Sekeluarga Diserang DBD

DBD
Erna (55) dan Meli (27), penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) saat menjalani perawatan di RS Bhyangkara, Kota Bengkulu, kemarin (5/5). (Foto CARMINANDA/BE).

BENGKULU, BE – Masyarakat Kota Bengkulu saat ini harus waspada dengan wabah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Pasalnya, hingga kemarin (5/5) sudah 9 orang warga Kelurahan Sawah Lebar Baru terpaksa menginap di rumah sakit lantaran menderita DBD.

Parahnya lagi, 5 diantara 9 orang yang dinyatakan positif DBD itu merupakan satu keluarga.

Zuliani (34), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di jalan Merawan, RT 28, RW 7, Kelurahan Sawah Lebar Baru, Kecamatan Ratu Agung saat disambangi BE di Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Bengkulu kemarin (5/5) mengungkapkan, sejak akhir April lalu, sebanyak 5 orang anggota keluarganya sudah dinyatakan positif DBD.

Bahkan, saat ini anak keduanya, Nanda (12), adiknya Meli (27), dan ibunya Erna (55) masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit Bhayangkara. Untuk Meli dan Erna dirawat di satu ruang yang sama, sementara Nanda dirawat di ruang terpisah.

Zuliani menceritakan, selama 3 hari berturut-turut dia harus membawa anggota keluarganya untuk dirawat di RS Bhayangkara. Pada awalnya pada Senin (1/5) lalu ibunya Erna (55) dirawat ke RS Bhayangkara. Setelah itu, keesekan harinya, adiknya Meli (27) menyusul juga dirawat di RS Bhayangkara. Keesokan harinya lagi, anak keduanya Nanda (12) juga harus dirawat di RS Bhayangkara.

“Yang pertama masuk rumah sakit itu ibu duluan, setelah itu baru adik saya, dan menyusul anak saya. Padahal, waktu hari pertama ibu saya dirawat itu adik saya malamnya ikut menjaga ibu di rumah sakit. Tetapi besoknya badannya jadi panas tinggi dan langsung juga dibawa ke rumah sakit,” tuturnya.

Sedangkan sebelumnya, seorang anggota keluarganya yang lain yaitu Desi (26) juga baru saja selesai dirawat di RSUD Kota Bengkulu. Sedangkan, adik perempuannya yang lain, Elita (26) saat ini sedang mengalami sakit demam panas tinggi, namun hanya dirawat di rumah saja. Kemungkinan, Elita juga terserang DBD.

“Di rumah masih ada adik saya yang satu lagi sedang sakit. Panas badannya tinggi sekali. Tetapi belum bibawa ke rumah sakit,” imbuhnya.

Tidak hanya anggota keluarganya saja, tetangga di sekitaran rumah Zuliani pun juga ada yang saat ini masih dirawat di rumah sakit. Selain itu sudah ada juga yang sedang menjalani rawat jalan di rumah. Para tentanggnya itu adalah Balqis Sahara (49), Riswin (40), anaknya Riswin (12), dan Mak Med (40).

Untuk kondisi ibunya Erna (55), Zuliani mengatakan, pada awalnya Erna mengalami demam panas tinggi selama 1 minggu, kemudian dibawa ke dokter praktek dan dilakukan cek darah. Dari hasil cek darah itu lah kemudian diketahui bahwa Erna positif DBD. Oleh doker praktek itu kemudian dirujuk harus dirawat di rumah sakit.

Berdasarkan pantauan BE di RS Bhayangkara, kondisi Erna dan Meli saat ini hanya mampu terbaring lemah dikasur saja. Terlihat raut pucat diwajah mereka.

Zuliana mengatakan, berdasarkan hasil cek dari dokter diketahui bahwa trombosit atau sel darah putih keduanya saat ini sekitar 50 ribu. Sementara, normalnya trombosit manusia di sekitaran angka 150 ribu.

“Dokter bilang kemarin trombositnya masih rendah. Untuk itu harus menjalani perawatan dan belum boleh pulang,” bebernya.

Tidak Pernah Difogging

Terkait banyaknya anggota keluarga dan warga lingkungan sekitar tempat tinggalnya yang terkena DBD, Zuliani mengatakan, bahwa kondisi tempat tinggal mereka termasuk tempat yang bersih. Hal itu disebabkan masyarakat sekitar sering melakukan gotong royong.

