karena kurang harmonisnya hubungan guru dan kepala sekolah telah berlangsung cukup lama.

“Aksi ini sudah berlarut dan ini terjadi karena tidak sinerginya antara guru dan kepala sekolah, dan ini
meresahkan anak-anak yang mau belajar, ” katanya.

Dijelaskan Maladi, aksi protes dewan guru sudah berlangsung tiga kali. Dewan guru sudah melayangkan surat ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, namun belum ada tindak lanjutnya. Ketidakharmonisan antara guru dan kepala sekolah memuncak setelah guru olahraga dipindahkan kepala sekolah. Mutasi guru olahraga itu membuat guru lainnya resah. Mereka kemudian beramai-ramai menuntut kepala sekolah dipindahkan.

Pantauan Bengkulu Ekspress di lokasi sekitar pukul 07.30 WIB, dewan guru yang terdiri 7 guru PNS dan 8 guru honorer SDN 18 hampir seluruhnya tidak betada di sekolah sebagaimana mestinya.

Dewan guru diduga menolak mengajar di SDN 18. Mereka hanya datang sebentar ke sekolah untuk berkumpul saja, lalu meninggalkan sekolah menuju kantor Dinas Dikbud Kota Bengkulu, di kawasan Jalan Mahoni.

Akibatnya sekolah pun menjadi lengang. Sejumlah wali murid beserta siswa baru yang baru tiba di sekolah setelah para guru pergi sempat bingung melihat di sekolah itu tak ada aktifitas persiapan upacara bendera sebagaimana seharusnya. Akibatnya siswa hanya bermain dengan berkumpul atau duduk-duduk di teras ruangan kelas.

Kemudian datanglah sang Kepala Sekolah Frater Netti. Dia dibantu suami dan anaknya mengumpulkan siswa untuk masuk ke kelas. Kemudian siswa/siswi diberikan tugas mengarang kemudian ditinggal.

Sekitar pukul 09.00 WIB, belasan guru SDN 18 kembali ke sekolah. Tak lama kemudian tim Dinas Dikbud tiba. Mereka terdiri dari bagian keuangan, kepegawaian, dan pengawas. Tim memediasi gejolak yang terjadi antara guru dan kepala sekolah itu. Pertemuan di ruang guru berlangsung cukup lama.

Kabar adanya aksi guru SDN 18 itupun sampai ke kepolisian. Kapolsek Ratu Agung Iptu Todo Rio dengan berpakaian seragam lengkap datang meninjau lokasi. Ia kemudian masuk dalam ruang guru sekaligus memberikan arahan pada dewan guru.

“Kehadiran kita untuk melihat, mendengar sendiri dan memberikan imbauan atas dugaan yang harus diperbaiki, supaya bisa memperlihatkan nilai pendidikan dalam segala kalangan,” katanya.

Usai pertemuan itu, Iptu Todo Rio meminta agar guru, kepala sekolah dan Dinas Dikbud Kota Bengkulu
menjalankan hak dan kewajibannya.

Salah seorang perwakilan guru yang enggan menyebutkan identitasnya menegaskan, aksi yang dilakukan diduga karena sikap arogansi kepala sekolah. Baru-baru ini Kepala sekolah Frater Netti diduga telah memutasikan seorang guru Eko Oktanti ke sekolah lain, serta memberhentikan 4 orang guru honorer. Hal seperti ini juga sebelumnya pernah terjadi setelah pra ujian sekolah, namun telah ada mediasi, tapi aspirasi tidak dipenuhi.

“Permasalahan ini bukan hanya seorang guru, tapi sudah mengancam para guru. Aksi kali ini menuntut
mengganti kepala sekolah dan mengembalikan guru olahraga agar tetap mengajar di sekolah ini. Kami akan tetap mogok ngajar hingga aspirasi dipenuhi,” ucapnya.

Kepala SDN 18 Frater Netti saat dikonfirmasi enggan berkomentar. Ia menuturkan, tak tahu apa masalah yang dituduhkan dewan guru kepada dirinya, dan meminta media mengklarifikasi ke Dikbud kota Bengkulu.

“Saya tidak tahu soal apa, silahkan konfirmasi ke Dikbud Kota Bengkulu,” tukasnya.

Usai menggelar rapat mediasi, Dinas Dikbud dipimpin Koordinator Pengawas (Korwas) Drs Anwar Baudin MPd, menolak memberikan penjelasan pada media. Ia pun menyerahkan sepenuhnya pada kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kota Bengkulu Dra Rosmayetti MM.

Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan Minarni SPd saat dikonfirmasi Bengkulu Ekspress mengatakan, tuntutan dewan guru melengserkan kepala sekolah. Juga meminta guru yang dimutasi tetap mengajar di sekolah lama. Dinas Dikbud telah menurunkan tim dari berbagai bidang mulai kepegawaian, keuangan dan pengawas apapun hasilnya disampaikan pada atasan.

Diakui mutasi yang dilakukan kepala sekolah Freter Netti diluar dugaan Dinas Dikbud. Pasalnya surat keputusan (SK) yang dikeluarkan Badan Kepegawaian Daerah Kota Bengkulu tanpa melalui analisis dan usulan dari Dikbud ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Bengkulu. Saat ini kepala sekolah tersebut, masih dievaluasi. Ia meminta agar proses kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat berjalan kondusif. (247)