Akan tetapi, daerah sekitaran rumah mereka itu sama sekali tidak pernah dilakukan penyemprotan fogging untuk mengusir nyamuk aedes aegyti.

“Kalau fogging kami sama sekali belum pernah. Selama ini petugas itu hanya menyemprot didaerah sawah lebar yang didepan. Sementara daerah kami yang dibelakang ini tidak pernah,” bebernya.

Untuk itu dia berharap kedepan, Pemerintah Kota Bengkulu, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bengkulu lebihmemperhatikan lagi daerah mereka. Terutama saat ini sudah banyak sekali warga sekitar yang terkena DBD.

Hingga April, 137 Orang Penderita

Sementara itu, Walaupun sudah banyak dilakukan pencegahan terhadap penyakit DBD) hal tersebut tidak serta merta membuat orang bebas terserang penyakit tersebut. Dinas Kesehatan Kota Bengkulu mencatat 137 warga terserang wabah DBD selama Januari-April 2017.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu Alzan Sumardi SSos mengatakan, pada Januari 2017 masyarakat yang terserang wabah DBD tercatat sebanyak 60 kasus dan Februari 2017 sebanyak 34 kasus sementara pada Maret didata 22 kasus dan pada April 2017 sebanyak 19 kasus DBD.

“Kita bersyukur tidak ada korban jiwa seperti tahun sebelumnya, dan jumlah kasus kali ini juga lebih rendah,” ungkap Alzan, kemarin (5/5).

Dijelaskannya bahkan saat itu Kota Bengkulu sudah tidak ditetapkan sebagai daerah kejadian luar biasa (KLB) DBD, karena kasus orang meninggal akibat wabah DBD tidak ada untuk di Kota Bengkulu. Pasca KLB yang terjadi beberapa tahun yang lalu membuat Dinas Kesehatan Kota Bengkulu berupaya melakukan pencegahan dini yakni dengan menggiatkan beberapa program seperti Jumat bersih serta merealisasikan program juru pemantau jentik atau jumantik.

“Kita pasang stiker pengawasan apakah ada jentik nyamuk atau tidak, kemudian warga saling mengawasi dan terbukti pada periode ini kasus serangan DBD turun drastis,” jelas Alzan.

Selain itu, Alzan berharap walaupun kasus orang meninggal akibat DBD tidak ada masyarakat diminta peduli terhadap kebersihan lingkungan dengan menerapkan program “3M plus”, yakni menguras tempat penampungan air, mengubur barang bekas yang bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk, menutup wadah penyimpanan air, memantau jentik nyamuk, serta menjaga kondisi agar selalu prima.

“Kita bersyukur meski angka penderita DBD pada dari bulan ke bulan mengalami penurunan sejak Januari hingga April 2017 dan tidak sampai menelan korban jiwa karena cepat mendapatkan perawatan medis,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi meningkatnya korban DBD di Bengkulu, Dinkes Kota Bengkulu sudah melakukan fogging atau pengasapan di daerah yang sudah ditemukan korban DBD. Hal ini dilakukan agar korban DBD di daerah setempat tidak bertambah lagi.

“Selain itu, dengan dilakukan fogging nyamuk aedes aegypti tidak berkembang biak dengan cepat di daerah tersebut,” tambahnya.

Selain itu Alzan mengimbau agar warga menutup genangan air yang ada di sekitar tempat tinggal. Sebab, genangan air merupakan tempat nyamuk penyebab DBD berkembang biak. Apalagi pada musim hujan nyamuk ini akan sangat cepat berkembang biak.

“Karena itu, jika ada genangan air di sekitar rumah segera diatasi. Demikian pula kaleng bekas dan tumpukan sampah yang ada di sekitar tempat tinggal agar dibersihkan atau dibakar,” jelas Alzan.

Dengan demikian, tidak menjadi sarang nyamuk penyebab DBD. Belum ditambah lagi sekarang ini intensitas hujan di Bengkulu, masih tinggi sehingga potensi nyamuk penyebab DBD untuk berkembang biak cukup tinggi. “Karena itu, tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk harus dibersihkan agar tidak terkena DBD,” tutupnya.(311/999)